Sunday, November 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Kita Ikut Ulama

ghj

Ust. Musa Alazhar, Lc.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati salat dalam keadaan mabuk sampai kalian tahu apa yang kalian katakan…” (al-Nisa: 43)

Bagaimana kita memahami ayat ini? Ketika ada larangan yang terkait dengan kondisi tertentu, artinya larangan tersebut tidak berlaku dalam kondisi yang lain. Ketika mabuk dilarang dalam kondisi menjelang salat, artinya boleh minum-minum sampai mabuk ketika selesai salat dong?

Ketika kita hanya mengandalkan pemahaman kita, misalnya dengan mambaca ayat tersebut dengan fokus kemudian membaca terjemahannya, dilanjutkan dengan memberikan sedikit waktu untuk berpikir, mungkin pemahaman berbahaya seperti di atas lah yang akan muncul. Beda hasilnya ketika kita merujuk kepada pemahaman ulama.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang terkenal ternyata memberikan pencerahan kepada kita semua:[1]

  1. Ayat ini turun sebelum pengharaman khamr (minuman keras terbuat dari sari anggur) secara mutlak
  2. Sebelumnya ada ayat lain yang berbicara tentang khamr yaitu al-Baqarah 219

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang minuman keras dan judi, katakan bahwa di dalam keduanya ada dosa besar dan manfaat-manfaat bagi manusia, hanya saja dosanya lebih besar daripada manfaatnya”

  1. Umar bin Khattab RadhiyalLâhu `anhu setelah mendengar al-Baqarah: 219 berdoa supaya dijelaskan hukum khamr secara gamblang. Begitu juga setelah turun al-Nisa ayat 43.
  2. Kemudian turunlah al-Maidah: 90:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ

 فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, berjudi, berkorban (untuk berhala) dan mengundi dengan anak panah itu merupakan perbuatan setan, maka jauhilah supaya kalian beruntung”.

Kesimpulannya, berdasarkan beberapa riwayat hadis yang disajikan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, kita dapat mengetahui bahwa khamr diharamkan secara bertahap. Apabila kita merujuk ke kitab-kitab fikih, akan semakin rinci penjelasan mengenai khamr. Misalnya: hukum peminumnya, apakah khamr itu najis?, dan lain-lain.

Hal-hal di atas tidak bisa kita jumpai apabila kita hanya mengandalkan bacaan sendiri ketika ingin memperoleh penjelasan hukum al-Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat dan salafus salih. Mari kita ikut ulama!

 

[1] Imaduddin Ibnu Katsir, Tafsîru’l Qur’ân al-`Azhîm, vol. IV, ed. Mushthafa al-Sayyid Muhammad et. al., Mu’assasah Qurthubah, Giza, Mesir, cet. I, 1421 H/2000 M, hal. 60

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

17 − 8 =

*