Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ini Kelemahan Pembagian Tauhid Model Wahabi

unduhan (2)fdsah

 

 

Jika kita buka buku-buku tauhid karya ulama wahabi, kita akan menemukan pembagian tauhid menjadi tiga, yaitu uluhiyyah, rububiyyah dan aswa wa sifat. Ini bisa dilihat dari tulisan syaih utsaimin atau Syaih Fauzan. Pembagian ini, menurut mereka merupakan hasil kajian dari ayat-ayat al-Quran. Namun apakah yang dimaksudkan dengan tiga pembagian tauhid tersebut?

 

Tauhud uluhiyah adalah adalah percaya hanya Allahs emata dzat yang layak untuk disembah. Ini sesuai dengan firman Allah.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)..

 

Tauhid rububiyah adalah percaya bahwa Allah saja Tuhan yang menciptakan makhluk-Nya, mengatur alam raya, memberikan rezki kepada hamba-Nya, mematikan dan menghidupan dan berbagai hal lainnya yang sesuai dengan dzat Allah. Firman Allah:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُون

 

Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22)..

 

Tauhid sifat adalah percaya bahwa Allah mempunyai sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah semata. Firman Allah:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. 

 

 

Dari sini kalangan wahabi berkesimpulan bahwa secara tauhid rububiyyah, maka semua manusia di bumi, termasuk orang kafir quraisy sesungguhnya telah bertauhid. Mereka percaya bahwa allah lah yang menciptakan alam raya ini. Hal ini didukung dengan firman Allah berikut ini:

 

(9). وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS. Az-Zuhruf: 9)

 

Juga firman Allah berikut:

لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ – الزمر : 38

 

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaKu, Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaKu, Apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (Qs. az-Zumar: 38)

 

Mari kita lihat kelemahan pembagian tauhid di atas.

Kita mulai dari makna tauhid, apakah yang dimaksud dengan tauhid itu?

Menurut Saadduddin Attiftazani asy-Syafii al-Asy’ary dalam kitab syarhul Mawaqif bahwa  tauhid adalah kepercayaan seseorang untuk tidak menyekutukan Tuhan dan tidak menyekutukan dengan sesuatu yang menjadi kekhususan Allah.

 

Maksud dari pernyataan Tiftazani itu adalah bahwa seseorang baru bisa dianggap bertauhid manakala ia hanya meyakini Allah saja Tuhan pencipta alam serta tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun. Ia juga meyakini bahwa hanya Allah saja yang mempunyai sifat-sifat ketuhanan, sementara selain Allah sama sekali tidak mempunyai sifat ketuhana. Jika seseorang menganggap ada dzat lain yang punya sifat ketuhanan selain Allah maka ia telah keluar dari tauhid.

 

Di sini tidak bisa dipahami bahw Tiftazani membagi tauhid menjadi dua, yaitu uluhiyyah dan sifat (khawas). Antara uluhiyyah dan sifat menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. Dengan kata lain bahwa jika ada seseorang yang meyakini Allah sebagai pencipta alam, namun di sisi lain mempunyai keyakinan bahwa di dunia ini ada dzat lain yang mempunyai kuasa selain Allah, maka ia belum dianggap bertauhid.

 

Kamaluddin Ibnu Abi Syarif al-Hanafi al-Asyari dalam kitab al-Musayarah berpendapat bahwa tauhid adalah keyakinan mengenai keesaan Allah baik dalam dzat Allah, sifat maupun af’al (perbuatan) Allah.

 

Artinya bahwa seseorang baru dianggap bertauhid manakala ia meyakini Allah saja Tuhan semesta alam, Allah saja yang mempunyai sifat ketuhanan dan Allah saja yang punyak kuasa ketuhanan. Jika ada mahluk yang dianggap mempunyai kuasa ketuhanan, sifat ketuhanan atau bahkan dia dzat Tuhan, maka ia tidak dianggap bertauhid.

 

Di sini yang harus digarisbawahi bahwa Kamaluddin tidak membagi tauhid menjadi tiga, yaitu tauhid uluhiyyah, sifat dan af’al. Tiga hal yang disebutkan oleh Kamaluddin adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Jika seseorang percaya bahwa hanya Allah sang pencipta alam raya, namun ia percaya bahwa ada dzat lain yang punya sifat ketuhanan, maka ia tetap dianggap belum bertauhid.

 

 

Mari kita pandingkan dengan pendapat ulama wahabi terkait pembagian tauhid seperti yang disebutkan di atas. Menurut syaih Utsaimin dan Syaih Shalih Fauzan bahwa tauhid dibagi menjadi tiga, yaitu uluhiyyah, rububiyyah dan sifat. Seseorang bisa saja bertauhid rububiyyah, dengan percaya bahwa Allah sang Pencipta alam raya, namun belum tentu mereka bertauhid uluhiyyah dengan hanya menyembah Allah yang satu. Ini seperti kafir Quraisy yang mengakui bahwa Allah lah pencipta alam raya, namun mereka tidak menyembah Allah. Jadi secara uluhiyyah dan tauhid sifat wa asma, mereka belum bertauhid.

 

 

Pendapat di atas sesungguhnya ada kerancuan. Dikatakan bertauhid, jika seseorang benar-benar mengesakan Allah dengan segala konsekwensinya, termasuk tidak percaya ada sifat lain yang mempunyai kekuatan selain Allah. Tidak masuk akal, seseorang dianggap bertauhid hanya karena percaya Allah sebagai Tuhan, namun di sini lain ia belum bertauhid karena masih menganggap dzat lain punya sifat ketuhanan.

 

Bertauhid bisa dibuktikan dengan iqrar atau iman. Orang baru dapat dikatakan bertauhid manakala mengakui keesaan Tuhan dan keesaan sifat-sifat Tuhan, lalu dibuktikan dengan iqrar (pengakuan) dengan mengucapkan kalimat syahadat. Jika seseorang bersyahadad, baru kita anggap ia bertauhid dan masuk dalam barisan orang-orang Islam.

 

Iqrar ini ada implikasi secara fikih. Orang yang telah bersyahadat, maka ia harus melakukan berbagai macam kewajiban sebagai seorang mukallaf. Ia harus shalat, puasa, zakat dan haji jika mampu. Ia juga terkena kewajiban mukallaf lainnya seperti nafkah, waris, hukuman hukud dan ta’zir. Jika ada seorang muslim tidak membayar zakat, maka ia bisa dikenai hukuman ta’zir. Bahkan ia bisa dianggap makar oleh pemerintah dengan konsekwensi hukuman mati (diperangi).

 

Jika ia sudah berkeluarga dan meninggal dunia, kemudian meninggalkan harta waris, maka ahli waris berhak untuk mendapatkan hak warisnya. Ia diharamkan menikahi orang musyrik dan demikian seterusnya. Jadi, implikasi hukum berlaku hanya dengan pengakuan lisan dia dengan mengucapkan kalimat syahadat itu. Ia baru benar-benar dianggap bertauhid.

 

Sementara itu, bagi kalangan wahabi, selama orang percaya bahwa ada Tuhan yang menciptakan alam raya, maka secara rububiyyah ia telah bertauhid. Jadi orang Kristen, Yahudi, Buhda, Hindu, Konghucu dan aliran keagamaan lain, mereka dianggap telah bertauhid. Orang seperti Ahok yang secara jelas telah menista al-Quran dan ulama pun, karena mengakui Tuhan Pencipta Alam, maka ia telah bertauhid.

 

Mereka berpendapat bahwa orang musyrik Mekkah pun dianggap bertauhid. Bahkan ada yang lebih jauh lagi dengan berpendapat bahwa sesungguhnya seluruh umat manusia ini telah bertauhid karena iqrar (pengakuan) atas Tuhan sebagai pencipta alam ini. Iqrar dalam hati saja, bagi kalangan wahabi sudah cukup seseorang dianggap bertauhid rububiyyah.

 

Kenyataannya bahwa ada manusia yang sama sekali tidak percaya ada Tuhan sebagai pencipta alam. Dalam al-Quran, mereka disebut dengan addahriyun. Merkea hanya percaya dengan kehidupan dunia saja dan tidak percaya dengan kehidupan setelah mati. Mereka menafikan adanya Tuhan.

(24). وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚوَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

(QS. Al-Jatsiyah: 24)

 

Bagaimana dengan surat Azzumar ayat 38? Khithab (wicana) dari ayat di atas seperti yang disebutkan oleh Imam Suyuthi da;am tafsir Jalalain adalah orang Kafir Qurais. Artinya bahwa umumnya kafir Quraisy percaya Tuhan sebagai pencipta alam, namun tetap menyekutukan Allah. Dalam realitanya ada juga orang yang sama sekali tidak percaya Tuhan yang disebut sebagai kalangan dahriyun itu.

 

Addahriyun dalam konteks kita sekarnag adalah para Atheis dan komunis, manusia yang tidak percaya Tuhan. Paham ini bahkan menjadi ideologi yang dipegang oleh banyak orang, bahkan negara, seperti Soviet tempo dulu dan China saat ini. Alam raya ini wujud pada dasarnya hanya berlandaskan pada dialektika materialis semata, seperti yang sering diungkapkan oleh Marxis.

 

 

Jadi kita tidak bisa memaksa bahwa Marxis dan Lenin telah bertauhid rububiyyah. Apalagi Nietzsche yang berpendapat bahwa Tuhan telah mati.  Apakah ia telah bertauhid rububiyyah? Jadi, pembagian tauhid menjadi tiga tadi, mempunyai kerancuan dan bahkan kesalahan yang sangat fatal. Di kalangan firqah Islam, hanya wahabi yang mempunyai pembagian tauhid seperti itu.

 

Kepercayaan terhadap Allah sebagai Tuhan pencipta alam, sebagai Tuhan yang layak disembah dan juga sebagai Tuhan yang punya sifat ketuhanan, merupakan satu kesatuan dan tidak boleh dipisah-pisahkan. Memisahkan antara tiga hal tadi, selain terjadi kerancuan darii sisi tauhid, juga akan berimplikasi panjang dari sisi hukum fikih. Bahkan bisa memporakporandakan hukum fikih Islam. Wallahu a’lam

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

 

Comments

comments

 border=
 border=

One comment

  1. Pembedaan 3 tauhid itu untuk memudahkan, mas.Bukan untuk menceraiberaikan. Ikuti:
    https://tulisansulaifi.wordpress.com/2017/09/12/trilogi-tauhid-dan-penerapannya/
    Barakallah fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open