Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Maqashidunni’mah Dalam Ushul FIkih

reui

 

Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai “utusan Tuhan”, Allah tidak membiarkan manusia begitu saja, namun manusia diberi anugerah yang sangat tinggi, yaitu akal pikiran. Akal ini pula yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah lainnya.

 

Selain itu, Allah membekali manusia dengan berbagai macam kenikmatan untuk menopang kehidupannya di muka bumi.  Manusia mendapatkan nikmat akal, hati, pendengaran, pengelihatan dan lain sebagainya.

 

Semua hewan dilautan halal dagingnya, meski ia sudah menjadi bangkai. Binatang ternak banyak yang halal. Demikian juga tetumbuhan semuanya halal, asal tidak membawa mudarat bagi manusia.  Tidak hanya sebatas itu, bahkan segala yang ada dilangit dan bumi diserahkan kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan secara baik.
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

Artinya : Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (QS. Luqman: 20)

 

Nikmat dan karunia yang diberikan Allah untuk manusia tiada batas. Sedemikian banyaknya hingga manusia tidak dapat menghitung satu persatu.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ

Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya: QS An-Nahl: 18)

 

Meski manusia ada niatan untuk membalas nikmat Allah, seumur hdup tidak akan sanggup untuk dapat membalasnya. Segala yang ada pada diri manusia, sesungguhnya adalah milik Allah. Manusia tidak mempunyai apapun, bahkan manusia tidak memiliki dirinya sendiri. Semua milik Allah. Untuk itulah mengapa manusia dilarang merusak dan melakukan segala sesuatu yang dapat membuat mudarat pada dirinya.

Lantas apa yang menjadi kewajiban manusia sehingga ia bisa berterimakasih kepada Allah? Allah tidak memberikan banyak tuntutan kepada hamba-Nya. Allah hanya ingin agar manusia bersyukur atas segala nikmat-Nya.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

Artinya:

Dan Allah mengeluarkan kamu dariperut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl: 78 )


Syukur menjadi perwujudan hamba yang mengakui eksistensi Tuhan. Syukur sebagai bukti bahwa manusia merasa lemah di hadapan Allah dan bahwa ia selalu membutuhkan Allah. Syukur mencerminkan ketawadhuan dan kerendahatian.

 

Syukur tentu bukan sekadar dengan ucapan manis dibibir dan sekadar mengucapan alhamdulillah. Syukur dilakukan dengan lisan dan amala perbuatan. Manuia yang bersyukur, selalu berterimakasih kepada Allah, dengan menjalankan segala perintahnya dan menjahui segala larangannya. Syukur bearti kita selalu “taabbud” beribadah hanya kepada Allah semata.

 

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya:

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (QS. An-Nahl: 78)

 

 

Meski bersyukur merupakan kewajiban manusia, namun Allah akan memberikan pahala bagi manusia yang bersyukur. Segala nikmat yang sudah diberikan itu, akand itambah lagi karena sikap baiknya itu.

 
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih. (QS. Ibrahim: 7)

 

Jika dilihat dari berbagai uraian ayat di atas, pemberian nikmat selalu dilanutkan dengan perintah syukur. Itu artinya, bahwa syukur ini menjadi tujuan atas pemberian nikmat tadi. Syukur menjadi “maqashidunni’mah”, yaitu tujuan kenikmatan Allah yang diberikan kepada manusia. Nikmat tadi, menjadi ujian tersendiri bagi manusia.

 

Jika tidak manusia tidak bersyukur, bearti ia telah melanggar tujuan awal dari pemberian nikmat. Pelanggaran itu tersebut tentu ada konsekwensinya, yaitu mendapatkan dosa dan siksaan. Ia telah berlaku kufur dengan nikmat Allah.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih. (QS. Ibrahim: 7)

 

Tujuan dari pemberian nikmat Allah berupa syukur inilah yang disebut ulama ushul dengan istilah maqashidunni’mah.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open