Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Hukum Membaca al-Quran Dengan Langgam Selain Arab: Boleh

gsah

 

Bacaan Quran dengan langgam Jawa ternyata masih menjadi topik yangs sangat menarik. Banyak kalangan yang mempertanyakan mengenai keabsahan bacaan tersebut.  Jika dilihat bagaimana Qari membacakan ayat al-Quran tersebut, nampak tidak ada upaya melecehkan al-Quran. Ia terlihat khusyu dan berusaha setartil mungkin sesuai kemampuan yang ia miliki.

 

 

Bacaan seni tilawah tersebut memang tidak lazim. Selama ini yang umum digunakan adalah seni tilawah yang datangnya dari luar Indonesia. Sebelumnya sesungguhnya sudah ada beberapa Qari Indonesia yang membacakan Quran dengan langgam Jawa. Hal ini bisa dicek di youtube. Bahkan sebagian ada yang melagukannya sampai satu juz penuh. Hanya saja karena sifatnya individual dan tidak dibacakan di ranah publik, sehingga tidak menimbulkan kontraversi.

 

 

Bagis saya sendiri, membaca al-Quran dengan langgam daerah, baik Jawa, Melayu, Dayak, Kurdi, Turki, Persia, dan lain sebagai hukumnya boleh dengan dua syarat,

Pertama; tetap memperhatikan hak al-Quran, yaitu membacanya secara tartil. Ini sesuai dengan firman Allah:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً) 

 

Artinya: Bacalah Al-Quran secara tartil. (QS. Al-Muzammil: 4)

 

Ayat di atas menggunakan kata perintah (fiil amr). Dalam bahasa Arab, kata perintah menunjukkan sebuah kewajiban. Jadi membaca al-Quran secara tartil, hukumnya wajib.

 

Kedua: Memperhatikan etika dalam membaca al-Quran. Para ulama meletakkan standar etika dalam membaca al-Quran. Ada banyak etika, namun di sini saya sebutkan beberapa poin saja, di antaranya

  1. Membacanya sebaiknya dalam kondisi bersuci.
  2. Membaca dengan suara yang bagus.
  3. Sabar ketika menghadapi kesulitan dalam membaca al-Quran
  4. Dibaca secara khusyu
  5. Membacanya tidak untuk main-main.
  6. Membacanya tidak untuk tujuan melecehkan al-Quran.
  7. Membaca karena niat beribadah dan bukan semata untuk mencari ketenaran.
  8. Membaca secara ikhlas
  9. Membaca dengan merenungi makna yang terkandung di dalamnya.

 

Jadi, ketika dua syarat tadi sudah terpenuhi, maka membaca dengan sei tilawah apapun hukumnya boleh.

 

 

Mengapa boleh? Ada beberapa alasan yang bisa dikemukanan:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( ليس منا من لم يتغن بالقرآن – وزاد غيره – يجهر به

Artinya: “Bukan dari golonganku orang yang membaca al-Quran dengan tanpa melagukan. (HR Bnukhari).

  1. Hadis di atas menunjukkan mengenai perintah untuk melagukan al-Quran.
  2. Perintah melagukan dalam hadis di atas bersifat umum dan tidak ada ketentuan khusus mengenai lagu apa yang harus digunakan. Karena ia bersifat umum, maka melagukan al-Quran dengan lagu apapun boleh selama memperhatikan dua aspek di atas, yaitu tartil dan memenuhi etika bacaan al-Quran.
  3. Tidak ada nas, baik dari Quran atau hadis nabi yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw membaca al-Quran dengan seni tilawah tertentu seperti seni tilawah yang sudah dikenal saat ini.
  4. Tidak ada atsar sahabat atau tabiin yang menunjukkan bahwa para sahabat dan tabiin membaca al-Quran dengan seni tilawah tertentu seperti seni tilawah yang sudah dikenal saat ini.
  5. Tidakadanya hadis Nabi maupun atsar sahabat dan tabiin tersebut menunjukkan bahwa seni tilawah seperti yang sudah masyhur, muncul di kalangan ulama khalaf dan bukan dari generasi salaf.
  6. Ini artinya bahwa seni tilawah merupakan perkara yang sifatnya ijtihadi. Karena ia ijtihadi, maka bisa berubah menyesuaikan ruang waktu.
  7. Jika seni tilawah dibakukan dan diwajibkan bagi setiap insan muslim, tentu ini akan memberatkan hamba. Hal ini karena tidak semua insan muslim mempunyai bakat seni tilawah yang sama dan tidak mempunyai kemampuan membaca al-Quran sesuai dengan seni tilawah yang sudah masyhur tersebut.
  8. Jika ia memberatkan hamba, bearti ia bertentangan dengan hadis Nabi yang menyatakan:

الدين يسر

Artinya: Agama itu mudah (HR Bukhari).

 

Juga bertentangan dengan firman Allah:

 

 

لا يكلف الله نفسا الا وسعها

 

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS.Al-Baqarah : 286).

Ayat di atas menunjukkan bahwa kita beribadah sebatas dengan kemampuan yang kita miliki dan bahwa Allah tidak akan membebani hamba melebihi kemampuan kita. Jika membaca al-Quran wajib dengan lagu yang sudah ditentukan tadi, tentu ini akan memberatkan bagi mereka yang tidak punya bakat membaca Quran dengan standar seni tilawah tersebut.

  1. Seni tilawah sendiri sesungguhnya bisa dibagi menjadi dua, yaitu mujawwad dan murattal. Seni tilawah seperti Muammar, Qashim Nurseha, Maria ulfa, Abdul Basyid, Nuaina’ dan lain-lain masuk dalam seni tilawah mujawad. Ia mempunyai standar baku yang disepakati bersama.

Ada pula seni tilawah yang tidak baku dan sangat subyektif bergantung kepada qari. Model seni tilawah ini disebut dengan murattal, seperti yang biasa dilagukan oleh Syaih Sudes, Syaih Ghumaidi, Syaikh Minsyawi dan lain sebagainya. Setiap Syaih mempunyai seni tilawah sendiri-sendiri. Tidak seorang ulama pun baik dari Barat maupun Timur yang mencela bacaan para masyayikh tersebut. Ini menunjukkan bahwa seni tilawah memang perkara ijtihadi dan boleh berubah sesuai kemampuan masing-masing.

 

 

  1. Al-Quran diturunkan untuk umat manusia dan bukan hanya untuk orang Arab saja. Seni membaca al-Quran juga bukan monopoli orang Arab. Buktinya, setiap kita dalam mengaji al-Quran mempunyai khas masing-masing dan tidak ada seorang ulama yang mengharamkan.

 

 

Dari paparan di atas, jelaslah bahwa membaca al-Quran dengan seni tilawah daerah, termasuk juga dengan langgam Jawa dibolehkan secara syariat selama memenuhi hak al-Quran, yaitu membaca secara tartil dan sesuai dengan etika dalam membaca al-Quran. Wallahu alam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open