Tuesday, November 21, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Makna Kembali ke al-Quran dan Sunnah

jyrei

 Ust. Musa Alazhar, Lc. 

Apabila kita bertanya kepada muslim manapun di muka bumi, apa pedoman hidup seorang muslim? Rasanya sulit untuk menemukan yang jawabannya bukan ‘al-Quran dan Sunnah’. Apabila kita bertanya lagi bagaimana caranya untuk memahami al-Quran dan Sunnah? Jawaban terbaik disematkan untuk kalimat, “Sesuai dengan pemahaman sahabat dan salafus salih”. Mungkin jawaban tersebut juga akan ditambah dengan hadis ’73 golongan’.

Semua muslim ingin mengambil pelajaran dari al-Quran dan Sunnah. Semua muslim berharap semua tindakannya sesuai dengan tuntunan al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman para sahabat dan salafus salih supaya amalnya diterima oleh Allah di akhirat kelak. Tekad baik yang harus diapresiasi. Hanya saja, apresiasi tidaklah cukup. Karena diterimanya sebuah amal tidak cukup bermodal amal baik.

Tekad mulia tersebut harus diberi pengarahan. Kalimat “Kembali ke al-Quran dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat dan salafus salih” hanya akan menjadi jargon semata apabila tidak diberikan penjelasan rinci bagaimana meraih pemahaman al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman para salafus salih.

Kembali ke al-Quran dan Sunnah tidak mungkin hanya dimaknai sekedar menempelkan ayat atau matan hadis tertentu dalam sebuah penjelasan hukum. Hal ini pun bisa disalahgunakan oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsu untuk menghalalkan yang diharamkan Allah atau sebaliknya.

Singkat kata, untuk meraih pemahaman al-Quran dan Sunnah sesuai dengan para sahabat dan salafus salih tidak hanya sekedar persoalan adanya ayat atau hadis. Dua komponen lain yang dibutuhkan adalah metode pemahaman ayat atau hadis dan kompetensi orang yang akan menjalani proses pemahaman terhadap ayat atau hadis.

Sebagai ilustrasi, besi, karet dan bahan-bahan lain yang ada di pabrik tidak mungkin digunakan secara asal-asalan untuk membuat sebuah mobil yang berkualitas. Ada metode tertentu yang harus dilalui. Selain itu, pelakunya pun tidak sembarangan. Haruslah seorang insiyur yang telah melewati seluruh masa pendidikan tertentu dan dinyatakan lolos kualifikasi.

Bidang kesehatan pun demikian. Pasien yang sakit tidak asal tunjuk obat di apotek. Ia mengikhlaskan dirinya diperiksa oleh dokter yang sudah menjalani masa pendidikan kedokteran, koas dan magang serta dinyatakan layak untuk praktek. Pasien tersebut pun nurut dan tidak membantah nasehat dokter untuk bisa sembuh.

Kesadaran ini sudah seharusnya tumbuh dalam urusan agama yang mana merupakan patokan keselamatan dunia dan akhirat. Seharusnya orang yang hanya bermodal semangat tidak asal bertindak apalagi berfatwa dalam urusan agama. Semua bidang punya ahlinya masing-masing. Mari kita hormati otoritas keilmuan masing-masing.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open