Monday, September 16, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Kitab Tafsir Pra-Industri Tidak Inspiratif?

tafsir qurtubi

 

Seri Counter Buku FIkih Kebinekaan. Artikel ke 16.

Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa Hamim Ilyas telah membuat sebuah kontraversi yang cukup fatal, yaitu dengan menyatakan bahwa keterpurukan umat Islam disebabkan oleh faktor agama yang dianut. Menurutnya, gama Islam tidak memberikan inspirasi kejayaan. Jadi, agamalah yang menjadi beang kerok atas kemunduran umat Islam.

 

Jika sebelumnya ia menyalahkan agama sebagai bingkerok kemunduran umat dan menuding Islam tidak menginspirasi kejayaan, maka masih dalam paragraph yang sama, beliau menyalahkan berbagai tafsir klasik sebagai penyebab kemunduran umat. Jadi menurutnya, tidak adanya kejayaan itu, akibat tafsir pra-industri yang tidak inspiratif. Coba kita lihat ungkapan beliau tersebut:

 

Tiada inspirasi kejayaan dari agama bagi umatnya secara struktural disebabkan oleh tafsir agama yang tidak relevan dengan zaman yang mereka jalani. Umat sekarnag hidup pada zaman industry, tapi kultur mereka masih kultur pra-industri. Kultur pra-industri ini di antaranya terbentuk dari tafisr agama yang mereka anut (Fikih Kebinekaan: 84)

 

Benarkan bahwa turas Islam dari kitab-kitab tafsir pra-inustri itu menjadi biang kerok kemunduran umat? Mari kita lihat:

 

Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw sebagai tuntunan bagi Umat Islam. Al-Quran sebagai kitab suci terakhir mengandung berbagai nilai dan norma abadi yang harus dipegang oleh umat Islam hingga akhir zaman.

 

Dalam menafsirkan al-Quran, terdapat banyak aturan. Ada ayat-ayat yang penafsirannya tidak dapat berubah sepanjang zaman. Ayat-ayat tersebut oleh ulama ushul disebut dengan istilah ats-tsawabit.

 

Para ulama ushul mengatakan bahwa yang disebut dengan tsawabit adalah ayat-ayat qatiyyat yang mempunyai satu makna saja. Karena ia sekadar satu makna, maka tidak ada tafsiran lain selain apa yag langsung kita pahami dari nas.

 

Tsawabit ini sering juga disebut dengan istilah qat’iyyat, atau ayat-ayat al-Quran yang sifatnya qat’iy. Qat’iyyat ini dibagi menjadi tiga macam, pertama terkait dengan akidah, kedua terkait dengan akhlak dan ketika terkait dengan muammalah dunyawiyyah.

 

Di antara ayat qat’iy yang terkait dengan akidah contohnya adalah surat al-ikhlas:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿

Artinya: 
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

 

Ayat ini disebut dengan tsawabit atau qat’iyyat. Bahwa Allah hanya satu, tidak bisa ditafsirkan ulang. Sejak kapanpun, dalam kondisi apapun, bagaimanapun perubahan dunia, tidak dapat merubah konsep keesaan Allah. Jadi, ayat tsawabit dalam akidah ini sama sekali tidak bisa dirubah.

Atau ayat-ayat yang terkait dengan alam ghaib seperti surg, neraka, kiamat dan lain sebagainya. . Ia adalah urusan akidah yang tidak bisa ditafsirkan ulang. Ia adalah ayat-ayat yang tsawabit atau qatiyyat.

Kedua terkait dengan muammalah dunyawiyah, contoh ayat waris:

 

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوۡلَـٰدِڪُمۡ‌ۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ‌ۚ;

Artinya: Allah perintahkan kamu mengenai (pembagian harta pusaka untuk) anak-anak kamu, yaitu bagian seorang anak lelaki menyamai bagian dua orang anak perempuan….(Q.S. An-Nisa: 11).

Siapapun yang membaca ayat ini langsung paham bahwa bagian laki-laki menyamai dua bagian perempuan. Atau 2 banding 1. Ayat ini tidak bisa dipahami dengan makna lainnya. Karena ia hanya mempunyai satu makna saja, maka ini yang disebut dengan ats-tsawabit atau al-Qat’iyyat.

 

Contoh dalam akhlak:


لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan mizan (neraca, keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Qs. al-Hadid/57: 25)

 

Ayat di atas memerintahkan kita berlaku adil. Di ayat lain Allah berfirman:

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ )النحل : 90

 

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Qs. an-Nahl: 90)

 

Ayat di atas memerintahkan kita untuk selalu berbuat adil kepada siapapun juga. Meski dunia berubah dan masyarakat semakin modern, keadilan tidak bisa diganti dengan kezhaliman. Karena ia sifatnya pasti dan tidak bisa dirubah, maka ia disebut dengan ats-tsawabit tau al-Qat’iyat.

 

 

Menyikapi ayat qat’iyyat tadi, sejak zaman rasulullah saw hingga hari kiyamat tidak boleh berubah. Zaman pra-industri, atau zaman industry dan entah akan datang zaman apalagi, tetap saja tidak bisa mempengaruhi dan merubah makna dari nas-nas di atas. Jadi, di sini terdapat standar yang jelas dan pasti yang dijadikan acuan bagi para mufasir.

 

Yang kedua terkait dengan ayat-ayat yang sifatnya zhanniyat, yaitu ayat al-Quran yang mempunyai lebih dari satu makna atau satu tafsiran. Contoh istilah quru dalam al-Quran yang bisa bearti suci dan juga bisa bermakna haid. Di sini yang dibutuhkan adalah tarjih dengan melihat pada qarinah (indikator) suatu ayat. Qarinah bisa berupa qarinah secara bahasa (lughawiyyah), qarinbah secara syariat, qarinat secara tradisi (urf) dan lain sebagainya. Semua qarinah tadi menjadi pertimbangan yang sangat menentukan dalam memberikan tarjih suatu kalimat. Umumnya ayat yang zhani ini terkait dengan ketentuan hukum syariat.

 

Ketiga, terkait dengan ayat-ayat yang berupa informasi, sejarah, ilmu pengetahuan termasuk di antaranya terkait ayat-ayat yang berbicara tentang kosmologi, sejarah, anatomi tubuh dan lain sebagainya. Di sini, pembaca mempunyai banyak peluang untuk memberikan tafsiran baru sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sejarah juga bisa dibuktikan dengan kajian empiris sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

 

Ada lagi persoalan umat yang secara implisit tidak termaktub dalam kitab suci atau bahkan sunnah nabi. Hanya saja, hokum dari persoalan tadi tetap ada. Karena secara implicit tidak ada, maka membutuhkan ijtihad. Di sini, pembaca harus jeli dan mampu menangkap terhadap spirit yang terkandung dalam kitab suci al-Quran. Spirit ini bisa ditangkap bisa melalui sstem kiyas, istihsan, istislah, marsalah mursalah, maqashid syariat dan lain sebagainya. Untuk mengetahui spirit hukum tadi, tentu membutuhkan piranti dan metodologi yang jelas yang biasa digunakan oleh ulama ushul. Metodologi ijtihad ini, sering disebut dengan ilmu ushul fikih.

 

Dari uraian di atas, sesungguhnya yang ingin saya sampaikan bahwa tidak semua tafsiran ulama kita terdahulu, tidak inspiratif dan membuat umat Islam terbelakang. Ada tafsiran-tafsiran dari ayat al-Quran yang harus tetap dan tidak boleh dirubah.

 

Jika kita menganggap bahwa tafsiran pra-industrui sebagai sebab tidak inspirasi kejayaam, itu sama artinya kita meminta umat untuk membuang seluruh tafsir klasik dan menggunakan tafsir zaman industry. Namun tafsir zaman industry ini yang bagaimana? Sayangnya persoalan ini tidak diungkap oleh penulis secara gambling dan jelas.

 

Menuduh tafsir pra-inustri sebagai tafsir yang tidak inspiratif atas kejayaan, itu sama artinya menyuruh kita untuk membuang berbagai kaedah yang berlaku dalam sistem penafsiran al-Quran. Tidak ada lagi qat’iyyat dan zanniyat. Seluruh kandungan al-Quran bisa berubah menyesuaikan dengan kondisi zaman modern. Jika demikian, akibatnya akan sangat fatal.

 

Tuhan, malaikat, kenabian, akhirat, surga, neraka, shalat, puasa, zakat, haji, keadilan, kejujuran, kedamaian dan lain sebagainya, yang merupakan bagian dari qat’iyyat baik dalam ranah akidah, ibadah dan akhlak bisa berubah. Jadi, patokannya adalah era industry itu sendiri dan bukan sistem pembacaan tafsir.

 

Masalah kejayaan umat, itu sesungguhnya tidak terkait dengan tafsir pra-industri. Dalam semua kitab tafsir, selalu menyikapi ayat al-Quran dengan sangat positif. Semua kitab tafsir menganjurkan umat untuk istiqamah dalam beragama, menjalankan syariat Allah, mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya, tepat waktu, berbuat baik, selalu beraktivitas secara kontinyu, mengingatkan tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi, perintah untuk membangun peradaban dan lain sebagainya. Jadi, mana tafsir klasik yang tidak inspiratif itu?

 

Sayangnya, penulis juga tidak menyebutkan mana saja tafsir yang tidak inspiratif itu. Apakah seluruh kitab tafsir yang muncul di zaman pra-industri itu tidak inspiratif? Lalu, tafsir siapakah pasca industry ini yang inspiratif? Ini juga tidak dijawab oleh beliau. Ini saja sudah dapat mematahkan tuduhan beliau mengenai tafsir pra-industri yang dianggap tidak memberikan inspiratif kejayaan. Wallahu’alam

 

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

one × two =

*