Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ilmu Umum Di Pesantren Bagian Dari Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Benarkah?

SCIENCE_1_55194

Sebelumnya sempat saya singgung bahwa visi misi pesantren umumnya adalah membentuk kader ulama yang mumpuni dan berakhlak mulia. Untuk itu, santri dibekali dengan berbagai ilmu keislaman sebagai bagian dari spesialisasi dalam sistem pendidikan pesantren.
Materi keagamaan yang dibebankan pesantren kepada para santri cukup banyak, dari ilmu nahwu, sharaf, balaghah, hadis, ulumul hadis, ulumul quran, tafsir, tasawud dan lain sebagainya. Meski demikian, santri harus dibebani dengan ilmu umum yang kadang tidak ada hubungannya sama sekali dengan spesialisasinya. Terlebih lagi santri diwajibkan ikut ujian nasional, sementara para siswa umum yang tidak di pesantren, tidak diwajibkan mempelajari keilmuan Islam dengan porsi yang sama.

Barangkali ada sebagian orang yang bertanya, bukankah ilmu agama dan ilmu dunia atau sains harus tetap dikuasai demi menciptakan insan yang mandiri secara imtaq dan iptek?

 

Idealnya demikian. Tapi secara praktis tidak bisa. Sangat berat jika seseorang harus menguasai ilmu ushul fikih, tafsir, hadis dan keilmuan islam lainnya secara mendalam, tapi disisi lain juga harus paham masalah fisika, kimia, biologi, matematika dan lain sebagainya. Saat ini sudah zamannya spesialisasi. Hanya mereka yang benar-benar jenius yang dapat menguasai dua bidang ilmu itu secara baik. Maka pemberian dua keilmuan tadi, justru akan melemahkan dan memberatkan siswa. Pengetahuan agama tidak maksima, sementara pengetahuan umum juga tidak dikuasai dengan baik.

 

Bukankan dengan diberikan ilmu umum, menjadi bagian dari islamisasi ilmu pengetahuan?

Islamisasi ilmu pengetahuan tidak terkait dengan pemberian materi umum kepada santri.  Islamisasi ilmu pengetahuan, masuk dalam ranah subsansi dari materi itu sendiri. Contoh sederhana, satu sisi, santri diajarkan mengenai tauhid, namun di sisi lain juga diajari mengenai teori evolusi Darwin, mengenai kekekalan energy, mengenai munculnya alam raya yang berbau materialistik (karl marx), mengenai sumber hukum yang berasal dari kesepakatan publik (John A. Russo), psiko analisis dari Sigmud Freud dan lain sebagainya. Ini sama saja bohong.

 

 

Islamisasi ilmu, itu terkait dengan dua hal, yaitu cara pandang kita terhadap ilmu pengetahuan, dan subsansi materi itu sendiri. Atau islamisasi pengetahuan itu terkait dengan epistemology dan ontologi.  Jika dua hal tadi belum terpenuhi, meski ilmu-ilmu umum tadi masuk ke dunia pesantren, islamisasi ilmu pengetahuan tetap tidak akan tercapai.

 

Jadi sesungguhnya tidak ada hubungannya antara islamisasi ilmu pengetahuan dengan dipaksakannya ilmu umum yang tidak ada hubungannya dengan spesialisasi santri untuk dimasukkan ke dunia pesantren.  Ilmu umum tadi hanya menjadi beban berat bagi para santri, yang berdampak negatif terhadap pendalaman spesialisasi keagamannya. Wallahu a’lam

 

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open