Wednesday, November 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Litelaur Islam Klasik Masih Bersifat Normatis-Bayani?

dfsah

Di halaman 103, Muhammad Azhar menulis sebagai berikut:

Kedua, litelaur Islam klasik-terutama salafy dengan berbagai variannya-masih bersifat normatis-bayani.

Sebelumnya, kita akan melihat dari sistem pemetaan episteme dalam pemikiran Islam seperti yang dikemukakan oleh Abid al-Jabiri dalam kitab Bunyatul Aqli al-Aarabi. Menurut al-Jabiri bahwa epistem pemikiran Islam klasik dapat dipetakan menjadi tiga, yaitu bayan, burhan dan irfan.

 

Ulama klasik biasa menyebut pakar bahasa dengan istilah bayaniyun.  Mereka menyebut pakar logika Aristetolian dengan istilah burhaniyun dan menyebut para sufi dengan irfaniyun.  Jadi bayan, burhan dan irfan sesungguhnya bukan istilah yang dibuat oleh Aljabiri, namun sudah menjadi istilah yang biasa dipakai oleh ulama Islam klasik.

 

Pendekatan bayan bertolak dari teks, dengan menggunakan berbagai piranti bahasa, seperti nahwu, sharaf, balaghah (badi, bayan, maani) dan seterusnya. Di antara ciri-cirinya adalah menjadikan logika dan filsafat bahasa sebagai tumpuhan dan interpretasi dalam struktur pemikiran, memandang sesuatu secara partikular (juziyat), menggunakan kiyas bayan dengan syarat utama asal, cabang, hukum dan ilat.

 

Model ini dipakai para mutakalimun, mufassirun, ulama ushul dan lain sebagainya.  Kesimpulan hukum yang dihasilkan bersifat zanni, karena bertumpu pada illat yang zanni.

 

Dari logika bayan ini, para ulama menghasilkan berbagai macam cabang ilmu pengetahuan, seperti tafsir dengan berbagai variannya, ushul fikih, ensiklopedi fikih, ulumul Quran, ulumul hadis, syarah hadis, ilmu kalam, ilmu bahasa dengan semua cabangnya dan lain sebagainya.

 

 

Pendekatan burhan bertolak dari logika Aristetolian, dengan konsep kiyas Aresto, sistem kajian deduktif dan indulktif. Kiyas Aristo juga mempunyai 4 syarat, yaitu mukadimah sughra, mukadimah kubra, rabit dan natijah. Mukadimah sughra harus berasal dari premis yang benar dan perkara yang bersifat aksiomatis. Oleh karenanya hasilnya bersifat qat’iy.

 

Ciri-cirinya, ia rasional, bertumpu pada premis yang benar, melihat persoalan dari global menuju partikular, lebih mementingkan makna dan  penelitian empiris (istiqra). Epistem burhan biasa dipakai oleh filsuf, saintifik, dan sebagian kalangan ulama ushul fikih

 

Usul fikih Zhahiri, menggunakan logika Aristetolian dalam membentuk berbagai kaidah ushul fikih. Ushul fikih mereka dikenal dengan istilah Addalil. Kiyas yang digunakan adalah kiyas Aristetolian dan mengingkari kiyas bayan, karena dianggap lemah dan hasilnya zhanni

 

Karena sikap Ibnu Hazm yang anti kiyas bayan itu, oleh ulama ushul penganut paham bayan, beliau sering dituduh ingkar kiyas. Padahal ibnu Hazm memakai kiyas, akan tetapi kiyas Aristotelian. Penggunaan manhaj burhan dalam ushul fikih Ibnu Hazm bisa dilihat dari kitab al-Iikham fi Ushulil Ahkam karya ibnu Hazm.

 

Ciri-ciri di atas juga berlaku dalam kitab maqashid. Jika dalam ilmu mantik ada istilah kuliyatul khamsah, maka imam Syathibi dalam kitab Muwafaqat juga menggunakan istilah kuliyatul khamsah untuk menyebutkan mengenai addaruriyaat al khamsah atau maqashid syariat. Ilmu maqashid juga memandang sesuatu dari pandangan global, menuju partikular. Ilmu maqashid lebih mementingkan makna dari pada lafal.

 

Untuk ilmu-ilmu eksakta yang berdasarkan pada penelitian empiris, dalam sejarah Islam klasik juga berkembang sangat pesat. Banyak nama besar yang jasanya bagi dunia tidak akan pernah terlupakan. Mereka adalah para dokter, arsitektur, astronom, pakar optik, matematik, dan lain sebagainya. Berbagai ilmu pengetahuan Islam dalam semua bidang kehidupan berkembang sangat pesat. Satu tokoh, terkadang menguasai banyak ilmu pengetahuan, seperti halnya Ibnu Sina yang ahli kedokteran, namun di sisi lain juga seorang astronom, pakar matematik dan juga filusuf besar. Ibnu Sina satu contoh, masih banyak lagi para saintis ensiklopedis yang dimiliki oleh umat Islam klasik, seperti Ibnu Haitsam, Al-Hawarizmi,  Jabir Ibnu Hayyan, Ibnu Ismail Al Jazari, Abu Al Zahrawi, Al-Jahiz dan lain sebagainya.  

 

 

Sementara irfan bertolak dari intuitif, dengan konsep ahwal dan maqamat. Ciri-cirinya, segalanya bersifat ruhaniyat; ada sistem tarekat yang membentuk semacam kerajaan spiritual, ada raja (syaikh/murabbi), ada murid (salik), ada jalan. Ada aturan (adab), baik aturan dengan Tuhan, guru, antar sesama murid atau dengan dirinya sendiri.

 

Aturan-aturan itu harus ditaati oleh salik. Harus ada murabbi dan tarekat. Targetnya adalah makrifatullah. Biasanya para sufi dijuluki dengan al arif billah. Implikasi yang dihasilkan, ialah kasyf, ilham, yang nantinya akan bisa tajalli, widatul wujud, ittihad dengan Allah.

 

Dalam literature klasik, kita akan menemukan banyak sekali tokoh-tokoh sufi dengan karya mereka yang sangat menumental, seperti al-Ghazali, Imam Junaid, Malik Bin Dinar, Abu Yazid al-Busthami, Al-Muhasibi, Hatim al-Asham dan lain sebagainya. Karya-karya ulama sufi hingga saat ini masih dapat kita baca dan bahkan masih diajarkan di pesantren-pesantren dunia, seperti kitab Risalah  Qusyairiyah karya Imam Qusyairi, Ihya Ulumuddin karya Ghazali, al-Hikam karya Ibnu Athaillah Assakandari dan lain sebagainya.

 

Dari tiga episteme tadi yaitu bayan, burhan dan irfan, menghasilkan banyak aliran pemikiran yang sangat bervariatif. Semua berjalan bersama dan menjadi kekayaan intelektual dalam khazanah pemikiran Islam klasik.

 

Tidak benar jika dikatakan bahwa pemikiran Islam klasik hanya terfokus pada normatif bayani saja. jika hanya normative bayani, kita tidak akan menemukan perkembangan ilmu-ilmu eksakta. Kita juga tidak akan menemukan karya spiritual yang luar biasa.

 

Namun bukti empiris tidaklah demikian. Ulama Islam klasik meninggalkan semua cabang ilmu dari ketika episteme dengan jumlah yang luarbiasa banyaknya dan sangat melimpah. Bias dikatakan bahwa kemajuan peradaban Islam ditopang oleh semua cabang ilmu pengetahuan, bukan satu dua cabang ilmu pengetahuan saja, termasuk di antaranya adalah pemikiran Islam dari epistem burhan dan irfan. wallahu a’lam

 

=====================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open