Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Jihad Terbaik Itu, Jihad Melawan Hawa Nafsu

weyuii

 

 

Dalam bermasyarakat, terkadang kita akan menemukan keanehan dalam diri manusia. Kita mendapatkan seseorang yag menurut kita, hidup berkecukupan. Itu dapat kita lihat dari posisi dia di sebuah perusahaan, atau jabatan publik yang sedang dia pegang.

 

Secara logika masyarakat bawah, kehidupannya sudah mewah. Dia sudah punya rumah, penghasilan besar dan juga punya kendaraan mewah. Jadi, semua itu sudah lebih dari cukup untuk sekadar hidup normal.

 

Ya, memang logika masyarakat bawah sangat sederhana. Bagi mereka, yang penting hidup bisa makan sehari tiga kali, punya tempat tinggal dan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, baik untuk sekolah anak-anak atau lainnya. Mereka tidak berfikiran hidup mewah, apalagi sampai berfoya-foya.

 

 

Tapi ternyata logika ini “tidak berlaku” bagi manusia yang hidupnya tidak normal. Bagi dia, hidup ini bukan sekadar mengisi perut saja. Hidup adalah menikmati kemewahan dunia. Karena surga, bagi mereka ya dunia ini. Maka, kemewahan yang sudah dia dapatkan, gaji yang berlipat, masih juga tidak bisa mencukupi kebutuhan dirinya. Selalu saja ada “kebutuhan mendesak” yang belum dia raih. Selalu ada dalam dirinya untuk mempunyai kehinginan yang lebih, lebih dari segalanya. Yang dikejar adalah prestos, gaya hidup, dihormati secara kelas social dan berbagai atribut keduniaan lainnya. Meski ia sudah mempunyai uang trilyunan, tapi belum juga cukup. Pada akhirnya, ia melakukan perbuatan naïf, korupsi, manipulasi dan lain sebagainya.

 

Manusia seperti ini, tidak akan pernah merasa cukup. Manusia itu, tatkala diberi gunung emas, maka ia akan meminta guung emas lainnya. Dan demikian seterusnya. Manusia tidak akan pernah bosan untuk menumpuk harta sampai dia sendiri masuk ke dalam tanah. Sungguh benar firman Allah:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)

  1. Bermegah – megah telah melalaikan kalian.
  2. sampai kalian masuk kedalam kabur.
  3. janganlah begitu!! Kelak kalian akan mengetahui.
  4. dan janganlah begitu!! Kelak akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).
  5. Janganlah begitu !! jika kalia mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
  6. niscaya kalian benar – benar akan melihat neraka jahim
  7. dan sesungguhnya kalian benar benar akan melihatnya dengan ‘ainul yakin
  8. kemudian kalian pasti akan di tanyai pada hari itu tentang kenikmatan.

 

Liha penjelasan berikut:

عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَقْرَأُ (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ) قَالَ « يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ ». صحيح مسلم – م (8/ 211)

Artinya: “Mutharrif mendapatkan riwayat dari bapaknya radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku pernah menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang membaca surat (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ) , beliau bersabda, “Anak manusia mengucapkan, ‘Hartaku, hartaku’,kemudaian beliau bersabda, “Wahai anak manusia, Apakah kamu memiliki dari hartamu melainkan yang kamu telah makan lalu habis, atau yang kamu telah pakai lalu rusak, atau yang telah kamu sedekahkan maka itu yang tersisa”.  (HR. Muslim).

 

 

Juga firman Allah berikut:

 

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ [العاديات: 8]

Artinya: “Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta”. (QS. Al‘Adiyat: 8).

 

 

Manusia memang mempunyai jiwa untuk memiliki. Apapun yang bisa dia miliki, akan diambil. Manusia punya sifat untuk bersegara dalam memiliki sesuatu, sehingga mudah tergelincir untuk melakukan cara-cara pantas yang tidak sesuai dengan syariat.

 

Dalam bukunya Bidayah Wannihayah, Ibnu Katsir menceritakan bahwa tatkala Allah menciptakan Adam, tatkala ruhnya baru sampai mata, Adam langsung melihat keindahan surga. Adam bersegera punya keinginan memiliki apa yang ia lihat.. Inilah makna dari firman Allah:

خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ

Artinya: “Manusia diciptakan dari sikap ketergesa-gesaan” (Al-Anbiya: 37)1

 

Seringkali setiap perbuatan buruk, kita selalu menisbatkannya pada perbuatan setan. Dalam benak kita, setan itu adalah makhluk Allah yang tersendiri yang selalu mengganggu manusia. Padahal setan adalah semua pelaku perbuatan buruk. Setan itu bisa dari manusia atau jin. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk berlindung dari perbuatan syaitan, baik yang berbentuk manusia atau jin.

 

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

 

. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

  1. raja manusia.
  2. sembahan manusia.
  3. dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
  4. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
  5. dari (golongan) jin dan manusia.

 

Jadi bisa jadi, setan itu adalah diri kita sendiri. Bisa saja, karena ketidak mampuan kita dalam mengatur hawa nafsu, kita mudah melakukan berbagai perbuatan buruk. Kita menipu, korupsi, manipulasi dan berbagai perbuatan negative lainnya yang tujuan utamanya sekadar untuk memuaskan diri sendiri.

Perhatikan hadis berikut:

عن أبي ذر رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” أفضل الجهاد أن تجاهد نفسك و هواك في ذات الله عز وجل ” (صححه الألباني في السلسلة الصحيحة

Artinya: Jihad terbaik adalah anda berjihad melawan diri anda dan hawa nafsu anda hanya untuk dzat Allah azza wa jalla” (HR. Abu Nuaim)

 

Benarlah hadis nabi di atas yang menyatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu itu merupakan jihad yang agung. Ia adalah jihad melawan musuh batin, musuh kasat mata yang ada dalam diri kita sendiri. Musuh yang selalu ada dan selalu menggelayuti diri kita. Semoga di bulan suci ini, kita bisa berlatih untuk menjadi manusia yang bisa melawan hawa nafsu dan meletakkan segala sesutu sesuai dengan kadarnya. Wallahu alam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open