Tuesday, June 19, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Lembaga Resmi Muhammadiyah Meninggalkan HPT, Tidak Melanggar?

Lembaga Resmi Muhammadiyah Meninggalkan HPT, Tidak Melanggar?

Sebelumnya pernah saya sampaikan bahwa Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Bab Iman banyak ditinggalkan oleh warga persyarikatan. HPT Bab Iman secara keseluruhan banyak tidak digunakan oleh jamaah Muhammadiyah. Sayangnya bukan hanya jamaah, banyak lembaga resmi Muhammadiyah yang secara sengaja meninggalkan dan berbagai alasan. Di pesantren Muhammadiyah, biasanya pengajaran HPT langsung masuk ke bab fikih, sementara bab iman dilewatkan.

Pondok pesantren Muhammadiyah, sekolah Muhammadiyah dan universitas Muhammadiyah, adalah lembaga resmi persyarikatan. Meski demikian, banyak dari lembaga pendidikan di atas, buku diktat tauhid tidak mengacu ke HPT. Namun Justru mengacu ke para ulama salafi yang secara konsep sangat berbeda dengan konsep apa yang tercantum di HPT.

Bisa jadi meninggalkan HPT dengan asalan bahwa konsep tauhid di HPT tidak membumi atau terlalu rumit atau karena hanya berupa matan. Namun di sini justru kesempatan bagi lembaga resmi tersebut untuk membuat konsep yang lebih matang dengan menyesuaikan kebutuhan. Terkait langkah yang harus dilakukan, sudah kami kemukanan pada tulisan terdarhulu. Atau ada alasan lain bahwa perbedaan antara salafiyah dengan HPT, sekadar persoalan furu akidah saja sehingga tidak perlu diperdebatkan.

Kehadiran Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) salah satu fungsinya adalah untuk memilih dan melakukan tarjih atas persoalan furu baik akidah atau fikih. MTT melakukan sidang dan muktamar. Keputusan muktamar lantas dijadikans ebagai pegangan dan pedoman bagi jamaah Muhammadiyah. Kompilasi hasil muktamar disebut dengan putusan yang saat ini sudah ada 3 jilid. Putusan ini, sejatinya menjadi pedoman mengikat bagi lembaga resmi di bawah Muhammadiyah.

Jika ada lembaga di bawah Muhammadiyah tidak taat pada salah satu putusan muktamar yang sifatnya furu fikih, biasanya akan dipersoalankan. Jika ada masjid Muhammadiyah tidak mengikuti putusan Muhammadiyah terkait hisab, atau qunut subuh, atau niat yang dijahrkan, atau tahlilan, hampir dipastikan akan dipersoalkan.

Terkait urusan akidah, yang ditinggalkan bukan salah satu persoalan furu saja, tapi seluruh bangunan keilmuan dan satu paket pemikiran. Anehnya, hal ini tidak dipermasalahnkan. Padahal banyak yang dilakukansecara terbuka. Ttidak ada protes atau teguran dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah atau bahkan dari Majelis tarjih. Jika saja seluruh persoalan furu fikih yang ditinggalkan, bisa diastikan akan dianggap bukan Muhammadiyah. Di sini seakan ada pembiaran dari para pengurus dan pimpinan Muhammadiyah. Alasannya apa? Wallahu a’lam

==================================

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open