Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Hidupkan Pengajian Ranting; Masukan untuk Pemuda Muhammadiyah

p01-a_37.img_assist_custom-560x373

 

Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah

Pasal 5

Ranting

(1) Ranting adalah kesatuan anggota di suatu tempat atau kawasan yang terdiri atas sekurang-kurangnya 15 orang yang berfungsi melakukan pembinaan dan pemberdayaan anggota.

(2) Syarat pendirian Ranting sekurang-kurangnya mempunyai:

a. Pengajian / kursus anggota berkala, sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan

b. Pengajian / kursus umum berkala, sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan

c. Mushalla / surau / langgar sebagai pusat kegiatan

d. Jama`ah

(3) Pengesahan pendirian Ranting dan ketentuan luas lingkungannya ditetapkan oleh Pimpinan Daerah atas usul anggota setelah mendengar pertimbangan Pimpinan Cabang.

(4) Pendirian suatu Ranting yang merupakan pemisahan dari Ranting yang telah ada dilakukan dengan persetujuan Pimpinan Ranting yang bersangkutan atau atas keputusan Musyawarah Cabang / Musyawarah Pimpinan tingkat Cabang

 

Saya akan meyoroti ke poin 2 bahwa pendirian ranting harus ada pengajian, setidaknya 1 kali dalam sebulan. Untuk pusat pengajian, jika tidak ada surau, bisa saja di rumah anggota.

 

Persoalannya, pengajian ranting sekarnag sepi.  Jamaah ada, tapi pengajiannya kosong.  Ini berlaku umum, tidak hanya di desa namun juga di kota-kota. Kekosongan pengajian ini memperihatinkan. Sarana apalagi bagi anggota Muhammadiyah untuk berkumpul selain dengan pengajian?  Tradisi Muhammadiyah tidak ada Yasinan, barzanji, ndibaan atau tahlilan sebagai sarana berkumpul bersama.  Padahal ranting adalah ujung tombak gerakan Muhammadiyah.  Dalam sejarah awal, pengajian-pengajian jamaah inilah yang mampu menggerakkan Muhammadiyah.

 

Pengajian ranting banyak bermanfaat. Ia menjadi “universitas terbuka” bagi anggota. Apalagi jika pengajian dilakukan secara sistematis dengan silabus yang tersetruktur. Maka wawasan keislaman jamaah akan semakin baik. Mereka yang tidak bisa mengenyam pendidikan keislaman di pesantren atau sekolah-sekolah agama, dapat memperoleh wawasan keislaman di pengajian ranting.

 

Pengajian ini juga dapat menjadi sarana sharing ide. Barangkali jamaah ada persoalan yang perlu dipecahkan. Di sini menjadi sarana efektif untuk mencari solusi bersama atas persoalan jamaah.  Satu sama lain saling tolong menolong dalam kebaikan. Persoalan 1 anggota, menjadi persoalan bersama.

 

Tidak hanya terkait dengan anggota jamaah, pengajian ranting juga menjadi upaya tukar ide dalam pengembangan dakwah Muhammadiyah di tingkat paling bawah. Bisa saja, dari sini muncul pemikiran pengembangan keterampilan untuk mengangkat ekonomi umat, pendirian panti asuhan, atau sekolah Muhammadiyah. Banyak hal yang akan didapatkan dari seringnya kumpul bersama dengan pengajian ini.

 

Pengajian tersebut juga menjadi sarana efektif untuk memupuk militansi jamaah. Semakin sering ketemu dan bersilaturrahmi bersama, maka kedekatan emosional jamaah akan semakin terikat. Rasa saling memberi dan menerima akan terasa. Jamaah menjadi bagian satu kesatuan dari keluarga besar Muhammadiyah.

 

Sayangnya, pengajian ranting ini banyak yang mati suri. Bukan karena ranting tidak ada anggota, tapi kurangnya “kyai kampung” yang dapat menjadi pengayom. Ranting membutuhkan SDM dan sukarelawan yang mau berdakwah membimbing jamaah dengan penuh ikhlas. Ranting butuh orang yang rela all out berdakwah tanpa mudah tergoda oleh urusan politik.

 

Sayangnya, di saat kondisi ranting seperti ini, para pemuda Muhammadiyah justru lebih tertarik masuk dalam urusan politik. Lihat saja waktu pemilihan capres kemarin. Mereka berlomba-lomba membetuk sukarelawan untuk mendukung capres tertentu. Tidak tanggung-tanggung, mereka membawa bendera Muhammadiyah dan membuat lambang yang mirip-mirip dengan Muhammadiyah.

 

Urusan bangsa memang sangat penting.  Tapi tidak kemudian semua anggota berbondong-bondong masuk dalam hiruk pikuk politik. Di ranting sana, butuh siraman rahani dan bimbingan. Mereka butuh wawasan keislaman. Mereka butuh orang yang mau menjadi pengayom, sebagai “kyai kampung” tempat membagi suka dan duka.

 

Ranting butuh banyak kader potensial sehingga ujung tombak dakwah Muhammadiyah itu bisa berjalan dengan baik. Sangat disayangkan jika kita sebagai anggota Muhammadiyah, sibuk dengan urusan bangsa, sementara urusan kita sendiri terabaikan.

 

Pemuda Muhammadiyah, marilah kita bersama-sama mengurusi ranting kita. Jadilah sukarelawan dai. Insyaallah imbal balasannya dari Allah, jauh lebih besar dibandingkan dengan imbal balasan yang dijanjikan oleh para capres itu. Fastabiqul khairat wallahu mustaan.

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

2 comments

  1. Assalamu’alaikum… Mas Wahyudi. Kita pernah ‘berjumpa’ di milis Muhammadiyah/PMB. Lama tidak kedengaran kabarnya. Bagaimana, sehat, Mas? Masih di Kairo?
    waalaikum salam. saya masih di cairo. ahlan…antum di mana skarang?

  2. kegiatan bersifat internal, kegiatan pembinaan pengajian-pengajian dan kegiatan kepemudaan lainnya. Tetapi bisa dikatakan periode ini sebagai awal penataan Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, karena proses menentukan kepemimpinannya sudah melalui mekanisme permusyawarahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open