Sunday, January 17, 2021
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Melindungi Agama

unduhandfsa

Bahasan Pertama

Melindungi Agama

Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa maqashid syariah dibagi menjadi tiga, dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat. Dharuriya dibagi menjadi lima, yaitu melindungi agama, jiwa, akal, harta dan keturunan. Dharuriyat ini sangat esensi dan sensitive. Jika salah satu dilanggar, maka akan merusak tatanan masyarakat. Bukan hanya itu, pelanggaran terhadap daruriyat itu dapat menimbulkan ketidakstabilan dan mungkin perang berkepanjangan. Ia adalah lima hal esensi dan darurat bagi kehidupan umat manusia.

 

Bagian pertama dari lima hal tadi adalah menjaga agama. Umumnya para ulama meletakkan perlindungan agama di urutan nomor satu. Hal ini karena agama sangat esensial dan fital bagi kehidupan umat manusia. Agama yang akan menjamin kesuksesan manusia baik di dunia dan di akhirat.

 

Agama mengatur prilaku kehidupan umat manusia, baik terkait interaksi dengan Tuhan, sesama manusia, binatang, lingkungan bahkan alam raya. Agama yang meletakkan tata nilai kehidupan manusia agar tetap harmonis. Agama yang memberikan ketenangan, kedamaian, rasa aman dan ketenteraman dalam diri setiap manusia. Agama yang akan mengisi nilai spiritual manusia agar tidak hampa dengan kehidupan dunia yang materialistik.

 

Lantas apakah yang disebut dengan agama? Agama secara bahasa berasal dari kata دان  seperti kata من دان له ودان به ويدينه اي ملكه وحكمه وساسه وقهره

Maksudnya agama adalah sesuatu yang memberi kuasa, kepemilikan atas sesuatu, atau aturan atas sesuatu.

Firman Allah:

مالك يوم الدين

Yang Menguasai di Hari Pembalasan

Kata ad-Din di sini maknanya adalah kekuasaan, pembalasan, ganjaran, seperti layaknya para raja. Dalam sebuah hadis nabi disebutkan:
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بعدَ المَوتِ ، والعَاجِزُ مَنْ أتْبَعَ نَفْسَهُ هَواهَا وَتَمنَّى عَلَى اللهِ الاَمَانِيَّ

Artinya: “Orang yang sempurna akalnya ialah yang menguasai dirinya dan bersedia beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Disamping itu, ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).

Kata دَانَ  dalam hadis tersebut maknanya adalah menguasai dan mengendalikan diri. Ad-din maknanya juga bisa hakim di pengadilan. دَانَ . Ia bisa bermana mengikuti atas sesuatu atau keyakinan atas sesuatu.

 

Secara istilah, menurut Muhammad Abdullah Darraz, agama (الدين adalah aturan Tuhan yang ditujukan kepada manusia yang mempunyai akal sehat, demi kemaslahatan manusia dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Dikatakan bahwa agama merupakan aturan Tuhan, artinya agama tidak ada kaitannya dengan aturan yang dibuat manusia. Agama murni datang dari Allah. Dikatakan bahwa agama diturunkan untuk manusia yang berakal sehat, karena mereka yang tidak mempunyai akal sehat, seperti orang gila, mereka tidak terkena beban dan aturan Tuhan. Demi kemaslahatan manusia dalam kehidupan di dunia dan akhirat artinya bahwa agama akan menjadi sebuah sarana bagi umat manusia untuk mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu tatkala manusia masih ada di dunia dan kelak setelah manusia menghadap Allah swt.

 

Ini artinya bahwa agama ardhi atau agama-agama buatan manusia tidak masuk dalam definisi agama. Agama ardhi tidak dapat menjadi sarana kebahagiaan manusia kelak di akhirat dan kadang sebagian agama buatan manusia mempunyai aturan yang mempersulit kehidupan umat manusia ketika masih hidup di dunia. Seringkali agama ardhi ini tidak sesuai dengan fitrah manusia, sementara agama Allah selalu sesuai dengan fitrah manusia. Firman Allah:

 

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

 

Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (QS. Ar-Ruum : 30-31)

 

Jadi yang dimaksudkan agama di sini adalah agama samawi yang dibawa oleh para nabi hingga nabi terakhir Muhammad saw. Setelah ditutupnya para nabi dengan kehadiran khatamul anbiya wal mursalin Nabi Muhammad saw, maka agama samawi sebelum nabi Muhammad saw dianggap mansuh (terhapus). Mereka semua harus mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. Jika tidak, maka mereka dianggap inkar terhadap ajaran agama. Bahkan mereka dianggap ingkar terhadap wasiat nabinya. Hal ini karena Nabi sebelum Islam, seperti Nabi Isa pernah memberikan sawiat kepada pengikutnya agar ketika adatang nabi terakhir, mereka mengikuti Nabi Muhammad saw. Perhatikan firman Allah berikut ini:
{وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (As-Shoff;6).

Nama Nabi Muhamamd saw sendiri terlah tertulis di dalam kitab Taurat dan Injil. Bahkan secara jelas diberitakan mengenai ciri-ciri nabi terakhir tersebut. Tujuannya adalah bahwa ketika Nabi Terakhir telah tiba, hendaknya mereka mengikuti nabi Muhammad saw. Firman Allah:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al A’raf: 157)

Makat tidak heran tatkala nabi Muhammad datang, al-Quran selalu memerintahkan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasarani untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. Al-Quran meminta kepada Nabi Muhammad saw agar melakukan dialog dan dakwah kepada mereka dengan cara yang terbaik. Tentu saja, supaya mereka mau memeluk agama Islam dan mengikuti ajaran nabi Muhammad saw. Perhatikan firman Allah berikut ini:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka, dan Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepadaNya berserah diri”. [al Ankabuut:46].
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun, dan tidak (pula) sebagian menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka : “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [Ali Imran : 64].

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَى مَا تَعْمَلُونَ  ()قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” (QS. Ali Imran: 98-99).

 

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ

 

Katakanlah: “Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?” (QS. Al-Maidah: 59)

 

Jadi ketika kita mengatakan mengenai agama dalam ilmu maqashid, maksudnya adalah agama Islam. Agama lain selain Islam, meski ia sebagai agama samawi, dinafikan karena telah mansuh dengan kedatangan nabi Muhammad saw. Agama yang sah dan layak untuk diikuti hanyalah Islam sebagaimana firman Allah:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ

Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Al Imran: 19)

Ia juga berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al Imran: 85)

 

================
Telah dibuka pendaftaran Pondok Almuflihun untuk Tahfez dan Ngaji Turas Islam. Informasi lebih lanjut, hubungi Ust Toyib Arifin (085868753674). Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ten + eleven =

*