Tuesday, December 12, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Melindungi Harta; Selalu Bekerja Mencari Nafkah

Sebagaimana yang telah kami sampaikan sebelumnya bahwa Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan pekerjaan. Bekerja, sebagai bagian dari amal shalih yang dapat menuntun manusia menuju jalan yang diridhai Allah saw. Dalam al-Quran, banyak sekali perintah untuk bekerja dengan menggunakan fiil amr atau kata perintah. Di antaranya adalah firman Allah berikut ini:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Maka apabila shalat telah selesai dikerjakan, bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah rezeki karunia Allah”. [Al Jumu’ah : 10]

Kata perintah itu, oleh ulama ushul bermakna wajib dikerjakan, manakala tidak ada indicator atau qarinah yang memalingkan dari
Kaedah ushul:

الامر يفيد الوجوب الا اذا صرفته قرينة تدل علي خلافه
Kata perintah, dalam ushul fikih bermakna wajib dan harus dijalankan. Kecuali njika dalam kata perintah itu, terdapat indikasi yang memalingkan makna ayat terhadap arti lainnya.

Allah sendiri tidak menilai seseorang dari hasil yang dikerjakan, karena hasil sesungguhnya adalah wewenang Allah yang Maha Kuasa. Manusia hanya diperintahkan untuk bekerja saja. Allah tidak akan melihat hasil seseorang, namun yang dilihat adalah sejauh mana orang tersebut berusaha dan bekerja.

Kelak di akhirat, yang akan diperlihatkan kepada manusia dan tercatat secara rapi di rapotnya adalah usaha dan pekerjaan yang dia lakukan di dunia. Perhatikan firman Allah:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖوَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. At-Taubah: 105)

Bekerja bukan saja perintah bagi kita. Nabi pun, meski memiliki kedudukan sangat mulia di sisi Allah, tetap diperintahkan untuk bekerja. Perhatikan ayat berikut ini:
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا
“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami ..” [Hud : 37].

Allah memerintahkan kepada nabi Nuh, untuk membuat perahu. Nabi Nuh bersusah payah mencari kayu, memotongnya, memahat, menata dan menyusunnya hingga menjadi sebuah perahu besar. Hal itu dilakukan hingga berhari-hari dan berbulan-bulan. Dalam pekerjaannya itu, ia dicaci dan dihina oleh kaumnya yang tidak mau beriman. Nabi Nuh as membuat perahu di kampung halamannya yang jauh dari pesisir pantai. Namun, ini adalah perintah. Maka Nabi Nuh as menjalankan perintah Allah dengan penuh kesabaran.

Nabi Daud juga bekerja. nabi Daud as makan dari hasil jerih payahnya sendiri. Perhatikan sabda nabi Muhammad saw berikut ini:

إِنَّ دَاوُدَ النَّبِيَّ كَانَ لاَ يَأْكُلُ إِلاَّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Sesungguhnya Nabi Daud tidak makan kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri”. (HR. Bukhari)

Nabi Daud as diperintahkan membuat baju besi guna memperkuat kekuatan militer Bani Israel. Jadi, Allah tidak serta merta menolong Ban Israel, namun memerintahkan mereka untuk melindungi diri sendiri dengan melakukan berbagai sarana yang kiranya dapat menopang kekuatan militernya. Perhatikan firman Allah berikut ini:

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ.
“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperangan; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)”. (QS. Anbiya’: 80).
Juga firman Allah berikut ini:

… وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ. أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“… dan Kami telah melunakkan besi untuknya (yakni Daud); (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang shalih. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Saba’: 10-11).

Perhatikan sabda nabi Muhammad saw berikut ini:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَاماً قَطْ خَيْراً مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ .

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari memakan hasil jerih payahnya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud makan dari hasil jerih payahnya sendiri”. (HR Bukhari)

Nabi zakariya, seorang pedagang. Perhatikan hadis riwayat muslim berikut ini:
زَكَرِيَّا نَجَّاراً .
“Zakariya Alaihissallam dulu adalah seorang tukang kayu”. (HR Muslim)
Nabi Muhammad bekerja:

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيّاً إِلاَّ رَعَى الْغَنَمَ ، فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ ، فَقَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ . رواه البخاري.
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan pernah menggembala kambing.” Para sahabat bertanya,”Dan engkau sendiri?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Ya, aku juga dulu menggembalakan (kambing-kambing) milik penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath.” (HR Al Bukhari)

Dalam hadis pun, banyak diceritakan mengenai para sahabat yang gemar bekerja. di antaranya adalah kisah sahabiyat berikut ini:

وَكَانَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةً صَنَّاعَةَ الْيَدِ، فَكَانَتْ تَدْبَغُ وَتَخْرِزُ وَتَصَدَّقُ فِي سَبِيلِ اللهِ . أخرجه الحاكم (4/26) وقال: هذا حديث صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه.

“Dan Zainab adalah wanita pengrajin tangan, ia menyamak kulit dan melobangi (serta menjahit)nya untuk dibuat khuf atau lainnya. Lalu ia bershadaqah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR Al Hakim).

Allah memerintahkan kita untuk beribadah mengejar akhirat, namun juga mengingatkan agar kita tidak lalai dengan mencari penghidupan dunia. Firman Allah:

وَابْتَغِ فِيْمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَآ أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأَرْضِ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash : 77)

Hal ini dikuatkan dengan hadis nabi Muhammad saw:

لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لِأَخِرَتِهِ وَلَا آخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتَّى يُصِيْبَ مِنْهُمَا جَمِيْعًا فَإِنَّ الدُّنْيَا بَلَاغٌ اِلَى الْأَخِرَةِ وَلَا تَكُوْنُوْا كَالًّا عَلَى النَّاسِ

“Bukanlah tergolong orang yang terbaik di antara kamu, yaitu orang yang meninggalkan dunia untuk mengejar kebahagiaan akhirat. Juga tidak pula orang yang meninggalkan akhirat untuk mengejar kebahagiaan dunia. yang terbaik adalah dia bisa mencapai kedua-duanya, sebab sesungguhnya dunia adalah sarana menuju kebahagiaan akhirat dan janganlah kamu sekalian menjadi orang yang memberatkan (beban) orang lain.” (HR. Ibnu Asakir)

Begitu mulianya bekerja, bahkan ia mampu menggugurkan dosa. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ اَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ اَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ

“Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu diampuni dosa baginya.” (HR. Thabrani)

Hal ini, karena bekerja menjadi awal kebangkitan peradaban umat manusia. Dengan bekerja, manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Tentu saja bekerja sesuai dengan yang digariskan oleh hukum syariat. Bekerja yang halal, tidak mencuri, tidak merampok, tidak melakukan manipulasi, transaksi riba dan lain sebagainya. bekerja, menjadikan seseorang memiliki izzah dihadapan manusia, dan juga mendapatkan penghargaan dari sisi Allah swt. Wallahu alam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open