Tuesday, October 16, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Kapan Hajiyat Berubah Menjadi Dharuriyat?

Benarkah ini kaidah fikih?

الحَاجَةُ قَدْ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ
Jika benar, contohnya piye?

Jawa:

Benar. Ungkapan di atas adalah kaedah fikih. Ulama pertama yang menyatakan kaedah tersebut adalah Imam Haramain dalam kitab al-Burhan. Setelah beiau, lalu dinukil oleh ulama setelahnya seperti Imam Ghazali, Imam Suyuti, Iz Ibnu Abdussalam dan lain sebagainya.

Makna dari kaedah di atas adalah bahwa al-hajah, dapat naik tingkat menjadi kebutuhan adh-dharurat.

Sebelumnya pernah saya sampaikan bahwa yang dimaksudkan dengan hajiyat, itu adalah raf’ul haraj atau mengangkat kesulitan pada diri hamba. Semisal orang safar, supaya tidak berat maka ia dibolehkan untuk berbuka puasa.

Berbuka ini, sesungguhnya adalah kebutuhan hajiyat, dan bukan dharuriyat. Karena ia hajiyat, maka ia bisa dilaksanakan, atau ditinggalkan. Orang safar dan tetap berpuasa, maka puasanya tetap sah. Namun jika ia hendak mengambil rukhsah, maka ia boleh berbuka. Jadi posisi berbuka ini, masuk ranah hajiyat.

Namun, hajiyat itu dalam kondisi tertentu bisa berubah menjadi adh-dharuriyat. Contoh adalah seseorang yang sakit dan tidak memungkinkan puasa. Bahkan jika ia nekat berpuasa, maka dapat menurunkan kesehatannya dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Jika demikian, dan untuk melindungi jiwa, tidak berpuasa bukan menjadi pilihan lagi. Ia bahkan menjadi keharusan yang harus dilaksanakan. Ia berubah menjadi adh-dharuriyat. Jadi hajiyat itu, naik tingkat menjadi dharuriyat.

Kapan hajiyat naik tingkat menjadi dharuriyat? Hajiyat menjadi dharuriyat, manakala hajiyat jika tidak dilaksanakan dapat membahayakan dalam lima hal utama, yaitu agama, jiwa, harta, akal dan keturunan. Wallahu a’lam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open