Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ilmu Tauhid Harus Direkonstruksi?

fdsahhj

 

Seri Counter Fikih Kebinekaan. Artikel ke-31.

 

Di halaman 105, Muhammad Azhar menulis sebagai berikut:

Kedua, epistemologi keislaman mendatang harus lebih operatif-burhani (rasional empiris) sebagaimana pernah diintroduksi oleh Ibnu Taimiyah sesuai konteks zamannya (al haqiqah fil a’yan la fi al adzhan). Perlu rekonstruksi ulang konsep keilmuan atau kuliah teologi Islam (akidah) dan etika Islam (akhlak) yang lebih bernuansa sosial, ketimbang semata-mata normatis-sosial. Dari nuansa metafisis ke empiris-saintifik.

 

Mari kita lihat:

Sebelumnya pernah kami singgung bahwa peradaban Islam klasik menggunakan tiga episteme secara seimbang, yaitu bayani, burhani dan irfani. Dari bayani, memunculkan sederet cabang ilmu keislaman, seperti ensiklopedi fikih, tafsir, syarah hadis, ilmu kalam, ushul fikih bayan, ulumul hadis, ulumul quran  dan lain sebagainya. Dari episteme burhan, memunculkan banyak ilmu keislaman, seperti filsafat, ilmu logika, ilmu eksakta, ushul fikih burhan, dan lain sebagainya. Dari episteme irfan, memunculkan berbagai laitan sufi.

 

Semua cabang keilmuan Islam terseut saling melengkapi satu sama lain. Jika kita hanya mengunggulkan episteme burhan kemudian menafikan bayan dan irfan, maka yang akan maju sekadar ilmu filsafat dan sains saja. Sementara ilmu fikih yang terkait erat dengan persoalan sosial umat akan terbengkalai. Padahal seperti ekonomi umat, fikih politik, fikih sosial, fikih kebencanaan, fikih minoritas dan lain sebagainya, mucnul dari epistem bayan dengan kaedah-kaedah yang terdapat dalam kitab ushul fikih. Atau dengan gabungan antara bayan dan burhan dengan menambahkan kajian induktif-empiris serta kaedah ilmu maqashid.

 

Dengan bayan juga, kita dapat menafsirkan al-quran dan menyarah hadis nabi sesuai dengan konteks kontemporer. Dengan ini juga tafsir-tafsir tematis yang dapat menyelesaikan perbagai persoalan umat dewasa ini, dapat ditumbuh kembangkan. Kajian dalam tema-tema seperti ini juga bisa digabungkan dengan manhaj burhan dengan system induksi-empiris tadi.

 

Sementara manhaj irfan, dapat dikembangan dalam ranah ilmu-ilmu psikologi, sehingga persoalan yang terkait dengan krisis batin yang menjadi penyakit masyarakat modern, dapat dicari solusinya secara tepat tanpa harus melangkahi nas al-Quran dan sunnah nabi. Berbagai produk buku sufistik, tinggal dimodernisasikan dan disesuaikan dengan kehidupan masyarakat modern. Ini akan menjadi obat mujarab untuk mengobati krisis kemanusiaan dewasa ini yang sangat materialistik. Dengan buku-buku sufistik peninggalan ulama klasik, dapat menekan penyakit stress yang berdampak pada banyaknya kasus bunuh diri di berbagai negara belahan dunia.

 

 

Manhaj burhan juga tetap dikembangkan dengan menambah porsi penelitian ilmiah dan memajukan sains Islam. Manhaj burhan tetap menjadikan al-Quran sebagai basic epistemoogi. Kita tidak sedang berperang antar epistemology. Kita tidak memenangkan antara satu episteme dengan episteme yang lain, mengedepankan satu dengan menegasikan yang lain. Perjalanan ketiga episteme tadi, telah dicontohkan secara apik oleh Imam al-Ghazali yang sangat menguasai tiga episteme sekaligus. Beliau banyak punya karya ushul fikih dan fikih, namun juga punya karya filsafat dan mantik. Selain itu, beliau seorang sufi dengan menulis banyak buku sufistik.

 

 

Adapun pernyataan Ibnu Taimiyah di atas, sesungguhnya tidak sesuai dengan konteks pembicaraan dalam tema ini. Pernyataan Ibnu Taimiyah yang terdapat dalam kitab Majmu fatawa-nya dan juga diulang dalam kitan Dar’u Ta’arrudi Al aqli wa Annaqli, dengan pernyataan “Al haqiqah fil a’yan la fi al adzhan” dimaksudkan untuk mencaunter pendapat Ibnu Sina yang sangat terpengaruh oleh pemikiran filsuf Yunan Aristeteles. Inti dari kritikan Ibnu Taimiyah adalah bahwa para filsuf seringkali menyamakan antara hakekat yang ada dalam gambara otak manusia, dengan hakekat yang ada di luar otak manusia. kesamaan ini berfungsi untuk membentuk definisi yang akurat sehingga ketika melakukan proses definisi atas suatu persoalan, apa yang ada dalam gambaran otak manusia, sama persis seperti yang terdapat dalam alam realita.

 

Bagi Ibnu Taimiyah, hakekat yang ada dalam otak manusia dengan membentuk definisi model Aresto, seringkali berbeda dengan apa yang terjadi di alam realita. Menurut Ibnu taimiyah, bahwa alam realita jauh lebih bisa dijadikan sebagai pijakan kebenaran dibandingkan dengan apa yang ada dalam otak manusia. Kata-kata yang terdapoat dalam otak manusia, sifatny amasih abstrak dan belum ada ikatan tertentu, namun ketika kata dan terminology diungkapkan dalam alam nyata, akan terjadi reduksi dengan melihat pada perbedaan-perbedaan berbagai genus yang ada di alam nyata.

 

Contoh kata tangan, dalam otak sifatnya sangat abstrak dan umum. Namun ketika kita masuk ke alam realita, akan ada ikatan tertentu bergantung kepada siapa dan apa tangan dinisbatkan. Tangan Khalid dengan Muhammad tentu berbeda, demikian juga dengan tangan semut atau kambing.

 

 

Dengan premis ini, Ibnu Taimiyah berusaha untuk menggugurkan pendapat para filsuf terkait dengan wajibul wujud yang menggunakan logika illat ma’lul. Juga digunakan untuk mencounter logika ulama kalam terkait Tuhan yang qadim dengan menggunakanm argument dalilul hudus.

 

 

Jadi, pernyataan Ibnu Taimiyah murni terkait dengan filsafat dan ilmu mantik. Ia tidak ada hubungannya dengan episteme burhan seperti yang sedang dibicarakan oleh penulis.

 

Apakah perlu rekonsturksi ulang terkait dengan kuliah filsafat dan tauhid bagi umat Islam sehingga tauhid lebih bernuansa sosial, ketimbang semata-mata normatis-sosial, dari nuansa metafisis ke empiris-saintifik?

 

Tentu saja tidak. Tauhid dalam ilmu Islam klasik sudah jelas, karena ia menyangkut pandangan hidup umat Islam. Tauhid klasik menjadikan Tuhan sebagai Pencipta Alam Raya. Tauhid klasik juga menjadikan kitab suci umat Islam sebagai poros peradaban. Tauhid memang berkaitan erat dengan keyakinan seorang hamba tentang Tuhan, pandangan manusia terhadap sesama manusia dalan alam raya. Ia menyangkut keyakinan seorang hamba Allah dan nasib kehidupan dirinya setelah meninggalkan dunia.

 

Dari sini, tauid akan selalu berusaha untuk membersihkan akidah umat dan pandangan hidup umat Islam, seperti yang pernah dicontohkan ulama kalam. Tidak heran jika para ulama kalam lantas mencounter berbagai pandangan melenceng dari keompok lain di luar Islam, seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, Manawi dan lain sebagainya. Kemudian menetapkan bahwa hanya Islam saja, akidah yang benar. Berjilid-jilid buku peninggalan mereka, seperti al Ibkar karya Imam Amidi, al-Mughni karya Qadhi Abdul Jabbar, Attamhid karya al-Baqilani, dan lain sebagainya, sudah terang benderang memberikan pelajaran moral kepada kita mengenai sikap kita kepada Tuhan dan pemikiran menyimpang.

 

 

Ibnu Taimiyah juga telah memberikan contoh baik. Beliau berani melakukan perang pemikiran secara terbuka dengan kelompok-kelompok sufi di masanya yang dianggap melenceng dari akidah Islam. Beliau berani memerangi perbuatan tahayul, bidah dan khurafat yang banyak melanda dunia Islam pada waktu itu.

 

 

Jadi bahasan tauhid sudah sesuai dengan persinya. Adapun terkait dengan hubungan kita dengan manusia dan alam, secara praktis tidak terdapat dalam ilmu tauhid. Namun ia terkaiterat dengan ilmu fikih. Tauhid hanya memberikan gambaran normatif saja, sementara secara praktisnya menjadi tugas para fuqaha.

 

Jadi ada pembagian yang jelas antara ilmu tauhid dengan ilmu fikih. Mencampuradukkan antara dua cabang ilmu yang berbeda ini, justru akan menimbulkan kerancuan pemikiran dan krisis social di masyarakat. Tauhid terkait erat dengan iman, Islam, atau kafir. Jika persoalan kemanusiaan selalu dipandang dari kacamata tauhid, justru akantimbul persoalan yang jauh lebih besar dan mengerikan.

 

 

Perbedaan dalam memandang persoalan umat, seperti ekonomi, pendidikan dan politik, akan terkait dengan kafir dan mukmin. Padahal kafir atau mukmin, berimplikasi pada hukuman seseorang, apakah ia halal dibunuh atau tidak. Jika ini yang terjadi, maka akan sangat mudah seseorang mengkafirkan yang orang lain lain dan menghalalkan darah orang lain hanya perbedaan terkait masalah ekonomi dan pendidikan. Umat akan carut marut, kondisi sosiual akan kacau balau, dan kerugian materi dan non materi tentu saja akan menimpa umat islam. Yang terjadi di masyarakat adalah perang saudara antar sesama keompok masyarakat, atau bahkan antar individu.

 

 

Tauid memang terkait dengan metafisik. Jika tauhid menjadi kajian sosial dan emipirs, maka sisi tauhidnya akan hilang. Identitas dari ilmu tauhid akan sirna. Apakah kemudian tauhid tidak lagi membahas tentang ketuhanan, kenabian, kitab suci, hal ghaib, hari akhir dan surga dan neraka? Lantas apakah tauhid akan mengkaji tentang kemiskinan, ketimpangan ekonomi, ketimpangan pendidikan dan seterusnya? Ini sama artinya mencabut akidah umat dan mendorong umat untuk bersikap keduniawiyahan semata dengan pandangan materialisme. Kajian empiris sosial sekadar sebagai justufikasi untuk pendangkalan akidah umat. Dampaknya justru umat akan kehilangan ilia ketuhanannya. Umat akan kehilangan identitas tertinggi sebagai seorang muslim. Jika demikian, lantas apa yang tersisa dari akidah umat? Wallahu a’lam

 

====================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nineteen + 10 =

*