Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Kapan Al-Maskut Anhu Bisa Diterapkan?


Kapan Al-Maskut Anhu Bisa Diterapkan?

Pertanyaan:

Kapan maskut ‘anhu itu ma’afu (sebagaimana dalam hadits wa sakata ‘an asya rahmatan lakum) dan kapan harus ditetapkan hukum nya? Apakah ada dhawabitnya?

Jawab
Waalaikum salam
Terkait al-Maksut anhu Ini diambil dari firman hadis nabi berikut:
ما أحل الله في كتابه فهو حلال ، وما حرم فهو حرام ، وما سكت عنه فهو عافية ، فاقبلوا من الله العافية ، فإن الله لم يكن نسيا ، ثم تلا هذه الآية ( وما كان ربك نسيا
Artinya: sesuatu yang dihalalkan Allah dalam a-kitabnya )al-Quran) maka ia halal. Apa yang diharamkan maka ia haram. Apa yang didiamkan bearti ia al adiyah (boleh dikerjakan). Maka terimalah al afiyah dari Allah itu karena Allah tidak pernah lupa. Lalu Rasulullah saw membaca ayat berikut: Dan Tuhanmu tidak pernah lupa) (HR. Baihaqi)

Darisini muncul kaedah al-istishab yaitu (بقاء ماكان على ما كان)

Artinya bahwa sesuatu menganut hukum asal selama tidak ada hukum lain yang memalingkan dari hukum asal tadi. Kaedah yang umum digunakan adalah:

لأصل في الأشياء الإباحة
Artinya prinsip atas sesuatu adalah boleh.

Hanya saja, kaedah tadi ada shawabitnya yaitu tidak mengandung mudarat

Tentu saja, kaedah ini ada catatannya, yaitu bahwa sesuatu tadi tidak mengandung mudarat. Jika ia mengandung mudarat, maka ia wajib ditinggalkan dan yang berlaku adalah kaedah berikut:

لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ

Tidak Boleh Melakukan Sesuatu Yang Membahayakan Diri Sendiri Ataupun Orang Lain

Atau kaedah lain:

الأصل في المضارّ التحريم
“Hukum sesuatu yang mudharatkan adalah haram.”

Kaedah di atas sesuai dengan firman Allah:

وَلاَ تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ
Dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. [ath-Thalâq/65:6]

لاَ تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلاَ مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ
Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya. [al-Baqarah/2:233]

ولا تلقوا بأيديكم الى التهلكة
(Artinya : dan janganlah kamu jatuhkan dirimu dalam kehancuran) (QS. Al-Baqarah: 195)

Kedua: merujuk dengan dalil naqli atau hukum pokok.
Yang juga harus dilakukan adalah melihat pada hukum pokok dengan melihat pada nas-nas terkait. Apakah ada kasus yang mirip dengan hukum asa?
Lalu dilihat, illatnya apa? Jika ada kesamaan illat, maka bisa dilaukan hukum kiyas.

Contoh

Narkoba. Tidak ada nas sharih terkait hukum narkoba ini. Namuntidak serta merta kkita menganggap bahwa ia masuk dalam al maskut anhu atau sesuatu yang didiamkan oleh rasulullah. Karena jika kita merujuk pada dalil naqli, ada hukumpokok yang sudah ada dan nartkoba dapat dikiyaskan pada hukum pokok itu, yaitu terkait dengan iskar.

Karena hukum asal haram, maka narkoba sebagai hukum cabang,megikuti hukum asal yaitu haram.
Wallahu alam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open