Sunday, November 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Lalai dan Lupa

hjhjkhkjSetelah pembahanas ilmu, bodoh, ragu dan praduga, sekarang kita masuk kepada pembahasan lalai dan lupa. Lalai dan lupa juga antonim dari ilmu. Karena seseorang tidak mungkin ‘mengetahui’, namun disatu waktu dia juga ‘lupa dan lalai’.

Apakah lupa dan lalai berkaitan dengan dua esensi? Hal ini sama pembahasannya dengan ilmu, bodoh, ragu dan praduga. Jawabannya bisa dirujuk ke belakang.

Semua sepakat bahwa lupa dan lalai, adalah dua perkara yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Dengan kata lain, lupa dan lalai bukan berasal dari keinginan manusia. Atau sederhananya, lupa dan lalai keluar dari niat manusia. Jika seseorang sudah ‘niat’ untuk lupa atau lalai, maka perbuatan tsb tidak lagi disebut lalai atau lupa

Menurut Asyariyah, pendapat ini sekaligus menjadi kanter bagi Muktazilah yang mengatakan bahwa “kemampuan seseorang untuk mengetahui sesuatu, bearti ia mampu untuk mengetahui sesuatu, kebalikan dari sesuatu tersebut.
Contoh: Kemampuan seseorang untuk mengetahui gerak, bearti ia mampu untuk mengetahui diam
Kemampuan seseorang untuk mengetahui dingin, bearti ia mampu untuk mengetahui panas
Tidur juga antonim dari ilmu (pengetahuan). Karena mustahil, seseorang tahu, namun disatu waktu ia sedang tidur.

Sederhananya, jika ada orang tidur kita tanya, “Siapa nama Anda?”, lalu dia menjawab ‘Sutejo’, bearti ada dua kemungkinan; dia belum tidur atau dia nglindur.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

16 + seven =

*