Friday, February 23, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Melindungi Akal: Menghindari Pornografi


Sebagaimana telah kami sampaikan sebelumnya bahwa Islam sangat menjaga akal manusia karena sebagai tempat taklif. Aagar supaya akal tetap sehat dan terjaga, maka Islam juga mengharamkan pornografi dalam bentuk apapun. Islam mengharamkan seseorang untuk melihat, atau membaca atau melakukan hal-hal yang menjurus pada tindakan pornografi. Hal ini karena Islam menginginkan masyarakat yang jernih dan bersih.

Pornografi adalah candu yang membahayakan otak manusia. Ia dapat menjadikan seseorang berkhayal dan sakau. Ia dapat menjadikan seseorang melakukan perbuatan asusila yang tidak dikehendai agama dan tatanan etika masyarakat. Lebih dari itu, ia menjadikan seseorang tidak produktif.

Lebih jauh lagi, pornografi dapat menyebabkan perbuatan sangat keji berupa perzinaan dan kejahatan pemerkosaan. Agar hal itu tidak terjadi, Islam melarang dari awal langkah-langkah prefentif agar seseorang tidak sampai terjatuh pada sikap tadi.

Sesungguhnya perbuiatan zina sangat keji. Islam bukan saja melarang zina, namun juga melarang segala sesuatu yang dapat mendekatkan seseorang kepada perbuatan zina. Firman Allah:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isro’: 32)

Agar seseorang tidak terjatuh kepada perbautan zina, atau mendekati zina, Islam memberikan beberapa langkah sebagai berikut:

1. Menjaga pandangan
Di antaranya adalah dengan memerintahkan setiap orang mukmin untuk menjaga pandangannya. Mata adalah anak panah pertama yang membidik sesuatu. Jika mata tidak dikendalikan dengan baik, maka dapat terjatuh pada zina mata dengan melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allah.

Terkait menjaga pandangan ini, Allah berfirman:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’’(QS. An-Nur: 30-31)

Terkait zina mata ini, Rasulullah saw bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَالرِّجْلَانِ تَزْنِيَانِ وَالْفَرْجُ يَزْنِي”.)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud bahwa Nabi Saw bersabda: “Kedua mata berzina, kedua kaki berzina dan farji (alat kelamin) juga berzina” (HR Ahmad)
2. Menutup aurat
Islam juga memerintahkan kepada setiap muslim untuk menutup auratnya. Sebagaimana maklum bersama bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Hal ini karena seorang laki-laki, akan mudah terperdaya dan terbawa hawa nafsu dengan melihat lekuk tubuh wanita. Bahkan barangkali, rambut wanita saja, bisa menjadikan seseorang berkomentar dan berfikir negatif.
Sementara untuk aurat laki-lai, dari pusar hingga lutut. Tempat ini harus dijaga dan ditutupi. Tidak diperkenankan siapapun melihat aurat laki-laki atau perempuan kecuali mereka yang sudah para maharim yang sudah dituliskan secara terang oleh Allah dalam kitab sucinya.

احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ
“Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kau miliki.” (HR. Tirmidzi, no. 2769; Abu Daud no. 4017. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ
“Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Janganlah seorang laki-laki berada dalam satu selimut dengan laki-laki lain. Janganlah pula pula seorang wanita berada satu selimut dengan wanita lain.” (HR. Muslim, no. 338)

Terkait kewajiban menutup aurat ini, Rasulullah saw bersabda:

يا أسماء، إن المرأة إذا بلغت المحيض، لم يصلح أن يرى منها إلا هذا

“Wahai Asma’, perepuan itu jika sudah samapai umurnya, maka tidak ada yang boleh terlihat dari anggota tubuhnya kecuali ini (lalu ROauls SAW menunjuk muka dan kedua telapak tangan)”

Terkait batasan aurat, Rasulullah juga bersabda:

وَإِذَا زَوَّجَ أَحَدُكُمْ عَبْدَهُ أَمَتَهُ أَوْ أَجِيْرَهُ فَلَا يَنْظُرُ إِلَى مَا دُوْنَ السُّرَّةِ وَفَوْقَ الرُّكْبَةِ فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى الرُّكْبَةِ مِنَ الْعَوْرَةِ

Nabi Saw bersabda: “Jika kalian menikahkan budak laki-laki dengan budak perempuan, atau buruh kerja, maka janganlah melihat ke anggota tubuh di bawah pusar dan diatas lutut. Sebab hal itu adalah aurat” (HR ad-Daruquthni)

bersambung…

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open