Tuesday, August 4, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Hasan, Husain dan Muawiyah

Desert_of_Karbala_by_NarjisNaqvi

Setelah Ali syahid, Bani Hasyim dan para sahabat yang tinggal di Madinah memberikan baiat kepada Hasan bin Ali. Tapi masyarakat muslim yang tinggal di Syam membaiat Muawiyah. Secara faktual, umat Islam punya dua khalifah. Satu di Madinah dan satu lagi di Syam.

 

Enam bulan kemudian, Imam Hasan bertemu dengan Muawiyah dan melakukan perundingan damai. Di sini terjadi kesepakatan damai antara Muawiyah dan Hasan
bin Ali. Hasan rela menanggalkan kekhalifahannya dan menyerahkan kepada Muawiyah. Syaratnya, setelah Muawiyah meninggal, maka khalifah akan pindah ke Hasan bin Ali. Sejak saat itu dunia Islam kembali tentang. Umat Islam hanya punya satu kekuasaan

 
Hasan bin Ali jauh lebih muda dibandingkan dengan sahabat Muawiyah. Secara kalkulasi manusia, sangat mungkin Muawiyah akan meninggal lebih dulu. Ternyata Muawiyah berumur panjang.  Ia menjadi khalifah selama 20 tahun.
Saat sudah ada tanda-tanda akhir dari kekhalifahannya, di kalangan Bani Umayyah sudah berhembus bahwa khalifah akan pindah ke Hasan bin Ali. Untuk menghindari perpindahan kekuasaan dari Bani Umayyah ke Bani Hasyim, dari keluarga Bani Umayyah ada yang meracun Hasan bin Ali. Maka meninggallah Hasan bin Ali secara syahid.

 

Hanya saja, kubu Bani Hasyim mengalihkan perjanjian kekuasaan kepada Husain bin Ali. Ia adalah saudara kandung Hasan sehingga ia yang berhak untuk menggantikan posisi Hasan sebagai khalifah sepeninggal Umawiyah..

 

Namun perpolitikan tidak sesuai dengan dugaan. Muawiyah tidak memberikan kekuasaan ke Husain bin Ali, tapi justru mengangkat putra mahkota, Yazid. Artinya sepeninggal Muawiyah, maka Yazidlah yang akan menjadi khalifah.

 

 

Kenyataan ini membuat kecewa kubu Husain. Mereka marah karena merasa dikhianati. Husian sebagai orang yang merasa menjadi pewaris Imam Hasan, lantas minta izin ke para sahabat senior di Madinah untuk keluar melawan Yazid. Husain lantas menuju Irak dan dihadang oleh tentara Yazid hingga akhirnya Husain Syahid.

 

 

 

Pertanyaannya, mengapa Muawiyah menunjuk Yazid dan tidak pada perjanjian yang ada dengan Hasan?

 
Menurut Ibnu Taimiyah, Muawiyah sengaja mengangkat Yazid karena ia khawatir jika menggunakan sistem syura, maka kaum muslimin akan kembali berebut kekuasaan. Akibatnya terjadi pertumpahan darah di kalangan umat Islam. Jadi pemilihan Yazid merupakan ijtihadnya Umawiyah.  Apalagi antara Bani umayah dengan Bani Hasyim sudah pernah pecah perang dan terjadi perang dingin. Kemungkinan terjadinya konflik sangat besar. penunjukan Yazid untuk menghindari mudarat yang lebih besar.

 

 

Sebenarnya, sahabat Muawiyah sangat baik. Beliau terkenal sebagai orang yang sangat dermawan dan pemaaf. Pertumpahan darah antara Ali dan Mawiyah oleh ahli sunnah dianggap sebagai perbedaan dalam berijtihad dan mencari kebenaran.

 

Selain itu, di belakang Muawiyah ada bani Umayyah, yaitu keluarga bear beliau. Tentu banyak dari mereka yang menyokong kekuasaan Bani Umayyah dan ingin agar kekuasaan tetap berada di suku mereka.

 

 

Setelah masa-masa perseteruan di antara umat Islam saat itu, apakah sistem musyawarah sempat dipraktekkan kembali?
Sistem musyawarah coba dihidupkan lagi oleh khalifah Umar bin Abul Ziz. Beliau membentuk lembaga permusyawaratan sebagai tempat untuk bermusyawarah. Lembaga permusyawaratan ini juga difungsikan untuk mengawasi kerja dari para pemangku kebijakan. Jika ada penyimpangan, lembaga ini punya hak untuk melaporkan kepada Umar bin Abdul Aziz.

 
di masanya, Umar bin Abul Aziz mengundang semua kelompok Islam untuk diajak beralog. Beliau melakukan rekonsoliasi politik agar sesama kelompok Islam tidak saling bertikai. Umar berusaha untuk mengakomodir semua pemikiran dari berbagai kelompok partai oposisi.
Dengan strategi ini, sistem politik di masa Umar bin Abdul Aziz cenderung stabil. Tidak heran jika selama dua tahun memimpin, banyak perkembangan ekonomi yang sangat mencengangkan. Beliau bisa berlaku adil dan sangat perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat.

 
Hingga suatu kali kelompok khawarij diundang. Salah satu permintaan Khawatij yang paling mendasar adalah mengembalikan kekuasaan dari sistem kerajaan, menuju kekhalifahan yang sesungguhnya dengan sistem syura.

 
Umar termenung mendengar permintaan mereka itu. Beliau sangat paham bahwa persoalan pemindahan kekuasaan bukanlah masalah sepele. Dia akan berhadapan dengan keluarga besar dari Bani Umayyah.

 
untuk itu Umar meminta waktu selama tiga hari untuk berfikir.  Keluarga Bani Umayyah merasa khawatir dengan keputusan yang akan diambil oleh sang khalifah. Melihat sikap dan kecenderungan Umar bin Abdul Aziz, mereka khawatir permintaan kelompok Khawarij ini akan dikabulkan. Maka sebelum jatuh tempo, Umar bin Abdul Aziz diracun oleh keluarganya sendiri.

 

Sepeninggal Umar bin Abdul Aziz, berbagai kelompok Islam kembali mengangkat senjata melawan pemerintah. Hingga pada akhirnya, dinasti bani umayyah dapat runtuh dan berdirilah dinasti Abbasiyah dari Bani Hasyim.  (Bersambung….)

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

13 + nine =

*