Tuesday, November 13, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Mari Kita Hormati Persoalan Khilafiyah

Beberapa waktu, di group fb Muhammadiyah Islam , ada diskusi yang sangat menggelitik. Seseorang yang tidak pernah mengenal Muhammadiyah, tidak tau tentang konsep ijtihad Muhammadiyah, tidak pernah bersentuhan dengan produk-produk yang dihasilkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, tiba-tiba saja menuduh Muhammadiyah sebagai wahabi. Alasannya pun sangat sederhana, karena Muhammadiyah tidak melafalkan niat shalat.

Bagi yang terbiasa dengan kitab kuning, sesungguhnya persoalan niat shalat sudah selesai sejak ratusan tahun lalu. Persoalan niat sudah banyak di tulis di buku-buku fikih dari semua madzhab. Prinsipnya niat wajib dilakukan dan letaknya dalam hati. Sementara untuk lisan, boleh dilafalkan untuk membantu apa yang terpintas dalam hati. Tidak ada satu pun ulama yang mengatakan bahwa lafal niat shalat hukumnya wajib dan tidak sah shalat atau amalan seseorang tanpa ada pelafalan niat.
Terkait niat ini, bersandar dari sabda rasulullah saw berikut ini:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Hadis di atas sifatnya umum, mencakup seuruh amal perbuatan tanpa terkecuali. Selama tidak ada sesuatu yang mentakhsis hadis di atas, maka ia tetap berlaku umum. Kaedah yang umu digunakan adalah:
بقاء العام من النصوص على عمومه مالم يدخله التخصيص
Artinya: Nas yang bersifat umum, tetap berlaku umum selama tidak nas lain yang memberikan takhsis

Niat menjadi sangat penting, karena ia yang dapat membedakan antar semua persoalan. Dalam kitab ihya ullumuddin, imam Ghazali banyak mengupas persoalan niat ini. Menurut beliau, ibadah dunia atau akhirat, dapat ditentukan oleh niat. Seseorang yang shalat dengan niat ria, maka ia hanya akan mendapatkan pahala ria di dunia. Sementara di akhirat tidak mendapatkan pahala shalat. Ia bahkan dapat masuk neraka karena niatnya yang salah tersebut.

Dalam ushul fikih, niat tidak hanya berimplikasi pada persoalan diterima atau tidaknya amal perbuatan. Niat juga mempunyai implikasi hokum dalam persoalan yang terkait dengan interaksi antar sesame manusia. Seseorang yang membunuh, satu karena sengaja dan satu lagi tidak sengaja, hukumannya tidak sama. Pembunuh sengaja dapat dijatuhi hukuman qishash, sementara pembunuh tidak sengaja harus membayar diat. Kaedah yang sangat terkenal di ushul fikih adalah sebagai berikut ini:
الامور بمقاصدها
Segala sesuatu itu, bergantung kepada niatnya.

Meski niat ada dalam hati, namun niat dapat diketahui melalui indikator yang ada pada diri seseorang. Indicator itu yang akan dijadikan sebagai pegangan bagi pengadilan untuk memberikan ketetapan hukum.

Misal, seseorang membunuh rekannya. Di depan pengadilan, ia ngotot membunuh orang lain tidak sengaja. Jika benar apa yang ia akui itu, maka ia akan membayar diyat dan lepas dari hukuman qishash. Namun ternyata di sana ada indicator lain, yaitu berupa barang bukti yang sangat kuat, seperti CCTV, saksi, berbagai barang bukti yang nampak dan lain sebagainya. Dengan indikator kuat ini, meski ia ngotot tidak mengakui perbuatannya dan menyatakan bahwa ia tidak sengaja membunuh, maka pengakuannya dianggap gugur dengan barang bukti yang ada. Pengadilan tetap dapat menjatuhkan hukuman qishash. Di sini ada kaedah lain untuk membuktikan niat seseorang itu, yaitu:
إنما أقضي بالظاهر والله يتولى السرائر
Artinya: Hanya saja, saya menetapkan hukum dengan yang Nampak, sementara Allah mengurusi yang tersembunyi.

Kaedah di atas, di antaranya bersumber dari hadis berikut ini:

إنكم تختصمون إلي ولعل بعضكم ألحن بحجته من بعض فمن قضيت له بحق أخيه شيئا بقوله فإنما أقطع له قطعة من النار فلا يأخذها.

Sesungguhnya kalian berselisih kepadaku, mungkin sebagian kalian lebih fasih argumentasinya dari sebagian yang lain. Barangsiapa yang telah aku putuskan perkaranya, dengan memiliki hak saudaranya dengan ucapanya, maka sesungguhnya aku putuskan baginya sepotong api neraka, maka jangan mengambilnya.

Semua ulama sepakat bahwa niat terletak dalam hati. Sementara niat yang diucapkan dengan lisan, diperbolehkan sekadar untuk membantu ketetapan hati. Namun yang paling menentukan adalah hati. Meski lisan berucap dengan niat yang benar, namun hati salah, maka yang dihitung adalah hati. Misal seseorang niat shalat zhuhur. Lisannya mengucapkan niat shalat asar, namun yang dimaksudkan dalam hatinya sesungguhnya adalah zhuhur, hanya lisan salah ucap. Jika terjadi seperti ini, yang dianggap adalah apa yang ada dalam hati.

Niat sendiri, oleh ulama didefinisikan sebagai berikut:
قصد شيء مقترنا بفعله
Niat melakukan sesuatu, yang dibarengi dengan amal perbuatan. Semisal orang bertakbir untuk melakukanshalat zhuhur, ketika dia takbir, secara otomatis ia dianggap telah berniat shalat zhuhur. Ketika seseorang mau puasa, dalam hatinya dia bilang, “Ah, besok senin mau puasa ah”, meski niatnya hanya dalam hati, dan esoknya ia puasa, maka ia dianggap berpuasa.

Jadi ada kesepakatan bersama di antara para ulama yaitu:
Pertama, niat tempatnya di hati.
Dua, lisan boleh mengucapkan untuk memantapkan hati.
Tiga, niat dapat membedakan antar berbagai amal perbautan
Empat, niat bukan saja punya implikasi dalam persoalan ibadah, namun juga dalam persoalan muamalah dan jinayat

Persoalan niat sesungguhnya telah using. Tidak layak seseorang menuduh kelompok lain sebagai wahabai, hanya karena tidak melafalkan niat dalam shalat. Lebih baik kita bersatu dalam hal yang sudah kita sepakati bersama, dan biarlah persoalan khilaf fikih mengalir apa adanya. Toh antar sesama ulama, sama-sama punya sandaran hukum. Sangat naïf, saat bangsa lain maju pesat dalam berbagai ranah keilmuan dan tegnologi modern, sementara umat Islam masih mempersoalkan niat shalat. Jika kita selalu membesarkan persoalan khilafiyah, lantas kapankah kita akan memulai dalam pembangunan peradaban? Idealnya, kita berijtihad atas apa yang belum pernah dilakukan oleh para ulama terdahulu. Istilah Syaih Muhammad al-Ghazali, kita memulai dari titik ahir ulama dimana kita mengahiri. Dengan ini, umat semoga Islam dapat mengejar ketertinggalan peradaban. Wallahu a’lam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open