Saturday, January 23, 2021
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Jawaban Sederhana Terkait Apologi “Tuhan Membusuk”

UIN-ada-spanduk-Tuhan-Membusuk-di-UIN-Sunan-Ampel-2-jpeg_image_

Setelah spanduk dengan tulisan “Tuhan Membusuk” tersebar di mana-mana, banyak apologi yang dikeluarkan oleh pembela kalimat tersebut. Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Tuhan bukanlah Allah, namun berhala-berhala yang ada dalam diri manusia, atau Tuhan materialism dan lain sebagainya. Tuhan itulah yang sesungguhnya dimaksud dengan “Tuhan Membusuk”.

 

Ada jawaban sederhana terkait dengan berbagai apoligi di atas.

  1. Dalam penulisan jurnalistik atau sistem penulisan karya ilmiah, suatu kata akan dianggap metafor, manakala ada tanda kutip, semisal “Tuhan Membusuk”. Meksi tidak ada tafsiran mengenai makna Tuhan, pembaca akan mafhum bahwa yang dimaksud Tuhan dalam kalimat tersebut bukanlah Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Jika tidak ada tanda kutip, maka harus ada indikator kalimat baik yang terletak sebelum kalimat, atau sesudahnya. Indikator itulah yang akan menjadi keterangan mengenai makna Tuhan tadi. Dengan demikian, Tuhan tadi akan dapat dipahami sesuai dengan perspektif sang penulis. Saya sendiri pernah menulis dengan ungkapan, “bahkan barangkali Tuhan telah mati” di artikel “Dekadensi Moral Pelajar Akibat Sekularisasi Pendidikan”  dan “Tuhan hanya ditaruh dipojok masjid” di artikel dengan judul  “Materialisme Menggerus Akidah Umat, Dimana Ulama kalam?”. Hanya saja, ada ungkapan sebelum dan sesudahnya sebagai indikator sehingga pembaca tidak salah tafsir.
  3. Jika tidak ada tanda kutip atau tidak ada indikator dari kalimat sebelum atau sesudahnya, maka “Tuhan Membusuk” mempunyai makna mutlak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Jika kita lihat dari sepanduk besat yang diusung oleh para mahasiswa tersebut, jelas sekali tidak ada tanda kutip dan tidak ada indikator kalimat, baik sebelum maupun sesudahnya. Bahkan kata “Tuhan Membusuk” dengan huruf kapital.  Huruf kapital jika ditulis di seluruh kalimat, mengandung makna penekanan. Artinya memang Tuhan Yang Maha Esalah yang membusuk.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four × three =

*