Tuesday, April 7, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Haram Menikahi Kitabiyyah, Apakah Menyalahi Nas?

pernikahan-beda-agama

 

Sebelumnya sempat saya sampaikan bahwa jumhur ulama membolehkan seorang muslim laki-laki menikahi wanita kitabiyyah baik dari kalangan Yahudi maupun Nasara. Jumhur ulama mengambil kesimpulan dari ayat berikut:

 
وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Artinya: “Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu” [al-Maidah/5: 5]

 

Menurut Syaikh Muhammad Hasan bahwa ayat tersebut memberikan qayyad dari ayat lain yang mengharamkan pernikahan dengan orang musyrik. Ayat yang dimaksudkan adalah firman Allah berkut:

 

وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُواْ الْمُشِرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُواْ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلَـئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللّهُ يَدْعُوَ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Janganlah kalian menikahi wanitawanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanitabudak yang Mukmin lebih baik daripaada wanita musyrik walaupun dia menarik hati kalian. Jangan pula kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanitawanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya (QS al-Baqarah: 221).

 

 

Jadi ayat ini bersifat mutlak, lalu diqayyad oleh ayat di atas. Jadi, meski orang Yahudi dan Nasrani bagian dari orang musyrik, karena ada pengecualian dari ayat di atas, maka yang digunakan adalah ayat pengecualian tadi.

 

Meski demikian, realitas masyarakat Indonesia berbeda dengan realitas masyarakat di negara lain, seperti Tiur Tengah. Khusus di Indonesia, gelombang kristenisasi luar biasa. Pernikahan dengan ahli kitab ini menjadi salah satu sarana efektif untuk memurtadkan laki-laki muslim.

 

Dari sini banyak ulama Indonesia yang memberikan fatwa haram terhadap pernikahan laki-laki muslim dengan wanita ahli kitab. Saya sendiri memilih pendapat ini dengan alasan yang sudah saya sampaikan sebelumnya.  Pertanyaannya, apakah dengan mengharamkan pernikahan laki-laki muslim dengan peremuan ahli kitab tidak bertentangan dengan nas? Apakah ini tidak melanggar kaedah:

لا اجتهاد مع النص

 

Artinya: Tidak ada ijtihad selama ada nas.

 

Jawabnya adalah sebagai berikut:

Benar bahwa kita dilarang berijtihad selama masih ada nas. Nas terkait suatu permasalahan menjadi pegangan dalam ijtihad. Jika ada nas lalu berijtihad menyalahi nas, ini artinya mendahulukan ijtihad dibanding dengan nas. Padahal nas adalah asal sedang ijtihad adalah cabang. Semestinya asal lebih didahulukan dari cabang dan bukan sebaliknya. Nas sebagai sandaran hukum, bukan kita membuat hukum baru yang bertentangan dengan nas.

 

Hanya saja, nas tidak bisa ditafsirkan sekadarnya lepas dari realitas sosial. Nas selalu membumi dan berpihak pada maslahat. Nas yang menerangkan mengenai makanan haram, makanan tadi bisa menjadi halal dengan kondisi realitas sosial yang berbeda.

 

Contoh: Para ulama membolehkan seseorang memakan bangkai dalam kondisi darurat, seperti kehabisan bekal, sementara yang ada dihadapannya hanya bangkai keledai. Maka ia boleh memakan bangkai tadi sekadarnya. Padahal bangkai sesuai dengan nas sharih adalah makanan yang diharamkan.  Firman Allah

 

حرمت عليكم الميتة

 

Artinya: Diharamkan atas kalian makan bangkai

 

Apakah pendapat ulama yang membolehkan memakan daging bangkai menyalahi nas? Apakah ini juga melanggar kaedah:

 

لا اجتهاد مع النص

 

Tentu saja tidak. Fatwa ulama juga berpegang pada nas lain yaitu

فمن اضطر غير باغ ولا عاد فلا اثم عليه

 

Artinya : “ Maka barangsiapa dalam ke-adaan terpaksa, ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampui batas, maka tidak ada dosa baginya “ (Q.S al-Baqarah 173).
Para ulama juga mengunakan kaedah Ushul Fiqh:
الضرورات تبيح المحظورات
Artinya : “ Darurat itu dapat membolehkan hal-hal yang tidak dibolehkan “

 

Mengapa sesuatu yang haram oleh nas bisa dihalalkan? Fatwa ulama tadi berangkat dari prinsip dasar syariat yaitu hifzhunnafs (menjaga jiwa). Dalam ilmu maqashid syariah dikatakan bahwa menjaga jiwa menjadi sebuah keharusan.  Ia masuk dalam ranah dharuriyatul khamsah, atau prinsip dasar syariat yang lima, yaitu menjaga agama, jiwa, harta, akal dan keturunan. Dengan keharusan menjaga jiwa ini. maka kaedah yang menyatakan bahwa tidak boleh berijtihad selama ada nas secara otomatis disisihkan.

 

Apakah model ijtihad seperti ini ada contohnya di masa sahabat? Tentu saja ada. Bahkan sejak masa Nabi Muhammad saw. Perhatikan kisah berikut:

عن محمد بن عمار بن ياسر عن أبيه، قال: أخذ المشركون عمار بن ياسر، فلم يتركوه حتى سبَّ النبي صلى اللّه عليه وسلم، وذكر آلهتهم بخير، ثم تركوه. فلما أتى رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم قال له عليه الصلاة والسلام: ما وراءك؟ قال: شر يا رسول اللّه، ما تُرِكت حتى نلت منك، وذكرت آلهتهم بخير. قال: فكيف تجد قلبك؟ قال: مطمئناً بالإيمان، قال: فإن عادوا فعد

 

 

Dari Muhammad bin Ammar bin Yasir dari Ayahnya dia berkata, orang-orang Musyrik mengambil Ammar bin Yasir. Mereka menyiksanya smpai Ammar mengumpat Nabi Muhammad saw dan memuji sesembahan mereka. Setelah itu baru mereka melepaskan Ammar. Setelah itu beliau menghadap nabi Muhammad saw. Rasul bertanya, “Ada apa?”. Yassir menjawab, “Bencana wahai Rasulullah. Mereka tidak mau berhenti menyiksaku sampai aku mengumpatmu dan memuji sesembahan mereka dengan yang baik-baik”. Rasul bertanya, “bagaimana kondisi hatimu?” dia menjawab, tetap penuh dengan keimanan. Rasul menjawab, jika mereka kembali menangkapmu, ulangi jawabanmu”. (HR. Baihaqi dan Hakim)

 

 

 

Sikap Ammar ini lantas diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya:

 مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْأِيمَانِ[النحل:106]

 

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia tidak berdosa). Tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah akan menimpanya dan baginya azab yang besar. [Q.S. An Nahl: 106]

 

 

Contoh lain: Suatu hari, ada pencuri di zaman Umar bin Khathab. Pencuri itu tertangkap lalu dihadapkan kepada Umar bin Khathab. Ketika ditanya, “Mengapa kamu mencuri”? Jawabnya: karena terpaksa. Pada khirnya Umar melepaskan si pencuri.

 

Tidak sampai di situ, Umar bahkan mengancam pemilik harta bahwa jika pencuri tadi sampai mengulangi tindakan mencurian, maka pemilik harta itu yang akan dijatuhi hukuman. Mengapa hukuman Umar terbalik? Mengapa justru orang yang dicuri yang diancam untuk dijatuhi hukuman dan bukan orang yang mencuri? Apakah Umar menyalahi ayat al-Quran yang sharih berikut:

 
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ * فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka barang siapa bertobat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Maaidah : 38-39].

 

Tentu jawabnya tidak. Umar tidak menyalahi nas. Sikap Umar ini karena berpujak pada realitas sosial bahwa pencuri tadi sampai melakukan tindakan kriminal karena terpaksa. Ia memcuri untukenyambung hidup. Orang kaya yang dicuri itu hidup berkecukupan. Namun ia lalai kepada masyarakat sekitar yang kelaparan. Ia dianggap telah melakukan kriminal karena tidak peka sosial. Ia lalai bahwa di dalam hartanya ada hak lain di luar zakat untuk diberikan kepada orang mismin. Umar ini membela jiwa pencuri dari kebinasaan. Sementara dalam maqashid syariat dikatakan bahwa menjaga jiwa hukumnya wajib.

 

 

Contoh lain: Pada masa Rasulullah saw dan Abu Bakar, muallafatu qulubuhum mendapatkan bagian zakat dari Bait Mal muslimin. Ini sesuai dengan nas al-Quran yang menyatakan:

 

 إنما الصدقات للفقراء والمساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفي الرقاب والغارمين وفي سبيل الله وابن السبيل فريضة من الله والله عليم حكيم

 

Artinya : “ Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-taubah : 60)

 

Di masa Umar, jatah zakat ini dihemtikan. Padahal ayat al-Quran secara sharih memberikan bagian zakat bagi muallafatu qulubuhum ini. Apakah Umar duanggap melanggar nas? Tentu saja tidak. Muallafatu qukubuhum ada standarnya. Zaman Umar negara Islam sudah kuat sehingga tidak perlu lagi menguatkan iman mereka dengan jatah finansial dari Baitul Mal Muslimin. Umat Islam sudah izzah. Selain itu mereka secara ekonomi juga sudah mapan. Apakah selamanya mereka akan menjadi muallafatu qulubuhum? Di sini Umar berpijak pada realitas sosial. Perubahan yang ada dalam realitas sosial, secara otomatis bisa merubah sebuah fatwa. Jadi Umar bin Khathab ra tidak menentang nas, namun justru berusaha menerapkan spirit nas.

 

Sekarang kita kembali ke tema asal mengenai fatwa haram bagi laki-laki muslim untuk menikahi wanita Kitabiyyah, apakah ini menyalahi nas?

 

Jika melihat hukum asal dalam al-Quran memang boleh. Namun realitas sosiallah yang merubah hukum itu menjadi tidak boleh. Jika saja kondisi normal, umat Islam izzah dan tidak ada proses kristenisasi, maka ia akan kembali kepada hukum asal. Di sini, kaedah yang digunakan adalah:

 

الحكم يدور مع علته وجودا وعدما

Ada tidaknya suatu hukum bergantung kepada ilatnya

Artinya, jika illat mafsadah itu ada, maka hukum menjadi haram. Namun jika illat mafsadah itu tiada dan justru yang muncul adalah illat maslahat, maka hukum kembali ke asalnya. Wallahu a’lam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

three × four =

*