Tuesday, December 18, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Antara Maqashid Syariah dan Sikap Prakmatisme

U.S. Dollar banknotes are seen in this photo illustration taken February 12, 2018. REUTERS/Jose Luis Gonzalez/Illustration

 

Kerangka maqashid syariah bertumpu pada kajian induktif atas nas al-Quran dan sunnah Nabi dan menjadikan nas sebagai poros maslahat. Dengan kata lain bahwa hokum syariah yang menentukan sesuatu mengandung maslahat atau tidak. Jika suatu perbuatan dianggap haram oleh syariat, dipastikan ia tidak mengandung maslahat. Namun sebaliknya, jika suatu perbuatan diwajibkan atau dianjurkan untuk dikerjakan, maka ia mengandung maslahat.

 

Dari sana lantas akal manusia melakukan ijtihad untuk melihat sisi-sisi maslahat itu. Akal berfungsi membuat standar normative yang dapat dijadikan sebagai pijakan maslahat sesuai dengan ruh syariat. Tentu ini sesuai dengan paham Asyari yang menyatakan bahwa sesuatu yang baik, adalah yang dianggap baik. Sementara sesuatu yang buruk, adalah perbuatan yang dianggap buruk oleh hokum syariat.

 

Jadi, maslahat bukan berdasarkan penilaian subyektif dan eko pribadi semata. Karena jika ini yang dijadikan standar, maka yang terjadi adalah sikap egoisme dan individualisme. Sikap yang menganggap bahwa segala sesuatu yang menurut pribadi seseorang baik, maka ia adalah baik. Egoism dan individualism, pada ahirnya hanya akan menimbulkan sikap prakmatis dalam kehidupan. Dampak lebih jauh lagi adalah, sikap menghalalkan segala cara untuk menggapai maslahat pribadi itu.

 

Sikap prakmatis yang bermula dari egoism dan individualism ini, sudah jamak dan berkembang di masyarakat. Sikap plinplan dan sandiwara para politisi kita, sungguh cermin nyata dari egoism dan individualism itu. Mereka sangat prakmatis utamanya untuk menggapai kekuasaaan. Tidak heran jika masa pemilu, umum muncul kutu loncat dari satu partai ke partai lain. Idelogi menjadi sirna, runtuh dengan jiwa prakmatisme. Bahkan agama menjadi bahan dagangan. Kutipan ayat al-Quran dan hadis nabi, sangat mudah terlontar dari bibir para politisi, tanpa melihat konteks terhadap kandungan nas sesungguhnya.

 

Prakmatisme bukan hanya muncul di panggung politik, namun juga menjalar di masyaraka luas. Bisnis dan interkasi social, dibangun di atas jiwa prakmatis. Tidak tanggung-tanggung, travel umrah dan haji yang sesungguhnya punya proyek mulia, banyak yang terkena kasus penipuan dan berubah menjadi bagian upaya menipu masyarakat.

 

 

Itulah maslahat semu. Maslahat yang menghancurkan tatanan masyarakat. Maka korupsi dan manipulasi menjadi sebuah budaya yang sangat mengerikan. Moral tergadaikan dengan pandangan paterialis. Manusia mentuhankan dirinya sendiri dan materi. Agama dikesampingkan dan dilupakan.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open