Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Irfani Itu Bukan Monopoli Umat Islam

sda

Sebeumnya pernah kami sampaikan terkait manhaj irfan. Pada dasarnya, manhaj irfan adalah sebuah epistem yang bertumpu pada hati, perasaan dan batin. Ilmu irfan bisa dikatakan sebagai ilmu olah batin dan perasaan. Ia berdasarkan pada latihan dan pengalaman batin seseorang.

Terkait ilmu olah batin, tidak hanya berasal dari dunia Islam. Jauh sebelum agama ini ada, sudah banyak aliran kepercayaan yang juga bertumpu pada olah batini. Di Yunani Kuno misalnya, ada filsafat Isyraqiyyah dan Ghanusiyyah yang bertumpu pada olah batin. Di India, ada Buda dan Hindu yang juga bertumpu pada olah batin. Para brahmana melakukan berbagai ritual keagamaan, yang pada prinsipnya terkait dengan upaya mendapatkan ilmu pengetahuan berdasarkan pada pengalaman olah batin ini. Banyak amalan dan prilaku yang harus ditapaki demi mendapatkan “ilmu kebatinan”. Di Kristen sendiri ada sistem kependetaan. Tujuan utamanya juga olah batin. Di jawa ada aliran kebatinan yang punya ritual mistis. Mereka dapat ilmu “wangsit” karena olah batin.

Tujuan dari olah batin ini bervariasi, bergantung pada alirannya masing-masing. Namun pada umumnya ada titik temu, yaitu mensucikan jiwa dari gemerlapnya dunia, serta berusaha sekuat tenaga untuk dekat dengan Yang Maha Kuasa. Dari sini muncul aliran “cinta”, yang hanya menghiasi hati dengan cinta kepada Sang Pencipta. Ada aliran “mukasyafa”, yang hatinya sudah dipenui dengan cahaya Tuhan. Ada aliran “wihdatul wujud”, manunggaling kawulo gusti, atau “fana mutlak”, di mana sudah tidak ada lagi di dunia ini selain dari pada Tuhan. Bahkan dirinya sendiri tidak ada, selain dari pada Tuhan.

Di Islam sendiri, olah spiritual juga berkembang. Antara satu syaih dengan syaih yang lain mempunyai jalan (suluk), maqam dan ahwal sendiri-sendiri. Mereka juga punya pengalaman batin sendiri-sendiri. Para syaih itu, berdasarkan pengalaman batinnya lantas mendirikan “sekolahan spiritual”, yang disebut dengan tariqat.

Kadangkala kita melihat tariqat ada yang sangat aneh. Ada yang olah batinnya dengan bergoyang, menyanyi, sangat mensakralkan syaih, dan lain sebagainya. Ada tariqah yang biasa-biasa saja, bahkan ada juga “sekolahan spiritual” tanpa tariqah.

Karena varian tariqah bermacam-macam, maka ulama memberikan batasan-batasan tertentu. Ada tariqah mu’tabarah dan ghair mu’tabarah. Mu’tabarah maksudnya bahwa tariqah tersebut diakui karena jelas sanadnya dan ajarannya dianggap tidak menyimpang dari al-Quran dan sunnah nabi. Jika secara sanad dan ajaran dianggap menyimpang, maka ia keluar dari tariqat mu’tabarah. Hanya dalam realitanya, pembagian tersebut sangat subyektif dan bergantung kepada syaih atau ulama bersangkutan.

Para ulama sufi, seperti imam Qusyairi dan Imam Junaid selalu mengatakan, bahwa tariqatnya adalah yang sesuai dengan kitab dan sunnah. Jika telah menyalahi kitab sunnah, dianggap telah keluar dari thariqat. Jadi, pijakan dan timbangan utamanya tetap pada al-Quran dan sunnah nabi. wallahu a’lam

▶️ Mengingatkan ☺️ —-❤
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

sixteen − 2 =

*