Thursday, May 23, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Imam Fakhruddin Ar-Razi dan Maqashid Syariah

Fakhruddin al-Razi nama lengkapnya adalah Muhammad bin Umar bin Husin bin Hasan bin Ali al-Taimi al-Bakri al-Tabari. Beliau lebih dikenal dengan julukan Fakhruddin ar-Razi. Dilahirkan pada penghujung pemerintahan khalifah al-Abbasiyyah tanggal 25 Ramadhan 544 H, bertepatan dengan tahun 1148 M di kota Rayy. Beliau lebih dikenal dengan sebutan ar-Razi yang dinisbatkan kepada desa tempat kelahirannya. Beliau merupakan putra dari Diya al-Din Umar, salah satu ulama terkemuka di Rayy, murid dari Muhyi al-Sunnah Abi Muhammad al-Baghawiy.

Imam Fakhruddin ar-Razi merupakan ulama ensiklopedis yang menguasai banyak cabang ilmu keislaman. Beliau menulis buku tafsir yang sangat ternama, yatu tafsir Mafatikhul Ghaib. Tafsir ini terdiri dari 11 jilid, merupakan tafsir yang banyak berbicara tentang ilmu kalam, filsafat, ushul dan lain sebagainya. Dalam bidang ilmu ushul, beliau menulis kitab al-Mahshul. Buku ini merupakan kitab ushul fikih kalam yang sangat penting. Buku ini menjadi ringkasan dari empat kitab ushul pokok, yaitu al-mu’tamad karya Husain al-Basri yang beraliran muktazilah, al-Ahd karya Qadhi Abdul Jabbar yang beraliran Muktazilah, Al-Burhân karya Imam Juwaini yang bermadzhab Ahli Sunnah dan al-Mustasfa karya imam Ghazali yang bermadzhab Ahli Sunnah.

Karena ia merupakan ringkasan dari empat kitab sebelumnya, maka bahasan maqashid syariah yang sebelumnya juga sudah disinggung oleh Imam Haramain dan Ghazali, juga disinggung oleh beliau. Dari kitab Mahsul ini, kelak akan bermunculan kitab-kitab lain yang secara pemikiran merujuk dari kitab beliau ini.

Dalam kajian maqashid, Imam ar-Razi juga mempunyai sumbangan pemikiran yang luar biasa. Dalam kitab al-Mahsul dan juga kitab tafsir Mafatikhul Ghaib, kita akan menemukan ruh dan spirit maqashid yang luar biasa. Beliau sering melihat sesuatu dari sisi illat hukum. Kita bias melihat dari tafsir beliau tentang ayat berikut:

 

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الأرْضِ لَمُسْرِفُونَ

Artinya: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (Q.S Al-Maidah : 32)

 

Menurut beliau, ayat ini menunjukkan bahka hukum Allah mempunyai illat dan tujuan tertentu. hal ini bias dilihat dari ungkapan ayat di atas dengan kata kata:  اَجل ذلك

Menurut beliau, kata ini sangat jelas dan tidak dapat ditafsirkan lain selain dengan menyatakan ilat atas hukum Allah. Beliau sendiri dalam tafsirnya mengamini pendapat muktazilah yang mengatakan bahwa hukum Allah muallalah dengan mashalat hamba. Untuk menguatkan pendapat beliau tentang hukum Allah yang muallalah dan juga demi maslahat umat manusia, beliau melanjutkan dengan menukil ayat berikut:

قَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير

Artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 17)

Menurut beliau, ayat ini juga sangat sharih dalam memberikan keterangan mengenai tujuan dan spirit dari hukum Allah, yaitu demi maslahat hamba. Terkait maslahat hamba dan bahwa ayat al-Quran mengandung illat tertentu, juga beliau sampaikan ketika memberikan tafsirkan terhadap ayat berikut ini:

والسارق والسارقة فاقطعوا أيديهما جزاء بما كسبا نكالا من الله، والله عزيز حكيم

Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah: 38)

Menurut beliau, huruf ba pada kata bima, menunjukkanbahwa ayat tentang hukuman potong tangan mengandung illat tertentu, yaitu sebagai hukuman bagi pencuri. Jika ia tidak mencuri, maka hukum potong tangan menjadi tidak ada. Jadi ayat ini mirip-mirip dengan ayat qishas pada ayat sebelumnya.

Dalam kitab al-Mahshul, beliau menyebutkan mengenai daruriyat al-khamsah yaitu terkait dengan melindungi jiwa, harta, keturunan, agama dan akal. Namun berliau tidak memberikan urutan secara konsisten atas lima hal pokok tersebut. Kadang beliau membuat urutan seperti yang kami sebutkan tadi, kadang mengawali dengan jiwa, lalu akal, agama, harta dan terakhir nasab. Titik pokoknya adalah bahwa menjaga lima hal primer tersebut merupakan sebuah keharusan, terlepas manakah yang harus didahulukan.

Comments

comments

 border=
 border=