Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Kaedah Ushul Yang Diselewengkan

ilmu-tafsir 

Seri Counter Fikih Kebinekaan. Artikel ke 41.

 

Dalam buku fikih kebinekaan halaman 109, Muhammad Azhar berkata:

 

Dengan berbasis pada epistemologi keilmuan Islam kontemporer di atas, maka produk fikih kebinekaan juga harus menyesuaikan dengan landasan epistemologis tersebut. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa epistemologi Islam klasik lebih bersifat—meminjam format filsafat Platonian—idealistik-ontologik-metafisik, maka pada umumnya, produk fikih yang dihasilkan cenderung bersifat—meminjam perspektif M. Abed al-Jabiri—tekstual-bayani. Atau dalam perspektif kajian literatur tafsir dan fikih klasik, prinsip al-‘ibrah bi-umûmi al-lafzh (pemaknaan tekstual), lebih dominan.

 

Mari kita lihat:

Sebelumnya telah kita sampaikan terkait makna:

 

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

 

Imam Razi dalam kitab al-Mahshul mengatakan bahwa makna dari suatu ayat merupakan subtansi dan makna itu berlaku umum. Sebab tidak dijadikan sebagai justifikasi hokum kepada orang tertentu saja. Pendapat ini juga didukung oleh banyak ulama, seperti Ali Taimiyah dalam kitab al-Muswaddah fi Ushul Fikih.

 

Dengan mengambil makna, maka sebab dari turunnya sebuah ayat tidak menjadi pertimbangan hukum. Contoh ayat berikut:

 

إِنّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Artinya:”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,.” (An-Nisa’: 58).

 

Ayat ini turun saat terjadi fathul Makkah. Waktu itu, Rasulullah saw meminjam kunci Ka’bah dari Usman bin Thalhah. Memang pada waktu itu, yang diamanahi untuk memegang kunci ka’bah adalah Usman. Setelah Ka’bah terbuka, Nabi Muhammad saw mengembalikan lagi kunci ka’bah kepada Usman.

 

Dengan kaedah di atas, bisa dipahami bahwa mengembalikan amanat harus ditegakkan untuk siapapun. Jadi bukan saja terkait dengan amanat kunci Ka’bah, namun mencakup seluruh amanat yang berada di pundak umat manusia. Amanat harus ditegakkan sesuai dengan asas keadilan.

 

Contoh ayat lain:

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖإِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚوَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚوَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ
Artinya: Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.

 

Ayat di atas turun ketika Aus bin Shamit melakukan zhihar kepada istrinya. Zhihar adalah lafal yang keluar dari mulut suami kepada istrinya dengan menyatakan “Anti alayya kazhari ummi”. Kata ini di masa jahiliyah adalah kiyasan seorang suami untuk mentalak istrinya. Jika lafal ini terucap, maka telah jatuh talak. Lantas Khaulah istri Shamid segera menanyakan peristiwa ini kepada nabi. Apakah ia dianggap talak atau tidak. Lalu turunlah ayat zhihar.

 

Dengan ayat ini, zhihar tidak dianggap talak. Namun suami harus melakukan tebusan, sehingga ia dapat menggauli istrinya sebagaimana semula. Terkait tebusan diterangkan secara gambling oleh ayat berikut:

 
وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚوَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۖفَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ۚذَٰلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚوَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۗوَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.

 

 

Meski ayat tadi turun kepada Shamit, namun bukan bearti bahwa zhihar hanya berlaku pada shamit. Jika ada umat Islam melakukan lafal yang sama kepada istrinya, maka ia telah melakukan zhihar dan ayat ini berlaku kepadanya.

 

Ini adalah makna dari kaedah:

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

Jadi yang terpenting adalah makna yang terkandung dalam ayat, dan bukan sebab dari turunnya ayat. Makna tadi lantas berlaku umum bagi umat Islam secara keseluruhan.

 

Di sini, Muhammad Azhar punya versi lain dalam memaknai kaedah di atas.

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

Dimaknai sebagai pemaknaan tekstual. Menurut beliau, pemaknaan tekstual dengan kaedah ini yang mendominasi tafsir klasik.

 

Saya tidak tau, sejak kapan kaedah tersebut berubah makna. Ulama siapakah yang menyatakan bahwa kadah tadi artinya pemaknaan tekstual. Sayangnya, Muhammad Azhar tidak menyebutkan sumber bacaannya, sehingga terkait perubahan makna dari kaedah di atas bisa ditelurusi. Dalam bukunya, al-Jabiri pun tidak pernah memaknai kaedah di atas sebagai pemaknaan tekstual.

 

Apakah Muhammad Azhar tidak tau kaedah tersebut, atau sekadar untuk mengelabuhi pembaca bahwa pendapatnya bersandar pada kaedah dalam ulumul Quran.

 

Hendaknya kita lebih punya tanggungjawab ilmiah tanpa harus memelintir makna dari kaedah yang telah diletakkan para ulama demi justifikasi pendapat pribadi. Pemelintiran makna barangkali akan berpengaruh untuk menggiring opini masyarakat awam. Hanya sikap seperti ini tidak layak dilakukan oleh seorang intelektual. Wallahu a’lam

 

 

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

6 + 10 =

*