Tuesday, November 13, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Makna Kata “Allah”

 

 

Jika kita baca Himpunan Putusan Tarjih BAB Iman, kita akan menemukan kalimat berikut ini:

 

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

 

 

Sebelumnya pernah saya sampaikan bahwa pada ungkapan kalimat teks HPT di atas, terdapat dua kata yang mempunyai makna bertolak belakang, pertama al-kaun yang bermakna segala sesuatu selain Allah. Ia sifatnya baharu, dan ciptaan. Yang kedua adalah Allah, sebagai Tuhan dan pencipta al-Kaun.

 

Kata Allah menurut Zamasyari dalam kitab al-kasyaf adalah

اسم يقع على كل معبود بحق أو باطل ، ثم غَلَبَ على المعبود بِحَقّ

Nama semua sesembahan, baik yang benar atau yang salah. Hanya umumnya, kata Allah dimaksudkan untuk nama sesembahan yang benar.

 

Dalam kitab tafsir Annasafi, imam Nasafi menyebutkan bahwa kata Allah dalam bahasa Arab, bisa merupakan isim alam, atau isim nakirah yang ditambah dengan al makrifat (ilah yang mu’arraf). Jika ia adalah isim alam, maka Allah memang sebuah nama Tuhan, baik Tuhan yang benar atau salah.

 

Dalamkitab bada’I al-fawaid, Ibnul Qayyim menyatakan sebagai berikut:

 

زعم أبو القاسم السّهيلي وشيخه ابن العربي أنّ اسم الله غيرُ مشتقّ

Menurut Qasim as-Suhaili dan gurunya Ibnu Al-Arabiy bahwa lafal Allah bukan lafal musytaq.  Yang dimaksudkan dengan kata musytaq dalam bahasa araba adalah kata yang berasal dari kata dasar tertentu.

 

Argumennya sebagai berikut:

Pertama bahwa isim musytaq, harus mempunyai kata dasar sebagai asal dari kata tersebut. Sementara kata Allah sifatnya qadim. Karena ia qadim, maka tidak ada kata dasar yang membetuk lafal itu.

Kedua, Jika ia adalah kata musytak, tentu ia umum diucapkan baik ditujukan untuk Tuhan yang benar atau Tuhan yang salah. Namun hal ini tidak terjadi. Firaun ketika mengaku TUhan, tidak menggunakan akta Allah namun menggunakan kata rab sebagaimana firman Allah berikut:

أَنَا رَبُّكُمْ الأَعْلَى

Saya adalah Tuhanmu yang paling tinggi

 

Firaun tidak mengatakan, saya adalah Allahmu.

 

Di ayat lain, Firaun mengatakan sebagai berikut:

{وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي} [القصص: من الآية38].

 

Tiga, Allah mempunyai 99 nama. Umumnya nama-nama tersebut sebagai sifat bagi Allah. Namun kata Allah, bukanlah sifat Allah.

Empat, semua nama-nama Allah yang jumlahnya 99, dapat diterjemahkan kecuali nam Allah yang tidak dapat diterjemahkan.

 

 

Jika ia adalah isim mu’arraf, maka Allah dari kata Ilahun, lalu ditambah al litta’rif, lalu jadilah al-ilahu. Karena kata al ilah berat terucap dilidah, maka alif dibadalkan kelam yang ke dua, maka menjadilah Allah. Di atara yang berpendapat seperti ini adalah al-Kassani, al-Farra dan Abu Hasyim. Allah yang beraswal dari kata ilahun, artinya adalah al-ma’bud yaitu sesuatu yang disembah.

 

Imam Thabari menyatakan sebagai berikut:

عن ابن عبّاس رضي الله عنه قال:” هو الّذي يألهُه كلّ شيءٍ، ويعبده كلّ خلق “، وعن الضحّاك عن ابن عبّاس رضي الله عنه قال:” الله ذو الألوهيّة والعبوديّة على خلقه أجمعين “.فإن قال قائل: وما الّذي يدلّ على أنّ الألوهية هي العبادة، وأنّ الإله هو المعبود ؟ فالجواب هو: أنّ العرب نطقت  بذلك في كلامها:

 

Dari Ibnu Abbas ra dia berkata, (Allah) maknanya adalah sesuatu yang dituhankan manusia dan disembah semua makhluk. Dari dhahak dari ibnu abbas ra dia berkata, allah maknanya zat yang punya sifat ketuhanan dan sesembahan atas semua makhluknya. Jika ada yang bertanya, apa argumen yang mendasai bahsa kata uluhiyyah adalah sesemabahn? Dan baha ilah adana zat yang disembah? Jawawnya adalah bahwa orang arab biasa menyatakan seperti itu dalam kehidupan sehari-harinya.

 

Ibnu Sayiidah Mengatakan:

 

والإلاهة والألوهة والألوهية: العبادة

Ilahah, uluhaah, dan uluhiyyah maknanya sesembahan.

 

 

Mereka juga menanggapi pendapat pertama yang menyatakan bahwa Allah merupakan isim alam dan bukan isim musytaq dengan menyatakans ebagai berikut:

  1. bahwa kata Allahtidak qadim, seperti juga nama-nama lain dari allah yang 99 itu tidaklah qadim.
  2. bahwak ia isytiqa dari kata ilahun seperti juga nama-nama allah berasal dari kata dasar tertentu.

3, Bahwa kata allah menjadi kada umum yang bisa dipakai semua kelompok agama atau kepercayaan, ini juga tertolak, karena kata Allah dalam Islam sifatnya muarrraf, dengan keterangan seperti di atas.

  1. Jika dikatakan bahwa ia tidak dapat diterjemahkan juga tertolak, karena kata allah maknanya adalah Tuhan dan sesembahan. Al-ta’rif tadi dan keterangan al-Quran secara terperinci yang akan membedakan antara sesembahan umat Islam dengan sesembahan umat dan

 

 

Apa bedanya Allah isim alam dengan Allah sebagai ilah yang muarraf? Jika ia isim Alam, bearti Allah adalah nama Tuhan. Sederhananya, jika ada yang bertanya, siapa nama Tuhanmu? Namanya Allah.

Jika ia muarraf, bearti ia Tuhan yang definitif. Maksudnya definitif bagaimana? Jika ada yang bertanya, siapakah Tuhanmu? Jawabnya Allah. Hanya saja, masih ada soal lanjutan, Allah yang bagaimana? Baru kita definisikan. Ia adalah Allah seperti berikut:

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ    ()الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ()مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ()اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

 

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.  () “Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.  () “Yang menguasai di Hari Pembalasan”.  () “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”.  (QS. Al-Fatihah:2-5)

 

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ()اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ()لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ()وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

 

Allah Tuhanku adalah seperti berikut:

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa () Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. () Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan () dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. (QS. Al-Ikhlas 1-4)

 

 

قل أ تعبدو ن من دون آ لله ما لا يملك لكم ضر ا ولانفعا وآلله هو آلسمع آ لعليم

 

Artinya : Katakanlah : “Mengapa kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak kuasa member mudharat kepada mu dan tidak pula kuasa memberi manfaat ?” dan Allah maha mendengar lagi Maha mengetahui ( siapa yang kamu seru dan siapa yang kamu sembah ketika sujud). (QS Al-Maidah: 76)

 

 

Kelompok ini juga menanggapi pendapat pertama yang mengatakan sebagai berikut:

Pertama, bahwa kata Allah tidak qadim, seperti juga nama-nama lain dari Allah yang 99 itu tidaklah qadim. Yang Qadim, adalah Zat Allah itu sendiri.

Dua, Nama-nama Allah yang lain, seperti arrahman, arrahim, al-Malik, al-Quddus dan seterusnya, juga tidak qadim,

Tiga, lantas jika ia isytiqaq, dari kata apakah? Allah dari kata ilahun.

Tiga, Jika kata Allah menjadi kata umum, dapat digunakan oleh banyak agama dan aliran. Kenyataannya memang demikian. Agama Yahudi, Nasrani dan juga kaum musyrik Mekkah, sebelum beriman, mereka juga biasa menyebut Allah untuk sesembahan mereka. Hal ini dibuktikan dengan firman Allah berikut ini:

 

Hal ini dibuktikan dengan ayat-ayat dalam al-Quran yang menanyakan tentang Tuhan kaum kafir Quraisy, dan mereka mengatakan Tuhannya adalah Allah seperti pada ayat berikut:.

قُلۡ مَنۡ يَّرۡزُقُكُمۡ مِّنَ السَّمَآءِ وَالۡاَرۡضِ اَمَّنۡ يَّمۡلِكُ السَّمۡعَ وَالۡاَبۡصَارَ وَ مَنۡ يُّخۡرِجُ الۡحَـىَّ مِنَ الۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ الۡمَيِّتَ مِنَ الۡحَـىِّ وَمَنۡ يُّدَبِّرُ الۡاَمۡرَ​ؕ فَسَيَـقُوۡلُوۡنَ اللّٰهُ​ۚ فَقُلۡ اَفَلَا تَتَّقُوۡنَ‏

 

 

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.”.” (QS Yunus : 31)

 

وَلَـئِنۡ سَاَلۡتَهُمۡ مَّنۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ وَسَخَّرَ الشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ لَيَقُوۡلُنَّ اللّٰهُ​ۚ فَاَنّٰى يُؤۡفَكُوۡنَ‏ ﴿29:61﴾ اَللّٰهُ يَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ يَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِهٖ وَيَقۡدِرُ لَهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ‏ ﴿29:62﴾ وَلَـئِنۡ سَاَلۡتَهُمۡ مَّنۡ نَّزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَحۡيَا بِهِ الۡاَرۡضَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَوۡتِهَا لَيَقُوۡلُنَّ اللّٰهُ​ؕ قُلِ الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ​ؕ بَلۡ اَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡقِلُوۡنَ‏ ﴿29:63﴾

 

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah, ” maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki­nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah, ” tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya). (QS Al- Ankabut : 61-63)

 

Orang Yahudi dan Nasrani juga biasa menggunakankata Allah untuk Tuhan mereka, sebagaimana berfirman Allahberikut ini:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ﴿٣٠﴾اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair adalah putera Allâh,” dan orang-orang Nasrani berkata, “al-Masîh adalah putera Allâh”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allâh memerangi (melaknat) mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling? (31) Mereka menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allâh dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam. Padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Tuhan Yang Esa. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allâh dari apa yang mereka persekutukan.” [At-Taubah/9: 30 – 31]

قَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدًۭا ۗ سُبْحَـٰنَهُۥ ۖ هُوَ ٱلْغَنِىُّ ۖ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ إِنْ عِندَكُم مِّن سُلْطَـٰنٍۭ بِهَـٰذَآ ۚ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٦٨﴾

Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempunyai anak.” Maha Suci Allah; Dialah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS Yūnus [10]: 68)

لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَـٰبَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ ﴿٧٢﴾ لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَـٰثَةٍۢ ۘ وَمَا مِنْ إِلَـٰهٍ إِلَّآ إِلَـٰهٌۭ وَ‌ٰحِدٌۭ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا۟ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٧٣﴾

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam”, padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Isra’il, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih” (QS al-Mā’idah [5]: 72–73).

لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَـٰبَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ ﴿٧٢﴾ لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَـٰثَةٍۢ ۘ وَمَا مِنْ إِلَـٰهٍ إِلَّآ إِلَـٰهٌۭ وَ‌ٰحِدٌۭ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا۟ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٧٣﴾

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam”, padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Isra’il, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih” (QS al-Mā’idah [5]: 72–73).

Dalam sebuah hadis dinyatakans ebagai berikut:

عَنْ عَدِىِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِى عُنُقِى صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ. فَقَالَ : يَا عَدِىُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ. وَسَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِى سُورَةِ بَرَاءَةَ : اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ. قَالَ: أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ

Diriwayatkan dari ‘Adi bin Hâtim Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara di leherku ada salib yang terbuat dari emas. Beliau pun berkata, ‘Ya ‘Adi! Buanglah patung ini dari dirimu!’ Saya mendengar Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Barâ-ah (at-Taubat, yang artinya) : Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allâh. Beliau pun berkata, “Sesungguhnya mereka tidak menyembah mereka, akan tetapi, jika mereka menghalalkan sesuatu maka para pengikutnya pun menghalalkannya. Apabila mereka mengharamkan sesuatu, maka para pengikutnya pun mengharamkannya.’ (HR. Tirmidzi)

Ayat dan hadis di atas memberukan petunjuk bahwa kata Allah sering juga digunakan oleh kafir Quraisy, orang Yahudi  an nasrani. Ini menunjukkan bahwa kata Allah maknanya adalah Tuhan. Namun untuk umat islam, ia adalah Tuhan yang definitif seperti yang rinci disebutkan dalam al-Quran.

Di dunia arab sendiri sampai sekarang, orang Kristen dengan berbagai alirannya, orang Yahudi dan agama-agama lain, biasa menggunakan kata Allah untuk menyebutkan mengenai Tuhan mereka. Sebagaimana biasa mereka menyebut kana ya rab dan sejenisnya. Wallahu a’lam

 

 

===================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open