Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Implikasi Negatif Pembagian Tauhid Hakimiyah

gfdsh

Sebelumnya pernah kami sampaikan terkait kelemahan pembagian tauhid perspektif wahabi yang dibagi menjadi tiga, yaitu tauhid uluhiyyah, rububiyyah dan tauhid asma wa sifat. Ada sebagian ulama yang menambah satu bagian lagi, yaitu tauhid hakimiyah. Hanya saja, pembagian ini tidak menjadi kesepakatan di kalangan ulama wahabi. Syaih Utsaimin beranggapan bahwa pembagian tauhid hakimiyah ini hanya dianggap menyesatkan. Pendapat ini juga diamini oleh syaih Shalih Fauzan. Menurut mereka, bahwa tauhid hakimiyah sudah masuk dalam bahasan tauhid rububiyyah.

 

Tauhid hakimiyah adalah tauhid atau kepercayaan bahwa hukum yang berhak diterapkan di dunia ini hanyalah hukum Allah. Selain hukum Allah dianggap taghut dan jahiliyah. Ia layak untuk ditinggakan bahkan diperangi. Allahlah al-hakim, Tuhan manusia yang punya hak untuk menurunkan aturannya bagi umat manusia. Tugas manusia hanya menjalankan hokum Allah itu sesuai dengan maslahat manusia.

 

Ulama pertama yang menambahkan tauhid menjadi empat bagian adalah Sayyid Qutub. Ia menulis buku dengan judul Ma’alim fi ath-Thariq. Dalam buku ini, beliau membagi msyarakat menjadi dua, yaitu masyarakat Islam dan masyarakat jahiliyah. Menurutnya bahwa suatu masyarakat yang bergerak dengan menggunakan nilai-nilai keislaman adalah masyarakat Islam. Sebaliknya, masyarakat yang tidak berprilaku sesuai hukum Allah adalah masyarakat jahiliyah.

 

Jadi masyarakat jahiliyah bukan bearti suatu masyarakan sebelum Islam datang.namun ia adalah sifat manusia, apakah mnerima hokum Allah atau tidak. Karena ia sifat, maka ia bisa berulang dan terjadi kapan dan dimanapun. Jika saat ini, masyarakat dan pemerintahan tidak menerapkan hukum Allah, bearti masyarakat dan pemerintahan kita dianggap jahil. Pemerintah yang sudah keluar dari tauhid hakimiyah, dianggap taghut dan kafir serta layak untuk diperangi. Di antara darlil yang dijadikan rujukan adalah firman Allah berikut ini:

 

 

﴿فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ﴾

 

  1. “Maka putuskan hukum di antara mereka menurut apa yang diturunkan Alloh, dan jangan menuruti hawa nafsu mereka untuk meninggalkan kebenaran yang telah diturunkan padamu…”(QS. Al-Maidah: 48)

 

﴿وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوْكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ﴾

 

  1. “Dan hendaklah kamu semua memutuskan hukum di antara mereka menurut apa yang telah diturunkan oleh Alloh (Al-Quran) dan jangan menuruti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah jangan sampai mereka mempengaruhimu untuk meninggalkan sebagian apa yang diturunkan oleh Alloh kepadamu” (QS.Al-Maidah: 49)

 

﴿وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ

 

  1. “Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Alloh turunkan, maka mereka itu orang-orang kafir”(QS.Al-Maidah: 44)

 

﴿وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

 

  1. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Alloh turunkan, maka mereka itu orang-orang zalim)QS.Al-Maidah:45(

 

﴿وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ﴾

 

  1. Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Alloh turunkan, maka mereka itu orang-orang fasik)QS. Al-Maidah: 47(

 

﴿فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا﴾

 

  1. Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sehingga mereka bertahkim kepadamu dalam segala perselisihan diantara mereka. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hatinya menerima hukummu (putusanmu) dan mereka sepenuhnya menyerah kepadamu(QS.An-Nisa: 65)

 

 

 

 

Apa yang disampaikan oleh sayyid Qutub, banyak diamini oleh kelompok Islam. Aiman adz-Zhawahiri misalnya, ia mendirikan Jamaah Islamiyah (JI) yang mempunyai anggota sangat militan. JI tidak sungkan-sungkan untuk menyerang dan membunuh pejabat Negara karena dianggap taghut dan kafir. Dalam aksinya, JI bahkan sering menggunakan bom bunuh diri dengan menargetkan berbagai instansi pemerintahan, utamanya miter dan polisi.

 

 

Keyakinan JI, juga diamini oleh kelompok Islam lainnya, seperti Jamaah Takfir wal Hijrah dan ISIS. Dua kelompok ini banyak melakukan berbagai tindakan yang sangat merugikan pemerintahan Islam. ISIS ((Negara Islam Irak dan Suriah) bukan saja menargetkan pemerintahan Islam, bahkan kelompok lain yang pro pemerintah dan tidak sejalan dengan gagasan mereka, dianggap menyimpang dan layak untuk diperangi. Penerapan syariah Islam hukumnya wajib. Sayangnya, syariat di sini sesuai dengan perspektif mereka saja sehingga menafikan pandangan dan ijtihad lain dari para ulama.

 

 

Terkait dengan kewajiban perintah untuk menerapkan hukum Allah di muka bumi, sesungguhnya bukan ide baru. Persoalan ini sudah menjadi kesepakatan seluruh ulama Islam. Jika kita membaca ilmu ushul fikih, ada bahasan terkait dengan al-hakim, yaitu peletak hukum. Kajian al-hakim di ilmu ushul fikih, umumnya terletak di bab-bab awal, sebelum ada pendalaman terkati bahasan hukum. Secara jelas, dalam ushul fikih disebutkan bahwa al-hakim adalah Allah.

 

 

Lantas apa yang baru dari pemikiran sayyid Qutub ini? Jika kita lihat, pemikiran Sayyid Qutub menempatkan persoalan politik (siyasah syar’iyyah) ke dalam bahasan ilmu tauhid. Politik menyangkut keimanan dan kekafiran. Di sejarah Islam, ada dua kelompok yang memasukkan Islam dalam bahasa tauhid, yaitu Syiah dan Khawarij.

 

Di Syiah, politik umumnya menyangkut masalah syarat pemimpin, yaitu harus dari keturunan Ali karamallahu wajhah. Bagi Syiah, politik bukan saja terkait dengan urusan dunia, namun juga agama. Oleh karena itu, urusan sepenting ini tidak bisa diserahkan begitu saja kepada umat manusia. Ia harus bersifat penunjukkan langsung dari Rasulullah saw. Dan yang ditunjuk oleh Rasulullah saw adalah Imam Ali, lalu Imam Ali menunjuk para Imam setelahnya. Demikian seterusnya.

 

Setelah imam kedua belas yang dianggap ghaib, dan juga gempuran sekularisasi Barat, pemikiran politik syiah berkembang dan muncul konsep wilayatul fakih, seperti yang digagas oleh Baqir Shadr dan Imam Khumaini. Umumnya di kajian Syiah, wilayatul fakih masuk bahasan kalam dan filsafat. Jadi politik masih dalam ruang lingkup ilmu tauhid. Meski demikian, mereka tidak menganggap kafir bagi kelompok Islam selain Syiah yang tidak percaya dengan Imam Maksum ini. Kelompok itu oleh syiah disebut sebagai kelompok bukan syiah saja.

 

 

Bagi kalangan khawarij, persoalan politik bukan saja terkait dengan persoalan siapa yang memimpin, namun berkembang menjadi dasar Negara suatu pemerintahan. Tentu ini juga terkait dengan hukum yang akan diterapkan oleh suatu Negara. Bagi khawarij, suatu pemerintahan haruslah menerapkan hukum Islam. Jika tidak, maka ia kafir dan taghut. Pemerintah yang kafir dan taghut harus diperangi. Sayangnya, kafir ini sesuai dengan perspektif khawarij saja. Ini dibuktikan dengan anggapan khawarij bahwa Imam Ali telah kafir, hanya karena menerima perjanjian damai dengan kubu Muawiyah. Khawarij menganggap bahwa Ali tidak berhukum dengan hukum Allah.

 

Dalam sejarah Islam, Khawarij merupakan kelompok paling radikal dan paling sering melakukan pemberontakan dan konfrontasi bersenjata dengan pemerintahan Islam. Kelompok khawarij bukan saja menyerang dan membunuh orang-orang pemerintah, bahkan kelompok lain yang pro pemerintah pun dianggap kafir dan boleh dibunuh. Memang ada kelompok khawarij yang moderat, seperti ibadhiyah, namun pada umumnya, khwarij sangat radikal.

 

Bagaimana dengan ahli sunnah? Ahli sunnah berpendapat bahwa persoalan politik tidak terkait dengan akidah. Ia menyangkut persoalan fikih. Ia bagian dari siyasah syariyyah yang terkait erat dengan kemaslahatan masyarakat. Oleh karena itu, kita akan menemukan para ulama ahli sunnah, mengkaji politik dari sisi fikih. Ini bisa kita lihat dalam kitab al ahkam as-Sulthaniyah karya Mawardi, al-Ahkam As-Sulthaniyyah karya Muhammad bin al-Husain al-Farra al-Hambali, Ighatsatul Umam karya imam Haramain dan lain sebagainya. Bahkan Ibnu Taimiyah dengan bukunya as-Siyasah asy-Syar’iyyah dan Ibnul Qayyim dengan bukunya, Thuruqul Hukmiyyah pun memasukkan persoalan politik ke dalam ilmu fikih dan bukan akidah.

 

 

Apa implikasinya perbedaan di atas? Jika politik masuk ke dalam perkara akidah, bearti terkait dengan muslim dan kafir. Jika sudah terkait dengan muslim dan kafir, bearti terkait dengan hukuman yang akan dijatuhkan kepada seseorang. Dalam fikih Islam, orang kafir akidah bisa diperangi. Tentu dengan syarat-syarat tertentu. Apalagi jika seseorang atau pemerintahan adalah pemerintahan yang kafir harbi, maka ia memang harus diperangi.

 

 

Jika masuk dalam persoalan fikih, bearti masuk dalam ranah halal, haram, ibahah, sunnah, dan makruh. Orang yang tidak menerapkan hukum fikih, asal masih berkeyakinan bahwa hukum tersebut datang dari Allah, maka ia tetap muslim. Hanya saja, ia berdosa karena dianggap telah melakukan maksiat. Hukumannya jika tidak terkait dengan hudud dan qishasm tidak sampai dibunuh. Hanya dilakukan ta’zir sesuai dengan keputusan pengadilan.

 

 

Lantas bagaimana ahli sunnah memandang ayat-ayat terkait hukum Allah seperti ayat di atas? Bukankah ayat-ayat itu secara sharih menyebutkan bahwa pemerintah yang tidak menerapkan syariat Islam, maka ia jahil dan kafir?

 

Bagi ahli sunnah, tidak semua kata iman dalam al-Quran atau sunnah nabi, berarti konotasinya dengan tauhid yang lawannya adalah kafir. Bisa saja, maksud dari ayat di atas, adalah bahwa pemerintahan yang tidak menerapkan hukum Islam, maka ia pemerintah islam tersebut imannya tidak sempurna.

 

Jadi, tidak menerapkan syariat Islam, bukan menjadi sebab batalnya iman seseorang. Selama ia masih bersyahadat, percaya dengan rukun Islam dan iman, maka ia tetap muslim. Implikasinya, ia tidak boleh diperangi dan dibunuh. Orang muslim, darahnya terjaga. Dalilnya sebagai berikut:

 

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللّهِ رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhai keduanya (Ibnu Umar dan ayahnya)- bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia (orang musyrik selain Ahlul Kitab) hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan menegakkan sholat, menunaikan zakat, jika mereka melakukan hal tersebut, terjagalah dariku darah dan hartanya kecuali dengan hak Islam. Sedangkan perhitungannya di sisi Allah (H.R alBukhari dan Muslim)
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَإِذَا شَهِدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَصَلَّوْا صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلُوا قِبْلَتَنَا وَأَكَلُوا ذَبَائِحَنَا فَقَدْ حَرُمَتْ عَلَيْنَا دِمَاؤُهُمْ وَأَمْوَالُهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا

Aku diperintah untuk memerangi kaum musyirikin sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Jika mereka telah bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, sholat seperti sholat kita, menghadap ke arah kiblat kita, memakan daging sesembelihan kita, maka telah terjaga dari kita darah dan harta mereka kecuali dengan haknya (aturan syariat Islam)(H.R anNasaai dari Anas bin Malik).

 

Kita juga bisa melihat dalam al-Quran bahwa tidak semua yang terkait dengan agama, kemudian ia tidak melakukannya maka ia dianggap kafir. Perhatikan ayat berikut ini:
 

سْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣﴾ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ﴿٦﴾ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ﴿﴾٧

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? 2. Itulah orang yang menghardik anak yatim, 3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. 4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, 6. orang-orang yang berbuat riya’ , 7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna .
Ayat di atas memberikan berbagai macam ciri-ciri orang yang membohongi agama. Berbohong dengan agama, bearti membohongi iman sementara iman terkait dengan persoalan tauhid. Namun apakah orang-orang yang tidak mau bersedekah, maka ia batal imannya dan otomatis menjadi orang kafir? Ternyata tidak. Apakah orang yang tidak shalat karena lalai, maka ia kafir? Ternyata tidak juga.

 

Lebih jelas lagi jika kita melihat pada hadis nabi berikut ini:

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرَاً أَو لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، ومَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ) – رواه البخاري ومسلم

Terjemahan:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.[Bukhari dan Muslim]

 

Apakah orang yang tidak bicara baik, maka ia kafir dan layak diperangi? Apakah orang yang tidak hormat pada tetangganya bearti kafir dan layak diperangi? Apakah orang yang tidak menghormati tamu maka ia kafir dan layak diperangi? Kenyataannya tidak. Padahal secara sharih hadis tadi menggunakan lafal iman. Para ulama seperti imam nawawi dalam syarah muslimnya menafsirkan iman di sini dengan kesempurnaan iman. Artinya, belum sempurna iman seseorang, manakala ia tidak bicara baik, tidak menghormati tetangganya dan tidak menghormati tamu.

 

 

Implikasi dari paham ahli sunnah yang menganggap bahwa politik masuk ke dalam urusan fikih adalah sikap mereka yang cenderung lebih lembut ketika berinteraksi dengan pemerintah yang tidak menerapkan syariat islam. Para ulama ahli sunnah tetap sepakat bahwa hukum syariat wajib ditegakkan, hanya sarana yang digunakan tidak frontal dengan melakukan pemberontakan. Mereka akan menggunakan sarana-sarana yang legal dan kiranya tidak merugikan nyawa seseorang. Tidak heran jika ulama ahli sunnah kontemporer, seperti Dr. Yusuf Qaradhawi, Khalid Muhammad Khalid, dan lainnya menerima ide demokrasi. Bahkan banyak gerakan Islam seperti Ikhwan Muslimin ikut berkecimpung dalam pembentukan partai-partai politik Islam.

 

Keberterimaan mereka dengan demokrasi, bukan karena mereka menerima hukum yang dibuat oleh manusia dengan mengganti hokum Allah. Namun, karena dianggap sebagai sarana yang mudaratnya jauh lebih ringan dibandingkan dengan pemberontakan. Bahkan demokrasi bisa dijadikan sarana untuk memasukkan ide dan gagasan keislaman secara damai. Jika kita buka literatur ahli sunnah, memberontak kepada pemerintahan yang sah dan legal, dianggap bughat. Perbuatan bughat terlarang dan haram.

 

 

Dari paparan di atas, kiranya sangat jelas mengenai akar dari paham tauhid al hakimiyah tadi dan implikasinya dalam tataran masyarakat. Ia menjadi akar dari berbagai gerakan Islam radikal yang mudah menumpahkan darah saudaranya sesame muslim. Gagasan ini, ternyata tidak berasal dari Ibnu Taimiyah atau Ibnul Qayyim. Ia juga tidak berasal dari para ulama ahli sunnah. Akarnya justru berasal dari kelompok khawarij. Oleh karenanya, logika berfikir dan sarana yang dilakukan oleh kelompok Islam itu, tidak jauh dari langkah-langkah khawarij. Tidak heran jika kemudian para ulama menyebut kelompok Islam radikal dengan sebutan neo khawarijme. Wallahu a’lam

 
=====================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open