Monday, February 17, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Idealnya Sekolah Muhammadiyah Antara Putra dan Putri Dipisah

imageshfaj

 

Waktu saya sekolah di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, saya sering mengamati perilaku para siswa di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Yogyakarta merupakan basicnya Muhammadiyah. TK hingga Perguruan Tingga Muhammadiyah bertebaran di mana-mana.

 

Meski demikian, ada dua hal yang membuat saya risih. Pertama, pacaran merupakan hal yang sangat lumrah. Kedua, banyak yang tidak bisa membaca al-Quran. Untuk yang pertama ini, saya melihat dari siswa yang pulang pergi sekolah dengan naik kendaraan bermotor. Mayoritas para siswa itu, boncengan antara siswa dengan siswi. Itu artinya, antar mereka “sudah janjian” untuk pulang pergi bersama.

 

Saya tidak yakin bahwa mereka ini muhrimnya. Ini artinya, mereka sudah berprilaku yang bertentangan dengan syariah Islam. Mereka berjalan bersama laki perempuan dan berboncengan ria tanpa ada perasaan berdosa sama sekali. Dan itu membudaya di sekolah Muhammadiyah.

 

Anehnya lagi, sikap mereka ini tidak ada teguran sama sekali dari para guru. Siswa dibiarkan saja berbacaran dan berduaan. Padahal ini merupakan awal dari kerusakan. Jika perilaku yang nampak saja demikian, bagaimana dengan yang tidak nampak? Bisa jadi mereka telah melakukan hal yang lebih jauh dari itu.

 

Kedua, mereka ini ternyata banyak yang belum bisa mengaji. Saya masih ingat bahwa Muallimin sering dijadikan sebagai tempat mereka untuk belajar mengaji. Bayangan saya, mengaji ini adalah materi paling dasar bagi seorang muslim. Bagaimana dia shalat jika ia tidak bisa mengaji?  Jika materi paling dasar yang harus dikuasai saja dia tidak bisa, bagaimana dengan materi keagamaan lainnya? Bagaimana dengan materi akidah, fikih, akhlak dan lainnya?

 

Saya sedih, karena ini terjadi di sekolah Muhammadiyah. Padahal jargon Muhammadiyah itu sangat jelas, gerakan Islam amar makruf nahi munkar yang kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Di mana amar makruf nahi munkarnya? Di mana kembali kepada al-Quran dan Sunnahnya?

 

Idealnya, sekolah Muhammadiyah antara yang putra dengan yang putrid  dipisahkan. Tidak ada lagi percampuran lawan jenis di sekolah Muhammadiyah. Memang pemisahan ini tidak menjamin bahwa siswa tidak akan pacaran. Namun setidaknya dapat meminimalisir berbagai perilaku negatif yang terjadi pada diri siswa.

 

Materi Quran juga harus menjadi materi wajib setiap hari. Sediakan saja waktu 40 menit saja, sebelum materi lainnya setiap hari untuk mengaji dan menghafal al-Quran. Meski terkesan sederhana, namun menyibukkan diri dengan hafalan al-Quran akan berpengaruh positif pada prilaku siswa.

 

Harapannya, dengan dipisahkan sekolah putra dengan putri dan pelajaran Quran menjadi materi harian yang wajib, akan menjadi pendukung gerakan Muhammadiyah yang amar makruf dan nahi munkar serta meningkatkan kualitas akhlak anak didik dari sekolah Muhammadiyah. Wallahu alam.

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

three × 4 =

*