Tuesday, November 21, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Kita Butuh Pembumian Fikih Khilaf dan Fikih Dakwah

Beberapa waktu lalu, saya mendengar ada masjid yang didemo dan diminta untuk ditutup. Hal ini dilakukan karena masjid dianggap meresahkan masyarakat. Masjid yang terletak di kota Bogor tersebut dianggap berpaham salafi wahabi.

Sebelumnya, Muhamadiyah pernah dipersulit oleh oknum warga untuk membangun Masjid di kota serambi Mekkah Aceh. Alasannya tidak jauh beda, dianggap berpotensi meresahkan masyarakat.

Bujan saja kasus masjid, beberapa waktu silam beberapa kali kita mendengar pengajian di protes dan dibubarkan karena dang dai dianggap mendukung paham khilafah.

Saya jadi heran, bagaimana bisa masjid dianggap menjadi sumber perpecahan? Bagaimana mungkin membangun masjid dianggap berpotensi meresahkan masyarakat? Bagaimana bisa pengajian dibubarkan paksa hanya karena beda paham keagamaan? Anehnya, mereka yang melakukan tindakan seperti itu sering mengusung pancasila dan pembela kebhinekaan.

Ada dua persoalan penting yang kurang terperhatikan sehingga antar umat Islam saling curiga dan saling serang. Dua persoalan itu yaitu terkait dengan minimnya pengetahuan terhadap fikih khtilaf dan fikih dakwah.

Yang dimaksud dengan fikih khilaf adalah fikih yang berkaitan dengan persoalan khilafiyah. Ia berhubungan dengan persoalan furu, baik furu fikih atau furu akidah.

Perbedaan pandangan tersebut muncul karena banyak faktor; bisa karena beda dalam memahami dalil, beda sistem istidlal, beda ruang waktu, beda kemampuan ijtihad, dan lain sebagainya. Iplikasinya memunculkan produk ijtihad yang berbeda. Fariasi perbedaan produk ijtihad tadi dibolehkan dan menjadi kekayaan intelektual umat Islam.

Dikatakan terkait persoalan furu, karena persoalan ushul tidak boleh berbeda, baik ushul akidah mauoun ushul dalam hukum fikih. Yang dimaksud dengan ushul akidah adalah persoalan pokok dalam akidah seperti Allah itu Esa, malaikat dan jin itu ada, alam kubur, kiamat, hari kebangkitan, hisab, surga dan neraka itu ada. Mengingkari terhadap keberadaan persoalan pokok dalam ranah akidah itu, dianggap kafir dan keluar dari millat ibrahim.

Adapun perbedaan dalam furu akidah misalnya pemahaman terkait sifat Allah, makna istiwa, makna ayat-ayat mutadyabuhat, detail-detail adzab kubur dan lain sebagainya. Terkait hal ini boleh berbeda dan harus mengedepankan sikap toleran.

Yang dimaksud dengan persoalan ushul dalam fikih, adalah persoalan-persoalan pokok terkait dengan hukum praktis bagi seorang muslim dan terkait erat dengan dalil qat’iy tsubut dilalah. Contoh kewajiban shalat, puasa, zakat dan haji. Inkar atas persoalan fikih yang pokok tadi, hukumnya kafir dan keluar dari Islam.

Dapaun persoalan cabang dalam fikih, di antaranya terkait pelafalan niat, qunur subuh, zakat profesi dan lain sebagainya. Perbedaan ini dibolehkan.

Seorang dai idealnya mengetahui mana persoalan ushul dan furu. Pengetahuan ini sangat penting karena akan berimplikasi pada sikap dia dalam menyikapi perbedaan. Ia juga akan dapat memposisikan diri kapan bersikap lemah lembut dan kapan harus tegas.

Jika tidak, maka akan terjadi banyak kerancuan. Sesuatu yang semestinya lembut, ia bersikap keras. sebaliknya persoalan yang semestinya keras, ia bersikap lemah lembut. Ini terjadi karena dai tidak memahami fikih khilaf tadi.

Mengapa dai? Karena ia yang punya kapabilitas untuk memahami teks. Ia yang punya kemampuan untuk melihat dan menyampaikan produk ijtihad. Ia pula yang punya jamaah. Ia hendaknya menyampaikan tentang pokok-pokok tadi dan bagaimana mensikapi perbedaan.

Jamaah umumnya awam. Mereka tidak diberi beban pemahaman atas fiqhul khilaf ini secara mendetaip. Mereka umumnya hanya mengikuti kyainya. Jika baik kyainya, baik pula jamaah. Jika keras dan dan tidak toleran dainya, maka jamaahnya akan juga tidak akan toleran. Jadi fiqhuddakwah ini terkait erat dengan para dai.

Kurang pemahaman terhadap fikih khilaf,
akan berdampak pada sikap merasa benar sendiri. Kelompok lain yang berada di luar pemahaman dirinya dianggap sesat, bidah dan pelaku syirik.

Padahal yang terjadi sesungguhnya sekadar perbedaan persoalan cabang saja. Seringkali, antara yang pro dan kontra, sama- sama berlandaskan dalil. Namun karena sistem istidlal yang berbeda, maka menghasilkan produk ijtihad yang berbeda.

Persoalan furu ini sesungguhnya sudah biasa dalam khazanah pemikiran Islam. Ulama salaf sendiri banyak berbeda. Sudah makruf bersama bahwa dalam urusan fikih, terdapat banyak madzhab. Bukan hanya empat madzhab seperti yang kita ketahui saat ini, yaitu Syafii, Hanafi, Hambali dan Maliki, namun masih banyak madzhab lain seperti Zhahiri, Jakfari, Zaidi, Laitsi, Thabari, Ibadhi dan lain sebagainya. Konon dulu ada sekitar 80 madzhab. Yang tersisa dan dikenal hingga saat ini hanya 8 madzhatb saja.

Para ulama mazhab telah memberikan teladan yang baik kepada kita. Imam Abu Hanifah berguru pada imam Jakfar Shadiq. Padahl imam Jakfar sebagai rujukan fikih madzhab Syiah Jakfariyah. Imam Syafii berguru kepada Imam Malik. Washil Ibnu Atha pendiri Muktazilah adalah murid dari ulama besar Hasan Al Basri yang dianggap representasi dari ahli sunnah. Imam Zaid sebagai imamnya Syiah Zaidiyah adalah murid dari Washil Bin Atha yang Muktazilah. Imam Asy’ari sendiri, sebelumnya adalah Muktazilah. Beliau sering mengatakan, “Saksikanlah oleh kalian bahwa saya tidak akan mengkafirkan satupun dari ahli kiblat”.

Ternyata keilmuan Islam saling nyambung satu sama lain. Para Imam tidak alergi untuk belajar dan mengambil ilmu dari ulama lain meski beda aliran. Ada sikap hormat dan saling toleransi luarbiasa yang layak untuk kita pelajari.

Sayangnya atar sesama kelompok Islam sering fanatik dan menutup diri. Ada yang beranggapan kebenaran tunggakal sehingga merasa hanya pendapatnya saja yang benar, sementara yang lain sesat dan salah bahkan pelaku bidah dan syirik. Parahnya, kadang mereka ,menggunakan bahasa kasar yang keluar dari aab Islam.

Imam Ghazali menyadari tentang bahaya perpeahan anat fanatik buta atas persoalan furu ini. Dalam kitab faisalu attafafriqah bainal Islam wa azzindiqah, beliau banyak meberikan kritikn kepada kelompok Islam khusunya gulah hanabilah yang sangat fanatik. Beliau berharap adanya sikap saling toleransi antar sesama kelompok Islam.

Sesungguhnya antar kelompok Islam memunyai paham ijtihad masing-masing. Produk ijtihad tersebut sesungguhnya menjadi kekayaan ilmu pengetahuan umat yang patut dibanggakan. Barangkali hanya agama Islam yang mepunyai produk ijtihad begitu melimpah.

Perbedaan adalah fitrah manusia. Dengan berbeda, kehidupan manusia menjadi fariatif dan peradaban manusia dapat berjalan secara dinamis. Perbedaan yang kita harapkan, tentu tetap dalam koridor syariat. Dalam hal ini, Allah berfirman:

شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖوَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.

(119). إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚوَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗوَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.

Mereka yang melakukan pembubaran jamaah pengajian, meminta penutupan masjid dan lainnya, hendaknya dapat menahan diri. Kedepankan sikap hormat atas perbedaan yang ada.

Sebaliknya para dai di mashid-masjid, hendaknya juga introspeksi diri. Hendaknya ia menelaah kembali fikih dakwah, apakah ia menyampaikan dengan bahasa yang santun atau tidak. Apakah isi ceramahnya profokatif dan menyakitkan perasaan kelompok lain atau tidak.

Masih banyak persoalan umat yang jauh kebih penting daripada memperdebatkan masalah furuiyah. Umat harus melihat prioritas sehingga dengan mengedepankan persatuan umat. Jika sesama kelompok Islam memahami fikih khikaf dan fikih dakwah, insyaallah umat akan bersatu dan dapat menjadi kekuatan besar yang ditakuti lawan. Wallahu alam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open