Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ibnu Rusyd Gagal Mengembalikan Filsafat?

perang-salib-ilustrasi-_140110135924-538

 

Dalam sebuah diskusi, dikatakan bahwa Ibnu Rusydi coba fight back tapi gagal. Hanya menurut saya pendapat ini juga kurang tepat.

 

Mari kita lihat.

Sesungguhnya filsafat Ibnu Rusyd berbeda dengan bangunan filsafat Ibnu Sina dan Ghazali. Ibnu Rusyd lebih menitikberatkan kepada kompromi antara akal dan naql. Dalam kitabnya Faslul Maqal Fima Baina al-Hikmah wa Asyariah Minal Ittiasal. Prinsipnya, apa yang dibawa oleh para nabi dengan wahyu Tuhannya, merupakan nas rasional dan tidak bertentangan sama sekali dengan akal manusia. Semua nas rasional dan akal manusia selalu selaras dengan wahyu Tuhan.

 

Gagasan dialog antara wahyu dengan akal, tidak hanya disambut oleh para pemikir muslim, namun juga oleh pemikir non muslim. Sebut saja misalnya Musa bin maimun, salah seorang murid Ibnu Rusyd yang beragama Yahudi. Ia sangat terpengaruh dengan pemikiran gurunya. Padahal ia beragama Yahudi. Ia banyak menulis buku filsafat dan mengkompromikan antara ajaran Yahudi dan akal.

 

Bukan hanya Musa bin Maemun, namun juga banyak lagi para pemikirn Barat, baik Yahudi maupun Kristen. Bahkan di Barat muncul gerakan yang disebut dengan gerakan ar-Rusydiyyah (averoisme) yaitu sebuah gerakan pemikiran yang menghidupkan dan menyebarkan pemikiran-pemikiran Ibnu Rusyd ke dunia Barat. dari gerakan ini, kelak akan melahirkan Renaisans dalam masyarakat Barat.

 

Apa yang saya sampaikan ini, cukup menjadi bukti bahwa Ibnu Rusyd tidak gagal. Bagaimana dengan dunia Islam? Mengapa pemikiran Ibnu Rusyd kurang mendapat sambutan?

 

Tentu filsafat di dunia Islam tetap berkembang pasca Ibnu Rusyd. Contohnya adalakah Ibnu Taimiyah. Beliau adalah ulama besar ensiklopedis yang banyak menelurkan karya monumental. Beliau juga seorang filsuf muslim yang jenius. Ibnu Taimiyah menguasai filsafat Yunan, filsafat Islam dan ilmu kal;am.

 

Terkait hubungan antara akal dan naql, Ibnu Taimiyah menulis buku yang judulnya,secara makna mirip dengan buku Ibnu Rusyd. Buku tiu berjudul Dar’u Ta’arrudi al-Aqli wa an-Naqli yang intinya, tidak ada benturan antara akal dengan naql. Buku ini ditulis sampai 11 jilid besar. Jadi pemikiran Ibnu Rusyd ternyata juga sama dengan pendapat Ibnu Taimiyah seperti yang beliau tulis dalam kitab tersebut.

 

Jika dikatakan bahwa pemikiran Ibnu Rusyd tidak dapat membawa kebangkitan umat, juga perlu dikaji ulang. Masalahnya, waktu itu umat Islam mengalami kemunduran, bukan saja di bidang filsafat, tapi juga di banyak ilmu pengetahuan lainnya. Kemunduran ini di antaranya akibat perang berkepanjangan dengan Tatar dab tentara salib. Juga imperalisme yang menerpa sebagian besar dunia Islam. Wallahu A’lam.

===============

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open