Thursday, September 20, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Maqashid Syariah Pada Masa Tabiin

Tabiin adalah generasi Islam awal setelah para Sahabat Nabi dan tidak mengalami masa hidup di zaman Nabi Muhammad. Mereka hidup mendapati masa sahabat ra. Karena mereka hidup setelah masa sahabat, maka secara usia tentu lebih muda dari para sahabat. Bahkan dari mereka, ada yang pada masa sahabat masih kanak-kanak. Namun karena mereka mendapati sahabat, maka mereka disebut dengan generasi tabiin.

Para ulama kalangan tabiin banyak belajar dari sahabat. Mereka mendengar dan melihat perilaku para sahabat. Mereka juga belajar dari sistematika ijtihad, berfatwa, mengambil riwayat hadis dan Quran dari para sahabat. Mereka juga meneladani model ijtihad maqashidi dari para sahabat.

Dalam kitab Ijtihad al-Maqashidi, Nuruddin al-Khadimi mengatakan sebagai berikut, “Dikisahkan dari para tabiin bahwa tatkala mereka menemukan suatu perkara yang tidak ada dalam nas al-Quran, maka mereka akan memutuskan perkara yang mengandung maslahat bagi hamba. Mereka juga akan menggunakan kiyas dan ijtihad dengan akal. Seperti halnya Ibrahim annakhi dari kalangan tabin yang pernah berkata sebagai berikut, “Semua hukum Allah ada tujuan, hikmah dan maslahat yang akan kembali kepada kita”.

Ibnul Qayyim dalam kitab I’lamul Muwaqqiin berkata “Agama, fikih dan ilmu menyebar luas dikalangan umat Islam generasi awal melalui sahabat Ibnu Masud, para musir dari sahabat Zaid bin Tsabit, murid Sahabat Abdullah bin Umar, dan para murid sahabat Abdullah bin Abas. Umat Islam secara umum mengetahui berbagai urusan agama dari para murid empat sahabat tersebut.
Ulama generasi tabiin mengambil ilmu pengetahuan dari para sahabat sesuai dengan kadar kemampuan mereka. Mereka menghafal hadis-hadis nabi Muhamad saw, mempelajari mazhab para sahabat dan mengumpulkan berbagai ilmu pengetahuan para sahabat dengan sepenuh hati. Mereka juga melakukan system tarjih antara satu pendapat dari pendapat lainnya. Pada ahirnya, para tabiin mendirikan mazhab sendiri secara independen dengan kecenderungan ijtihad masing masing”.

Mengenai maqashid syariah yang dilakukan oleh para ulama generasi tabiin, di antaranya dapat dilihat dari istilah ijtihad birra’yi atau ijtihad dengan akal. Biasanya yang dimaksudkan dengan ijtihad dengan akal di kalangan ulama ahli Madinah, maksudnya adalah ijtihad dengan mengedepankan sisi maslahat. JIka kita melihat ushul madzhab Maliki, yang dulu dianggap sebagai madzhabnya penduduk Madinah, di antaranya adalah maslahat mursalah, istihsan, urf, dan istislah. Keempat hal tersebut, sangat bertumpu pada sisi maslahat.

Sementara itu, di kalangan ulaa Irak, juga dikenal dengan istilah ijtihad birra’yi atau ijtihad dengan akal. Maksudnya adalah ijtihad dengan melakukan kiyas antara satu persoalan yang belum ada hukumnya secara nas dengan persoalan lain yang hukumnya telah ditetapkan oleh nas. Ijtihad dengan kiyas ini, dilakukan agar hokum Islam dapat berinteraksi dengan berbagai persoalan yang berkembang di dunia Islam. Dengan kiyas ini pula, banyak maslahat yang terkait dengan persoalan masyarakat dapat terselesaikan. (bersambung…)

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open