Thursday, December 3, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Lebih Mulia Guru Ngaji Daripada Jadi Politisi

uploads--1--2013--09--96040-guru-ngaji-dana-insentif-cair-pemkot-malang-segera-sertifikasi

 

Beberapa hari yang lalu, didiskusi whatsapp ada yang bercerita mengenai acara pembekalan ideologi Muhammadiyah di daerahnya. Salah satu pembicaranya berujar bahwa jika ada kader potensial, bolehlah untuk masuk ke ruang publik, seperti jadi politisi.

 

Tanpa mikir panjang, saya langsung komen, “Politisi? No”. Sudah banyak kader Muhammadiyah yang jadi politisi. Saya pikir yang ada ini sudah lebih dari cukup. Biar mereka-mereka yang dipartai politik yang konsentrasi mengurusi masalah politik. Yang kurang justru jadi guru ngaji. Banyak ranting tidak ada pengajian, karena anggota Muhamamdiyah lebih tertarik menjadi politisi daripada guru ngaji.

 

Bagi saya sendiri, jadi guru ngaji di ranting Muhammadiyah yang terpencil jauh lebih mulia dibanding jadi politisi tenar. Guru ngaji yang tanpa pamrih dan hanya berharap ridha Allah itu memang tidak di kenal oleh masyarakat luas, namun seluruh penduduk langit mengenalnya. Ia menjadi buah bibir di kalangan para malaikat.

 

Bisa jadi ini kebalikan dari para politisi. Ia dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat. Bahkan tiap hari, harian nasional memuat namanya. Tapi ternyata penduduk langit melaknat dia. Ia ternyata pengkhianat negara, hanya saja pandai bersembunyi dibalik kepiawaiannya.

 

Kader masuk ke ruang publik yang lebih dikenal memang tidak ada salahnya, asal bisa proporsional dan menjaga identitas keberagamaan. Namun dalam kondisi masjid Muhammadiyah kosong dari pengajian, apakah masih relevan seorang pengurus Muhammadiyah mendorong anggotanya untuk menjadi politisi?

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

fourteen + fifteen =

*