Thursday, May 23, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Imam Hakim at-Tirmizhi

Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Hasan –Abu Husain-ibnu Basyar dan lebih dikenal dengan julukan al-Hakim at-Tirmidzi. Beliau dilahirkan di daerah Termuz Asia Tengah, wafat pada tahun 285 H, dalamriwayat lain beliau wafat tahun 320 H. Hakim Tirmidzi bukanlah Imam Tirmidzi perawi hadis. Beliau adalah seorang filsuf, sufi, fakih dan juga ushuli.

Dalam kajian ilmu maqashid, beliau menulis kitab yang berjudul Ashalah wa Maqashiduha. Bias dikatakan bahwa buku ini merupakan buku pertama yang ditulis secara independen terkait dengan ilmu maqashid. Dalam buku ini, beliau banyak melihat sisi-sisi ilalt dan hikmah dari ibadah, terutama shalat.

Terkait hikmah ibadah misalanya, beliau mengutip firman Allah berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Menurut beliau, ibadah pada ayat diatas sifatnya umum, sehingga mencakup banyak hal. Segala amal baik yang diniatkan ibadah oleh seorang hamba, merupakan bagian dari ibadah. Ibadah dalam Islam, sangat bermacam-macam dan berfariatif. Fariasi dan macam ragam ibadah tersebut, menurut beliau, agar manusia tidak jenuh. Jika ibadha hanya satu macam, dam harus dilaksanakan secara kontinyui, dikhawatirkan seorang hamba akan bosan. Maka tujuan dan maksud ibadah yang sesungguhnya untuk mengangungkan Allah, menjadi terabaikan.

Tujuan dari ibadha shalat sesungguhnya untuk menaikkan derajat manusia di hadapan Allah. Tujuan dair puasa, sesungguhnya untuk menyucikan jiwa dan harta benda seorang hamba. Tujuan dair berhaji, adalah untuk mendapatkan ampunan danrahmatnya. Jadi, semua ibadah kepada Allah, termasuk di dalamnya ibadah mahdah, mempunyai hikmah dan tujuan tertentu. tujuan tadi, dapat dilihat dari illat atas disyariatkannya suatu ibadah.

Imam Tirmidzi, memang tidak menuliskan buku ushul fikih atau ilmu maqashid secara independen. Hanya saja, kitab beliau, ashalah wa maqashiduha, memberikan petunjuk bagi kita bahwa ilmu maqashid sesungguhnya bukanlah ilmu baru. Para ulama generasi awal hijriyah, telah memberikan perhatian besar terhadap kajian maqashid. Hanya saja memang belum membukukan secara sistematis. Kajian mereka, selanjutnya dilanjutkan oleh para ulama lain pada generasi selanjutnya.

 

Comments

comments

 border=
 border=