Saturday, October 19, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Imam al-Ghazali dan Maqashid Syariah

Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 Hijrah/ 1058 Masehi di Thus, Khurasan (Iran). Beliau dikenal dengan julukan Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Beliau kadang juga disebut dengan al-Ghazali ath-Thusi karena berasal dari daerah Thus. Sedangkan gelar asy-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi’i.

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama besar, pakar berbagai macam cabang ilmu keislaman, seperti filsafat, kalam, ushul; fikih, fikih, tasawuf, mantik dan lains ebagainya. Semua cabang ilmu tersebut beliau kuasai dengans angat matang dan mendalam.

Beliau pernah menjadi dosen pada Universitas Nizhamiyah (Madrasah Nizhamiyah). Di sini, beliau mengajar dan menulis banyak keilmuan Islam. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 4 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah/ 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.

Imam Ghazali, memberikan perhatian besar terhadap ilmu maqashid syariah. Dalam kitab al-Mustasfa, beliau banyak mengkaji tentang illat dan hikmat. Illat ini, yang yang menjadi pijakan utama untuk mengetahui tentang spirit teks. Terkait kiyas dan ilat, beliau menulis buku khusus dengan judul, “Syifaul Ghalil Fi al-Qiyas wa at-Ta’lil”. Dalam buku ini, beliau memberikan bahasan yang sangat luas dan mencakup terkait kiya dan illat.

Dalam kitab ini, imam ghazali banyak sekali memberikan contoh praktis mengenai maslahat dan mafsadah serta apa yang harus dilakukan ketika seorang hamba sedang dalam posisi sulit. Di antara contoh yang beliau sampaikan adalah, mengenai kasus jika suatu kapal, kelebihan muatan manusia. Di tengah samudra, kapal oleng dan akan tenggelam. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan sebagian dari mereka, yaitu melemparkan satu otang ke dalam samudera. Menurut Ghazali, jika benar hal ini terjadi, maka dibolehkan. Hal ini dengan memilih mudarat yang lebih ringan, dari pada menimbulkan mudara yang jauh lebih besar. Menyelamatkan sebagian besar penghuni kapal, tentu lebih utama dibandingkan dengan mengorbankan satu jiwa.

Di ahir bahasan terkait dengan berbagai contoh fikih praktis, beliau menutup bahasan dengan mengatakan, Ini yang kami maksudkan untuk melihat mengenai maqashid para ulama yang sering menggunakan kata sebab, illat, dan syarat serta contoh praktis atas beberapa terma di atas.

Menurutnya, hukum syariat banyak yang mengandung illat dengan tujuan untuk menggapai maslahat dan menghindari mafsadah. Beliau berkata, “Makna yang terdapat dalam suatu nas dapat diketahui dari maslahat dan illatnya. Maslahat sendiri, tujuannya adalah upaya untuk mendapatkan manfaat atau menutup kemudaratan”. Daam Kitab Syifaul Ghalil, beliau juga mempunya bab khusus terkait dengan kajian maslahat mursalah. Ini menunjukkan bahwa beliau sangat konsen dengan kajian maslahat dan maqashid syariah.

Dalam kitab Syifaul Ghalil, Imam Ghazali sudah menyinggung mengenai tingkatan kebutuhan manusia, terkait dengan dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat. Dalam kitab al-Mustasfa, beliau memaknai masalat sebagai berikut, “Tujuan dari maslahat yaitu untuk melindungi hukum syariat”. Imam Ghazali dalam kitabnya al-Mustasfa membagi daruriyat menjadi lima. Dalam hal ini, beliau mengatakan, “Tujuan diturunkannya hukum syariat kepada manusia ada lima, yaiatu untuk melindungi agama, jiwa, akal, keturunan dan harta”. Beliau membagi maslahat manusia secara rapi, yaitu daruriyat, hajiyat, tahsiniyat, dan tazyinat. Bagian-bagian tadi juga masih ada bahasan lain yang terkait dengan penyempurnaan atau mukmilat. Pembagian maqashid menjadi tiga, nampaknya merupakan pengaruh dari gurunya Imam Juwaini dalam kitab al-Burhan.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

sixteen − 3 =

*