Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ilustrasi Sederhana Atas Pemahaman Kembali ke al-Quran dan Sunnah  

 

 images (1)

 Ust. Musa Alazhar, Lc. 

Ilustrasi Pertama

Suatu hari penulis pernah berdiskusi di dunia maya dengan seseorang yang semangat dalam beragama. Semangat tersebut beliau artikan dengan membuat kajian al-Quran. Uniknya, sistem kajian yang beliau usung adalah membaca terjemahan al-Quran dari awal Surah al-Fatihah, al-Baqarah dan seterusnya sampai khatam. Dari hasil baca terjemah al-Quran tersebut, kata beliau, nanti akan menemukan tuntunan-tuntunan yang bisa diamalkan. Menurut beliau, seperti inilah caranya kembali kepada al-Quran. Bukan dengan belajar kitab-kitab para ulama. Salah satu alasannya, karena dalam kitab-kitab tersebut banyak perbedaan. Kita ingin langsung saja kembali ke al-Quran supaya mendapat pemahaman yang murni.

Ilustrasi Kedua

Seorang ulama hadis al-Azhar, Prof. Dr. Ridha Zakaria, ikut salat tarawih di sebuah masjid di Mesir. Sudah menjadi kebiasaan di Mesir, dalam satu malam imam tarawih membaca satu juz. Hanya saja, karena satu juz tersebut dibagi dalam delapan rakaat maka butuh waktu lama untuk berdiri. Sehingga salah seorang jamaah yang kakinya pegal-pegal komplain kepada imam.

Pengurus masjid yang ada tahu bahwa Syekh Ridha Zakaria ada dalam jamaah tersebut, ia pun memutuskan untuk bertanya. Syekh Ridha memberikan solusi salat 23 rakaat dengan dua rakaat salam akan lebih ringan karena tidak terlalu lama berdiri. Pengurus masjid itu malah protes. “Salat tarawih lebih dari delapan rakaat itu bid`ah dan haram, ini ada hadisnya…

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً 

(Artinya: “Tidaklah Rasulullah ShallalLâhu `alaihi wa Sallama itu menambah  lebih dari sebelas rakaat baik di bulan Ramadhan atau selainnya”)

…hadis ini diriwayatkan oleh Aisyah RadhiyalLâhu `anha, kata Syekh Fulan (menyebut salah seorang ulama kontemporer) hadis ini sahih!”

Syekh Ridha mengatakan bahwa salat 23 rakaat itu juga diamalkan oleh para ulama madzhab seperti dalam kitab-kitab fikih. Pengurus masjid tersebut malah semakin kecewa dengan Syekh Ridha, “Wah anda ini tidak ikut hadis malah taklid dengan ulama madzhab!”[1]

Renungan

Ada beberapa fenomena yang muncul:

  1. Semangat untuk mencari kebenaran berdasarkan al-Quran dan Sunnah, dimaknai dengan langsung membaca al-Quran atau hadis dan mencoba memahami tanpa memandang kadar kemampuan diri
  2. Memandang bahwa ulama juga manusia biasa yang tidak lepas dari salah dan lupa
  3. Perbedaan pendapat ulama dan madzhab-madzhab yang ada itu tercela dan menunjukkan ketidakmurnian pemahaman mereka terhadap al-Quran dan Sunnah
  4. Mempertentangkan antara teks ayat atau hadis dengan perkataan ulama
  5. Sehingga lebih baik langsung saja membaca al-Quran atau hadis kemudian mencoba memaknainya meskipun dengan modal terjemahan
  6. Kewajiban berdakwah dimaknai dengan menjadi penceramah. Barangsiapa yang belum menjadi penceramah maka belum berdakwah.
  7. “Ballighû `annî walau Âyah”/”Sampaikan dariku meskipun hanya satu ayat”. Hadis ini menunjukkan bahwa mengajarkan Islam bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak harus orang yang belajar agama selama bertahun tahun.

Bagaimana pendapat pembaca yang budiman melihat fenomena di atas? Sepakat dengan sikap yang bagaimana?

[1] Ridha Zakaria, al-Ahkâm al-Muftarâ `alaiha fâ Ahâdîts mina’l Muttafaq `alaih, Maktabah al-Iman, Mesir, cet. I, 1433 H/2011 M, hal. 9

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

three × five =

*