Tuesday, October 16, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Hukum Menggunakan Ilmu Hisab Tidak Boleh

dsa

 

Dalil Naqli

 

1. Firman Allah:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

 

Artinya: Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu.

 

Wajhu al-Dilâlah

 

Ayat di atas dapat dipahami bahwa setiap orang Islam yang menyaksikan hilal pada bulan Ramadhan, maka umat Islam sudah diwajibkan berpuasa.

 

2. Sabda Rasulullah:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

 

Artinya: “Berpuasalah karena kamu melihat hilal, dan berbukalah karena kamu melihat hilal. Jika kamu terhalang oleh kabut, maka sempurnakanlah jumlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari)

 

Wajhu al-Dilâlah

 

Secara jelas hadits di atas menerangkan kepada kita bahwa untuk menentukan awal bulan Ramadhan atau Syawal adalah dengan rukyah. Jika tidak dapat rukyah karena langit terhalang mendung, umat Islam cukup menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.

 

3. Sabda Rasulullah:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ وَمَرَّةً ثَلَاثِينَ

Artinya: Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi yang tidak dapat menulis dan menghitung. Jumlah bulan ini seperti ini dan seperti ini dan seperti ini, maksudnya, satu bulan terkadang jumlahnya dua puluh sembilan hari dan kadang kali tiga puluh hari”.

 

Wajhu al-Dilâlah

 

Hadits di atas menerangkan bahwa umat Islam adalah umat yang tidak dapat membaca dan menghitung. Untuk itu sebagai sarana termudah terutama untuk mengetahui awal bulan adalah dengan cara rukyah.

 

4. Sabda Rasulullah:

َقَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

 

Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kalian semua berpuasa sehingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka sehingga kalian melihat hilal. Jika hila tertutup awan, maka hitunglah bulan itu”.

 

Wajhu al-Dilâlah

 

Hadits di atas dapat dipahami bahwa puasa dilarang sebelum hilal benar-benar dapat dilihat. Dalam hadits di atas menggunakan huruf lâm al-nahiy yang berarti larangan. Sementara dalam kaidah ushuliyyah dikatakan:

 

النهي يفيد التحريم إلا إذا صرفته قرينة

ِ

Artinya: Larangan menunjukkan makna haram, kecuali jika terdapat indikasi lain.

 

Imam al-Sindi memberikan catatan bahwa dengan hadits ini menerangkan haramnya puasa sebelum melihat hilal dan tidak ada kewajiban puasa sebelum hadirnya hilal.

 

 

 

 

 

Dalil Aqli

 

  1. Puasa adalah ibadah, sebagaimana shalat dan haji. Sementara waktu ibadah sudah ada keterangannya yang jelas dari syariat. Dengan demikian,  menggunakan ilmu hisab dalam hal yang berkaitan dengan ibadah tidak dibenarkan. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul yang menyatakan:

 

الأصل فى العبادة التعبد و الإتباع

 

Artinya: Prinsip dalam beribadah adalah ta’abud dan ittiba’.

 

  1. Ajaran Islam adalah mudah (yusrun), dan diturunkan kepada umat Islam untuk kemudahan. Sementara falak adalah rumit dan memberatkan umat. Berbeda dengan rukyat yang lebih mudah dan efisien dan dapat dilakukan oleh sebagian besar umat Islam. Dengan demikian, penggunaan rukyat lebih utama dibandingkan dengan hisab.

 

Syarat Sahnya Rukyat

 

Meskipun rukyat dapat dilakukan oleh sebagian besar umat Islam, namun demikian ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Dengan demikian, rukyat akan menghasilkan ketetapan hukum yang lebih valid. Di antara syarat-syarat tersebut adalah:

  1. Dilaksanakan saat keadaan udara cerah dan tidak ada penghalang apapun (faktor-faktor lain yang menyebabkan tidak dimungkinkan bulan terlihat).
  2. Harus diperhitungkan juga tempat yang digunakan untuk melihat dan mengamatinya. Begitu juga diperhitungkan ketinggian tempat tersebut.
  3. Orang yang melihat harus orang yang adil, sesuai dengan apa yang telah ditetapkan syariat.
  4. Matanya harus dalam keadaan sehat.
  5. Dia harus orang yang sudah terlatih di dalam masalah ini, paling tidak dia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.
  6. Tidak dipengaruhi faktor-faktor kejiwaan yang mengganggu proses pengamatan.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open