Thursday, May 23, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ijmak Ulama Salaf Bahwa Alam Hadis

Matan HPT

بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ  مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ كله حَادِثٌ

 

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu dari para ulama salaf telah bersepakat bahwa seluruh ‘alam mengalami masa permulaan,

 

Jika kita membaca ushul fikih, kita akan menemukanabhasan terkait dengan sumber hukum Islam. Sumber hukumIslam dibagi menjadi dua, pertama yang muttafaq alaihi dan kedua yang mukhtalaf alaihi. Dalil yang muttafaq alaihi maksudnya adalah dalil-dalil yang telah disepakati bersama oleh para ulama, sementara yang mukhtalaf alaihi adalah dalil yang masih menjadi perdebatan di kalangan para ulama.

Untuk sumber hukum Islam ini, ada empat dalil yang sudah menjadi kesepakatan bersama para ulama, yaitu al-Quran, sunnah, ijmak dan kiyas. Sementara yang mukhtalaf alaihi sangat banya. Sebagian ulama menyebutnya ada 36 dalil. Di antara dalil yang mukhtalaf alaihi itu adalah syr’un man qablana, aqwalushahabi, maslahah mursalah, istihsan, istishlah, urf dan lain sebagainya.

Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad secara mutawatir. Sunnah sendiri merupakan ungkapan, prilaku dan persetujuan nabi Muhammad saw. baik al-Quran dan sunnah wajib diikuti dan diimani bagi setiap orang muslim. Inkar terhadap al-Quran dianggap kafir. Inkar terhadap sunnah nabi secara menyeluruh juga kafir.

Lantas apakah ijmak itu?  Ijmak merupakan kesepakatan para mujtahid pada satu masa setelah zaman Rasulullah terhadap persoalan tertentu.” Ijmak sendiri selalu berlandaskan pada dalil, baik dalil yang sifatnya qat’hi, dzanni atau terkait persoalan umat yang membutuhkan solusi atau bias jadi berdasarkan kiyas. Ijmak yang berdasarkan dalil qath’I mislanya terkait keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, kiamat pasti akan dating, surge dan neraka adalah pasti terjadi. Dalam fikih misalnya, kewajiban shalat, puasa, zakat dan haji. Seluruh ulama sepakat mengenai kewajiban hal tersebut. Jika nas zhanni, sangat sulit untuk terjadi ijmak ulama, karena disebut zhanni, karena nas memang multi tafsir. Adapun terkait dengan persoalan yang belum dijelaskan secara sharih oleh nas, sangat mungkin terjadi seperti pengangkatan khalifah Abu Bakar, pembukuan mushaf al-Quran di masa sahabat Abu Bakar ash-Shidik, pembukuan ulang mushaf al-Quran pada masa Utsman bin Affan dan lain sebagainya. Untuk saat ini, ijmak masih sangat mungkin dengan adanya Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang mempunyai badan fikih yang disebut dengan al-majma al-fiqhi.

Meski demeikian, tidak serta merta seseorang mengakui bahwa suatu persoalan sudah ijmak. Ada beberapa persyaratan bahwa suatu masalahsudah menjadi ijmak ulama, yaitu

  1. Terjadinya kesepakatan
  2. Kesepakatan seluruh ulama Islam
  3. Waktu kesepakatan setelah zaman Rasulullah saw.

Bila seluruh perkara di atas terpenuhi maka ia menjadi ijma’ yang tak boleh diselisihi dan ia menjadi landasan hukum dalam Islam. Siapa yang menyelisihi ijmak, dianggap menyelisihi hukum Islam.

Terkait kemungkinan dan pengakuan ulama terhadap ijmak, berdasarkan dalil-dalil sebagaimana berikut ini:

Dari al-Quran

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا

Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kalian” (QS. Al-Baqoroh: 143)

Syuhada maknanaya adalah menjadi saksi. Artinya bahwa umat Islam akan menjadi saksi atas berbagai macam persoalan, termasuk perkara-perkara agama. Persaksian dariumat nabi Muhammad saw ini menunjukkan bahwa ijmak dari umat Muhammad saw sangat mungkin.

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مسيرا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa pada kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kesesatan ada di luar ajaran Rasul dan jalan yang ditempuh oleh orang-orang mukmin. Ini artinya bahwa perkumpulan oorang beriman memberikan sebuah kebenaran. Artinya bahwa ijmak dari kalangan orang beriman adalah mungkin terjadi.

Dalil Assunnah:

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لا تجتمع أمتي على ضلالة

Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).

Hadis di atas memberikan keterangan bahwa kesepakatannya umat Islam, tidak akan membawa kepada kesesatan. Artinya ijmak di kalangan umat Islam sangat mungkin

فمن رأيتموه فارق الجماعة أو يريد أن يفرق بين أمة محمد صلى الله عليه وسلم، وأمرهم جميع، فاقتلوه كائنا من كان، فإن يد الله مع الجماعة

Siapa saja yang kalian pandang meninggalkan jama’ah atau ingin memecah belah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan dalam perkara tersebut mereka sepakat, maka bunuhlah ia siapapun gerangannya, karena sesungguhnya tangan Allah bersama jama’ah” (HR. Ibnu Hibban dan lainnya, derajatnya sahih menurut Syeikh Albani)

Dalil di atas menerangkan bahwa barnagsiapa yang lepas dari jamaah, maka ia dianggap memecah belah umat Islam. Meski hadis konteksnya terhadap para pemberontak, namun juga dapat dibawa kepada persoalan terkait kesepakatan para ulama. Hal ini, karena pemikiran manusia, juga dapat menjadi beangkerok perpecahan umat. Jadi ijmak sangat mungkin.

Ijamk sendiri bias dibagi menjadi dua:

  1. Ijma’ bayani / sharih, yaitu ijma’ yang terjadi secara sharih dan jelas, baik dengan perkataan, perbuatan maupun bayan resmi dari hasil muktamar para ulama. Contoh bisnis mudharabah. Musaqah, murabahah dan lain sebagainya yang dibolehkan oleh syariat selama tidak ada unsur ghurur, penipuan dan riba.
  2. Ijma’ sukuti, yaitu ijmak para ulama, bukan dengan sikap sharih dan bayan resmi, namun ulama diam karena menganggap perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam. Contoh seperti masuk kamar mandi di perjalanan, dengan membayar uang tertentu.

Jika kita melihat pada teks matan HPT di atas, menerangkan mengenai ijmak para ulama salaf terkait dengan perkara akidah. Para ulama salaf dari generasi sahabat, tabiin dan tabiit tabiin, semua bersepakat bahwa alam raya adalah hadis atau baharu. Alam raya adalah ciptaan, sementara Allah adalah Tuhan Sang Maha Pencipta. Tidak ada satu pun ulama salaf salih yang menganggap bahwa alam itu qadim.

Dalam khazanah pemikiran Islam, yang menganggap alam qadim adalah para filsuf yang terpengaruh dengan pemikiran Arestoteles. Juga pendapat Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa alam itu qadim min haitsu an-nau dan hadis min haitsu al-jins. Jika kita buka pendapat para ulama salat, tidak akan pernah kita temukan seorang pun yang mengatakan bahwa alam itu qadim min haitsu an-nau’ dan hadis min haitsu an-jins. Baik pendapat para filsuf atau Ibnu Taimiyah, oleh HPT Muhammadiyah dianggap bertentangan dengan pendapat ijmak para ulama salaf.

Comments

comments

 border=
 border=