Friday, August 23, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Keterangan Singkat Tentang Rincian Sifat-Sifat Allah 

Syarah HPT Bab Iman

Artikel ke: 57

 

 

الْحَىُّ القَيُّوْمُ ( 9)السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ( 10 ) وَهُوَ عَلَى آُلَِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ ( 11 إِنَّمَا اَمْرُهُ اِذَا اَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ آُنْ فَيَكُوْنُ ( 12 ) وَهُوَ عَلِيْمٌ بِمَايَفْعَلُوْنَ ( 13 ) اَلْمُتَّصِفُ بِالْكَلاَمِ وَآُلِّ آَمَالٍ. المُنَزَّهُ عَنْ آُلِّ نَقْصٍ وَمُحَالٍ ( 14 ).( يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ. بَِيَدِهِ اْلأَمْرُ آُلُّهُ وَإِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ ( 15

(9). Yang mendengar dan yang melihat (10). Dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu (11). Perihal-Nya apabila ia menghendaki sesuatu Ia firmankan: “Jadilah”! maka
jadilah sesuatu itu (12). Dan dia mengetahui segala sifat kesempurnaan. Yang suci dari sifat mustahil dan segala kekurangan (14). Dialah yang menjadikan sesuatu menurut kemauan dan kehendakNya. Segala sesuatu ada ditangan-Nya dan kepada-Nya akan kembali (15).

 

Sebelumnya telah kami sampaikan mengenai pandanga ahli sunnah terkait sifat dua puluh. Telah kami sampaikan bahwa sifat dua puluh, berdasarkan pada dalil naqli yang bersumber dari al-Quran maupun sunnah nabi. Sifat-sifat tersebut sifatnya tauqifi dan berdasarkan nas sehingga manusia tidak perlu memberikan sifat lain bagi Allah yang tidak disebutkan dalam nas. Hanya saja, sesungguhnya sifat Allah tidaklah terbatas, sesuai dengan kesempurnaan Allah yang tidak terbatas. Membatasa sifat dua puluh sekadar untuk mempermudah kita dalam mengenail sifat-sifat Allah tersebut. Berikut kami sebutkan dan terangkan secara singkat mengenai sifat dua puluh, yaitu:

 

  1. Wujud. Maksudnya adalah bahwa Allah adalah Tuhan yang harus ada. Ibnu Rusy dalam kitab manahijul adillah menyatakan baha ada dua argumen yang dapat dijadikan sebagai landasan mengenai bukti bahwa Allah itu ada atau wujud, yaitu dalilul ikhtira’ dan dalilul inayah. Yang dimaksudkan dengan dalilu ikhtira adalah kemampuan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam menciptakan segala sesuatu. Wujud adalm raya merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada. Hal ini karena alam raya tidak mungkin ada dengan sendirinya dan muncul secara kebetulan. Alam raya ada, karena diciptakan oleh Dzat Yang Maha Ada. Dia adalah Allah ta’ala.

Sementara dalilul inayah adalah argumen keberadaan Tuhan dengan melihat keteraturan alam raya. Keberadaan siang dan malam, perjalanan waktu, peredaran planet dan bintang-bintang, perkembangan makhluk hidup dari tiada menjadi ada lalu berkembang biak dan demikian seterusnya, menunjukkan bahwa kejadian tersebut tidak mungkin datang secara tiba-tiba. Ia membutuhkan dzat yang mengatur dan menata. Jika tidak ada pengaturan, tentu alam raya akan hancur seketika. Dzat itu, adalah Allah subhanahu wata’ala.

Sementara itu, wujud keberadaan Tuhan tersebar luas dalam ayat-ayat al-Quran, di antaranya dalah sebagai berikut ini:

 

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَمَاوَاتِ وَٱلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِي ٱلْلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلأَمْرُ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَالَمِينَ

 

Artinya : ”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristawa di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.( Al-A’râf: 54).

 

اَمۡ خُلِقُوۡا مِنۡ غَيۡرِ شَىۡءٍ اَمۡ هُمُ الۡخٰلِقُوۡنَؕ اَمۡ خَلَـقُوا السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَۚ بَلْ لَّا يُوۡقِنُوۡنَؕ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri?). Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)” (QS. Ath Thuur, 52:35-36).

 

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنْ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍفَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لآياتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih berganti malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya itu adalah tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS. Al Baqarah, 2:164).

 

قَالَ فَمَنۡ رَّبُّكُمَا يٰمُوۡسٰى‏ ()قَالَ رَبُّنَا الَّذِىۡۤ اَعۡطٰـى كُلَّ شَىۡءٍ خَلۡقَهٗ ثُمَّ هَدٰى

”Berkata Fir’aun: Maka siapakah Tuhanmu berdua, wahai Musa. Musa berkata: Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian Dia memberinya petunjuk” (QS. Thaahaa, 20:49-50).

وَ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Mahaesa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah, 2:163).

 

2 – Qidam

Qidam maknanya adalah sesuatu yang tiada berawal. Ia sifatnya azal. Ia sudah ada sebelum alam raya ada dan selalu akan ada. Tuhan sifatnya qidam, artinya Tuhan ada sebelum yang lainnya ada. Keberadaan tuhan tiada bermula. Dalilnya adalah firman Allah berikut ini:

هُوَ ٱلأَوَّلُ وَٱلآخِرُ وَٱلظَّاهِرُ وَٱلْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya : “ Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al Hadiid:3)

3 – Baqa`

Sifat Baqa` maknanya adalah kekal dan tiada ahir. Jagat raya seisinya, akan sirna, dan tiada yang kekal di alam raya ini selain hanya Allah saja. Hal ini sesuai dengan firman Allah berikut ini:

 

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

 

Artinya : ”Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (al-Qashash: 88).

4 – Mukhalafatu Lil Hawadith

Mukhalafatu Lil Hawadith makanya adalah berbeda dengan makhluk. Apapun yang ada pada Allah, apapun yang terdetik dalam diri kita, maka Allah tidaklah seperti itu.  Allah berbeda sama sekali dengan segala sesuatu, baik di alam fisik maupun alam metafisik. Allah berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya : ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura : 11).

5 – Qiyamuhu Bi Nafsih

Qiyamuhu Bi Nafsih maknanya secara bahasa adalah bahwa Allah berdiri dengan sendiri-Nya . maksudnya bahwa Allah tidak membutuhkan apapun juga dan dalam bidang apapun pula.  Allah tidak memerlukan bantuan dan pertolongan dari yang lainnya. Firman Allah:

إِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Artinya : ”Sesungguhnya Allah SWT benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (al-Ankabut : 6).

6 – Wahdaniyyah

Wahdaniyyah maknanya adalah  Esa. Tidak ada sekutu bagi Allah. Zat Allah tidak  terseusun layaknya benda. Tidak ada yang sama seperti dzat Allah. Tidak ada yang sama dengan sifat-Nya.  Tidak ada yang sama dalam sisi apapun juga seperti Allah. Allah berfirman :

لَوْ كَانَ فِيهِمَا ءَالِهَةٌ إِلاَّ اللهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Artinya : “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ’Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (al-Anbiya’: 22).

7 – Qudrah

Qudrah ( Maha Kuasa ) adalah sifat Allah yang azal, berada pada Zat-Nya Allah dan merupakan Kuasa Allah menjadikan dan menghancurkan setiap sesuatu yang bisa wujud. Allah berfirman :

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِن شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي الأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ عَلِيماً قَدِيراً

Artinya : ”Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (al-Fatir: 44).

8 – Iradah

Iradah ( Maha Berkehendak ) adalah sifat Allah yang azal, berada pada Zat Allah dan menentukan sesuatu bisa wujud atau tidak.  Allah berfirman :

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَآ أَرَدْنَاهُ أَن نَّقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Artinya : ” Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah ia.” (an-Nahl: 40).

9 – Ilmu

Ilmu ( Maha Mengetahui ) adalah sifat Allah yang Qadim, berada pada Zat Allah dan mengetahui segala sesuatu  yang terkait dengan perkara yang sifatnya harus ada (wajib) mungkin ada (mumkin) atau mustahil ada (mustahil). Pengetahuan Allah itu sifatnya inkisyaf atau pengetahuan mutlak terhadap segala sesuatu, baik yang telah ada, sedang ada maupun akan ada. Allah berfirman :

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Artinya : “Dan Allah memiliki kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu basah atau kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]

10 – Hayat

Hayat ( Maha Hidup ) adalah sifat Qadim, berada  pada Zat Allah yang menunjukkan bahw Allah Maha Hidup. Sifat Hayat menetapkan dan mengkuatkan mengenai sifat Allah yang lain, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Sama`, Bashar dan Kalam.  Allah berfirman :

اللَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Artinya : ”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (al-Baqarah: 255).

11 – Sama`

Sama` ( Maha Mendengar ) adalah sifat qadim, berada pada Zat Allah dan menunjukkan bahwa Allah Maha Mendengar atas segala sesuatu. Allah berfirman :

قَالَ لاَ تَخَافَآ إِنَّنِي مَعَكُمَآ أَسْمَعُ وَأَرَى

Artinya : “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku Maha mendengar dan Maha melihat”. (Thaha: 46).

12.  – Bashor

Bashor ( Maha Melihat ) adalah sifat yang qadim, berada pada zat Allah s.w.t Maha Melihat segala sesuatu yang ada, baik yang jelas, yang tersembunyi, maupun yang samar-samar.

Allah berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (as-Syura: 11).

13 – Kalam

Kalam ( Maha Berbicara ) adalah sifat yang qadim yang berada pada Zat-Nya Allah yang Maha berbicara tanpa menggunakan huruf dan suara, ataupun struktur bahasa. Allah berfirman :

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيماً

Artinya : ”…Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”. (An-Nisâ: 164).

 

Sifat Ma’nawiyah

Sifat Ma`nawiyah sesungguhnya merupakan sifat yang melekat pada sifat Ma`ani. Ia wujud karena adanya sifat ma`nawiyah tersebut.  Jika sifat ma’ani ada tujuh, maka sifat maknawiyah pun juga ada tujuh, dengan perincian sebagai berikut:

14 – Qaadiran (Dzat Yang Maha Kuasa), merupakan sifat yang melekat dari Kemaha Kuasaan Allah (qudrah)
15 – Muridan (Dzat yang berkehendak), merupakan sifat yang melekat pada sifat iradah Allah
16 – `Aliman (Dzat yang maha Mengetahui) merupakan sifat yang melekat pada diri Allah dari sifat ilm.
17- Hayyan (Dzat Yang Maha Hidup) merupakan sifat yang melekat pada diri Allah dari sifat hayat (Maha Hidup)
18- Sami`an (Dzat Yang Maha Mendengar), merupakans ifat yang melekat pada Allah dari sifat sam’an (Maha Mendengar_.
19- Bashiran (Dzat Yang Maha Mendengar), merupakan sifat Allah yang melekat dan terkait dengan sifat Maha Meihat (basiran)
20- Mutakalliman (Dzat Yang Maha Berbicara), merupakan sifat yang melekat pada Allah dan terkait dengan sifat Maha Berbicara (Kalam) .

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

15 − thirteen =

*