Saturday, August 18, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Hujah Istiqra

dfshj

Sebelumnya pernah kami singgung terkait pembagian istiqra, yaitu tam dan naqis Istiqra tam adalah meneliti semua sampel yang ada dalam obyek penelitian, dari sini lantas dibuat suatu kesimpulan. Sementara istiqra naqis hanya meneliti sebagian sampel saja, lalu dibuat kesimpulan. Hasil penelitian yang menggunakan metode istiqra tamm bersifat pasti (qatiy). Hal ini karena peneliti melakukan kajian secara mendetail dan terperinci terkait seluruh sampel yang dibutuhkan. Karena ia kajian menyeluruh,maka kesimpulan yang diambil adalah kesimpulan berdasarkan pada seluruh sampel dari obyek penelitian. Contoh: Muhammad meneliti mengenai siswa yang lulus di kelas satu SD. Standar yang digunakan adalah bahwa mereka yang nilainya di atas 60 dianggap lulus. Jumlah sampel dalam kelas ada 50 orang. Setelah ia melihat satu persatu siswa kelas 1 SD, ternyata semua siswa nilainya di atas 60. Dari sini, Muhammad mengambil kesimpulan bahwa siswa kelas 1 SD semuanya naik kelas. Kesimpuan yang diambil oleh Muhammad ini bersifat pasti (qath’iy), karena meneliti seluruh person yang ada dalam kelas.

Istiqra tam juga berlaku dalam hukum syariat. Dalam kitab al-Mustasfa, imam Ghazali memberikan keterangan terkait istiqra ini dengan menyuguhkan contoh terkait fi’il amr. Menurut beliau bahwa setiap fi’il amr yang digunakan dalam al-Quran dan tanpa adanya qarinah, selalu menunjukkan makna wajib. Perintah shalat, haji, zakat, menepati janji, dan lainsebagainya menggunakan kata perintah. Karena kata perintah di ayat-ayat tersebut tidak ada qarinah yang dapat memalingkan, maka ia menunjukkan makna wajib. Jadi, kesimpulan wajib itu, bukan dari penelitian satu dua ayat saja yang terkait dengan fiil amr dalam al-Quran, namun seluruh fi’il amr. Dari sini, maka kesimpulannya bersifat qat’iy. Oleh ulama ushul, hal yang sifatnya pasti ini dan tersebut dalam al-Quran namanya qat’I tsubut dilalah, yaitu lafal yang jelas datangnya dari Allah (al-Quran) dan secara dilalah hanya menunjukkan satu makna saja.

Berbeda lagi dengan istiqra naqis, yaitu penelitian yang melibatkan sebagian dari sampel saja. Katakanlah ada 100 sampel yang butuh penelitian, ia hanya mengambil 50 sampel secara acak. Penelitian seperti ini bisa dijadikan sebagai pegangan, hanya saja hasilnya tidak pasti. Dengan kata lain, masih ada kemungkinan terjadi kesalahan. Contoh: Peneliti LSI Network Rully Akbar mengatakan pasangan Jokowi-JK mendapat suara 51,74% dan Prabowo-Hatta dengan 48,25%. Dengan selisih 3,49%. Namun, menurutnya, berdasarkan angka itu maka diasumsikan pasangan nomor urut 2 meraih dukungan sebanyak 38,58%. Sementara rivalnya, memperoleh 35,98%. Dari angka ini terdapat 25,44% responden yang enggan memberitahu pilihannya. “Jokowi-JK memperoleh 38,58% dan untuk Prabowo-Hatta 35,98%. Sementara 25,44% merahasiakan pilihannya,” ujarnya dalam Konferensi Pers di Jakarta, Rabu (9/7/2014). Data itu diperoleh dengan metode interval yaitu dengan mewawancarai empat responden yang dipilih dari 2.000 tempat pemungutan suara (TPS) secara acak dari 478.883 TPS. Alhasil, total responden yaitu 8.000 responden dari total keseluruhan 188.246.645 pemilih. Sementara sampling errornya +/-1,5%.

Penghitungan cepat di atas tidak melibatkan semua sampel, namun hanya sebagian saja. Hasil dari perhitungan di atas bias diterima dan mungkin benar. Hanya saja, tetap ada margin error. Jadi masih ada kemungkinan hasil tidak sesuai dengan penelitian. Penelitian model seperti ini juga berlaku dalam kajian ilmu ushul fikih. Inilah yang disebut dengan istiqra naqis itu. sebagai contoh: dalam kitab bahrul muhith karya Zarkasyi disebutkan bahwa jika sahabat mengatakan “Rasulullah saw bersabda”, ada kemungkinan besar bahwa sahabat tersebut mendengar langsung dari rasulullah. Penelitian tidak dilakukan dengan melihat semua hadis nabi namun berfasarkan sampel.hasilnya masih belum pasti karena bisa saja dia mendengar dari sahabat lain. Meski demikian kesimpulan tersebut audah dapat dijadikan pegangan. Rata rata ulama ushul mengklaim bahwa istiqra naqis hasilnya tidak pasti. Hanya imam syathibi seperti yang beliau singgung dalam kitab al muwafaqat yang berpendapat bahwa baik istiqra tam atau naqis hasilnya bersifat pasti. Wallahu a’lam

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 Www.Almuflihun.com

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open