Tuesday, October 16, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Implikasi Haid dan Nifas dalam Ibadah (II)

as

Pengertian Nifas

 

Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita setelah ia melahirkan. Batas minimum masa nifas sekecap (lahzhah). Sebagian ulama berpendapat bahwa nifas tidak memiliki batas minimum karena tidak ada keterangan pasti dari syariat. Nifas akan sangat kondisional, tergantung kepada faktor biologis wanita. Terkadang darah nifas cukup banyak, namun terkadang sangat sedikit dan bahkan ada yang tidak keluar darah nifas sama sekali. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa pada masa Rasulullah Saw. ada seorang  wanita melahirkan dan ia tidak keluar darah nifas. Wanita itu kemudian dijuluki dengan “dzâtul jufûf” (Wanita yang darahnya kering). Menurut madzhab Syafi’i, biasanya nifas berlangsung selama 40  hari. Dan batasan maksimum nifas adalah 60 hari.

 

Implikasi Haid dan Nifas dalam Ibadah

 

Haid dan nifas memiliki implikasi dalam ibadah. Sesuai dengan keterangan syariat, wanita  yang sedang keluar darah nifas atau haid, maka ia memiliki beberapa beban hukum, di antaranya adalah:

 

  1. 1.    Wajib Mandi

 

Jika wanita mengeluarkan darah haid atau nifas, setelah darahnya berhenti mengalir ia wajib mandi. Hal ini didasarkan dari firman Allah:

 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ

 

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah:”Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. (QS. Al-Baqarah: 222).

 

  1. 2.        Pertanda akil balig (bulûgh)

 

Wanita haid dianggap telah dewasa (balig) serta telah menanggung beban hukum sebagaimana digariskan syariat. Dalam hal ini Rasulullah Saw. Bersabda;

 

لا تقبل صلاة الحائض إلا بخمار (رواه الترمذى)

“Allah tidak menerima shalat orang yang telah haid terkecuali dengan pakaian (yang menutup aurat)”. (HR. Al-Tirmidzî)

 

  1. 3.        Menandakan Bahwa Ia Tidak Sedang Mengandung

 

Wanita yang sedang haid, menandakan bahwa ia tidak mengandung. Masa haid merupakan tolak ukur penghitungan masa idah, yaitu masa dimana seorang perempuan yang ditalak atau ditinggal wafat suaminya untuk menikah lagi.

 

Masa idah berfungsi untuk mengetahui apakah wanita mengandung ataukah tidak. Jika ia mengandung, berarti jalur nasab anak pada suami pertama. Namun jika ia tidak mengandung, jika kemudian ia menikah lagi, dan memiliki anak, maka jalur nasab akan dinisbatkan pada suami kedua.

 

Hanya persoalannya, kapan mulai masa idah itu? Di sinilah perbedaan para ulama. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, bahwa suami tidak diperbolehkan mentalak istrinya ketika ia sedang haid. Setelah ia taharah dari haid, baru suami boleh mentalak istrinya. Di sini mulai muncul persoalan, sejak kapan kita menghitung masa idah? Ada yang mengatakan bahwa hitungan idah, dimulai ketika wanita mulai waktu haid, namun ada yang mengatakan, bahwa waktu idah itu mulai ketika wanita sudah suci. Hal ini diakibatkan perbedaan pendapat dikalangan para ulama mengenai lafal “qurû” dalam ayat di bawah ini:

 

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوَءٍ وَلاَ يَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

 

Artinya: “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 228)

 

Hanafi dan Hambali mengartikan qurû dengan masa haid, sementara Maliki, Syafii dan Ja’fari mengartikannya dengan suci. Dari perbedaan lafal itulah muncul perbedaan pandangan.

 

Gambaran Masalah Madzhab Pandangan Hukum
Penghitungan masa Iddah Maliki, Syafii dan Ja’fari Dimulai ketika wanita selesai dari haid
Hanafi dan Hambali Dimulai ketika wanita mulai haid

 

 

 

 

 

Hal-hal yang Diharamkan bagi Wanita Haid atau Nifas

 

  1. 1.      Masuk atau Beritikaf di Masjid

 

Menurut jumhur ulama bahwa wanita haid diharamkan masuk masjid. Sementara Imam Ahmad berpendapat bahwa wanita haid boleh masuk masjid, namun ia harus berwudu terlebih dahulu. Hal ini didasarkan pada Firman Allah:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. Al-Nisâ:43)

 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dan al-Thabrani dari Ummi Salamah bahwa Nabi Muhammad Saw. masuk ke dalam halaman masjid, kemudian beliau bersabda dengan suara keras:

 

إني لا أحل المسجد لحائض ولا جنب (رواه أبو داود)

 

Artinya: Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita yang sedang haid dan juga junub” (HR. Abu Dawud)

 

Hanya semua imam empat bersepakat bahwa masuk masjid dibolehkan jika yang bersangkutan memiliki keperluan mendesak, seperti mengambil barang yang ketinggalan atau lain sebagainya. Konon para sahabat sering melewati masjid untuk mengambil air. Mereka melakukan hal itu karena memang tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh selain dengan melintasi masjid.

 

Imam Laits dan Ibnu Hambal membolehkan wanita haid dan nifas masuk masjid, dengan catatan dia berwudhu terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan sebuah hadis yang berbunyi:

 

 روى سعيد بن منصور والأثرم عن عطاء بن يسار قال: رأيت رجالا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، يجلسون في المسجد، وهم مجْنبون، إذا توضأوا وضوء الصلاة

 

Artinya: Diriwayatkan dari Said bin Manshur dan Atsram dari Atha bin Yasar dia berkata, “Saya melihat banyak dari sahabat Nabi Muhammad Saw. duduk-duduk di masjid sementara mereka dalam kondisi junub, setelah mereka melakukan wudhu seperti wudhunya orang mau shalat.

 

Imam Ahmad dan Muzanni membolehkan wanita nifas dan haid masuk masjid, meski mereka tidak dalam kondisi wudhu. Menurut mereka, hadis larangan wanita haid dan nifas masuk masjid adalah dhaif. Mereka juga berpegang dari hadis nabi yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim:

 

المسلم لا ينجس

Artinya: “Seortang muslim tidak najis“.

 

Gambaran Masalah Madzhab Pandangan Hukum
Masuk atau Beritikaf di Masjid bagi wanita haid dan nifas

 

Jumhur ulama Haram
Hambali dan Laits Boleh jika dia berwudhu
Imam Ahmad dan Muzanni Boleh meski tidak berwudhu

 

  1. 1.      Membaca al-Quran

 

Menurut jumhur ulama, wanita haid dan nifas diharamkan membaca al-Qur’an, dalam hadits disebutkan;

 

لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن (رواه الترمذى)

 

Artinya: “Orang yang haid dan junub tidak diperkenankan untuk membaca al-Qur’an” (HR. Al-Tirmidzî)

 

Jika wanita yang sedang haid atau nifas membaca Al-Qur’an dengan tujuan untuk memuji keagungan Tuhan, untuk berdoa, sebagai pembuka atas suatu perintah, atau pembuka dalam majelis taklim, isti’âdzah (minta perlindungan Allah), atau untuk berdzikir, maka bacaan seperti itu tidak diharamkan. Seperti ketika akan naik kendaraan kemudian ia membaca,

 

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ

atau ketika turun dari kendaraan membaca,

 

 َقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْر الْمُنْزِلِينَ

dan ketika terkena musibah mengucapkan,

 

 إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

Ia juga tidak diharamkan membaca al-Qur’an karena ketidaksengajaan. Tidak diharamkan membaca basmalah, surat al-Fatihah, dan ayat kursi dengan tujuan untuk berdzikir kepada Allah. Hal ini bersandarkan dari hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Aisyah bahwa ia berkata:

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيانه (رواه مسلم)

 

Artinya: “Adalah Rasulullah Saw. selalu berdzikir kepada Allah dalam tiap saat”. (HR. Muslim)

 

Sementara menurut Imam Malik, Ibnu Taimiyah dan Imam Syaukani bahwa wanita haid dan nifas dibolehkan membaca al-Quran. Alasannya sebagai berikut:

  1. Prinsip segala sesuatu adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya. Sementara tidak ada dalil yang mengharamkan wanita haid dan nifas membaca Qur’an.
  2. Membaca al-Quran sangat dianjurkan oleh Allah. Bahkan mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Dengan demikian, mereka tetap dibolehkan membaca Quran, selama tidak ada dalil yang melarangnya.
  3. Larangan membaca Quran bagi wanita haid dan nifas akan menghilangkan kesempatan mereka untuk mendapatkan pahala besar tersebut.

 

Gambaran Masalah Madzhab Pandangan Hukum
Hukum membaca Quran bagi wanita haid dan nifas Jumhur Tidak boleh
Imam Malik, Ibnu Taimiyah, Imam Syaukani Boleh

 

2. Berpuasa

 

Wanita haid dan nifas diharamkan menjalankan ibadah puasa. Jika ia tetap melakukan ibadah puasa maka puasanya tidak sah. Selanjutnya ia harus meng-qadha semua hari yang telah lalu sewaktu ia haid dan nifas. Namun demikian ia tidak diwajibkan meng-qadha shalat, karena shalat dikerjakan secara berulang-ulang. Hal ini dilandasi dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:jama’ah dari Mu’adzah bahwa ia berkata,

 

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ (رواه مسلم)

 

Artinya: “Dari Mu’adzah al-‘Adawiyyah, aku bertanya kepada Aisyah RA.:“Mengapa orang haid mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalat? Aisyah balik bertanya: “Apakah engkau dari golongan Haruriyyah?”. Aku menjawab, “Aku bukan dari golongan Haruriyyah. Aku hanya ingin bertanya”. Aisyah kemudian menjawab, “Seperti itu kami pernah mengalaminya ketika masih bersama dengan Rasulullah Saw., maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat” (HR. Muslim)

 

3. Thawaf

 

Wanita haid dan nifas diharamkan berthawaf  di Ka’bah, karena thawaf adalah shalat seperti sabda Nabi Muhammad Saw. kepada Aisyah:

 

 اِفْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْر أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطَّهَّرِي (رواه مسلم)

 

Artinya: “Berbuatlah seperti yang diperbuat orang yang sedang menunaikan ibadah haji, namun jangan berthawaf di Ka’bah sehingga engkau telah suci”(HR. Muslim)

 

4. Bersetubuh

 

Diharamkan bagi wanita yang sedang haid dan nifas untuk besetubuh. Diriwayatkan dari hadits Anas bahwa  ia berkata, “Jika wanita orang Yahudi sedang haid, mereka tidak diberi makan dan tidak digauli”. Para sahabat bertanya mengenai masalah ini kepada Rasulullah Saw. Maka Allah menurunkan ayat berikut;

 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

 

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah:”Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah: 222)

 

Kemudian Rasulullah Saw. bersabda:

 

اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ (رواه مسلم)

 

Artinya: “Berbuatlah apa saja terkecuali menikah (bersetubuh).” (HR. Muslim)

 

Berkata Imam Nawawi, “Jika seorang muslim berkeyakinan bahwa bersetubuh dengan istri yang sedang haid hukumnya halal, maka ia telah kafir dan murtad. Dan jika ia melakukannya bukan karena keyakinan bahwa perbuatan tersebut halal, dikarenakan ia lupa atau tidak tahu bahwa perbuatan tersebut diharamkan, atau karena ia tidak tahu jika wanita sedang haid, maka ia tidak berdosa dan tidak wajib kaffârah. Dan jika ia melaksanakan secara sengaja sementara ia mengetahui bahwa istri sedang haid dan juga mengetahui hukumnya haram, maka ia telah melaksanakan suatu maksiat yang besar dan wajib bertaubat”.

 

Apakah mereka yang melakukan persetubu-han dengan istri yang sedang haid dan nifas harus membayar kafarat? Dalam hal ini ada dua pendapat, sebagian mewajibkan kafarat dan sebagian lagi tidak. Namun, pendapat paling sahih adalah mereka yang mengatakan bahwa yang bersangkutan tidak wajib membayar kafarat.

 

Menurut Imam Nawawi, dibolehkan bagi seorang suami bermain dengan istrinya selain daerah antara pusar dan lutut. Akan tetapi diharamkan melakukan permainan antara pu-sar dan lutut selain kemaluan dan dubur.

 

Menurut imam Nawawi, hal itu halal namun makruh.

Dalil yang dijadikan landasan Imam Nawawi adalah hadits yang diriwayatkan oleh istri-istri Rasulullah Saw.:

 

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ ” إِذَا أَرَادَ مِنَ الْحَائِضِ شَيْئًا أَلْقَى عَلَى فَرْجِهَا ثَوْبًا ” . (رواه أبو داود)

 

Artinya: “Sesungguhnya jika  Nabi Saw. ingin (menggauli) istrinya yang sedang haid, maka beliau akan menaruh kain (yang menutup) kemaluannya”. (HR. Abû Dâud).

 

5. Talak

 

Diharamkan menjatuhkan talak kepada istri ketika ia sedang haid. Jika hal ini sampai terjadi, maka hal ini dianggap sebagai talak bid’i. Hal itu dikarenakan seorang suami dianggap telah memperpanjang masa idah bagi wanita, serta menyalahi aturan Allah sebagaimana tercantum dalam firman-Nya;

 

إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاء فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ

 

Artinya: “Apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu” (QS. Al-Thalâq:1)

 

Artinya, di waktu mereka dapat menjala-ni masa iddah. Karena sisa masa haid tidak dianggap sebagai masa idah. Jadi, hal ini akan memberatkan pihak wanita. Karena masa penantian semakin panjang.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan;

 

أن عبد الله عُمَر أَخْبَرَهُ رضي الله عنهما أخبره َنَّهُ طَلَّقَ اِمْرَأَة لَهُ وَهِيَ حَائِض فَذَكَرَ عُمَر لِرَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فتغيظ فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قال ليراجعها ثم يمسكها حتى تطهر ثم تحيض فتطهر فإن بَدَا لَهُ أَنْ يُطَلّقَهَا، فَلْيُطَلّقْهَا طَاهِراً مِنْ حَيْضَتِهَا قَبْلَ أَنْ يَمَسّهَا فتلك العدة كما أمر الله عز وجل  (رواه البخارى)

 

Artinya: Bahwasanya Abdullah ibnu Umar memberitahukan kepada Umar bahwa ia telah mentalak istrinya dalam keadaan haid. Maka Umar mengadukan hal itu kepada Rasulullah Saw. Lantas Rasulullah Saw. menahan amarah, kemudian beliau bersabda, “Perintahkan kepadanya agar merujuk (istrinya) sampai ia suci, kemudian haid, kemudian suci kembali. Jika ia (ibnu Umar) masih tetap ingin mentalak istrinya, maka hendaklah ia mentalaknya dalam keadaan suci sebelum ia menyentuhnya (menggaulinya). Itulah masa idah yang telah diperintahkan oleh Allah” (HR. Al-Bukhârî)

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open