Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Hanya Anggota Lembaga Permusyawaratan Yang Berhak Menjadi Khalifah

rqweyu

Dalam kitab al-Bidaha wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir diceritakan bahwa pasca Rasulullah saw wafat, para sahabat dari kaum Anshar berkumpul di Saqifah bani Saadah untuk menentukan pimpinan sebagai pengganti Rasulullah saw. Pertemuan tersebut lalu didengar oleh Umar bin Khatab. Ia bergegas mendatangi Abu Bakar dan mengajaknya untuk segera hadir dalam pertemuan tadi.

 

Terjadi perdebatan sengit mengenai pemimpin umat sebagai pengganti Rasulullah saw. Orang Muhajirin merasa berhak untuk menggantikan Rasulullah saw sebagai pemimpin umat. Alasannya bahwa mereka adalah orang yang menolong kaum muhajirin di saat mereka diusir dari Mekkah. Mereka yang member tempat bagi Rasulullah dan para sahabatnya kaum Muhajirin.

 

Sebaliknya, orang Muhajirin merasa bahwa mereka lebih berhak untuk menjadi pemimpin umat. Mereka adalah orang pertama yang beiman kepada Allah, membela Rasulullah dan merasakan kegetiran dakwah Islam di Mekkah hingga akhirnya mereka diusir dan berhijrah ke Madinah.

 

Untuk menengahi perselisihan, kaum Muhajirin lantas mengusulkan agar kekuasaan dibagi dua, yaitu kekuasaan untuk kaum muhajirin dan kekuasaan untuk kaum ansar. Jadi tiap keompok mempunyai pemimpin sendiri-sendiri. Usulan ini ditolak mentah-mentah oleh Umar bin Khathab.

 

Perselisihan antara kaum Muhajirin dan Anshar ini sangat sengit. Bahkan dalam ruangan tersebut sampai riuh dan hamper saja terjadi perpecahan. Dalam kondisi seperti ini, Abu Bakar maju ke depan dan berkata, “Sesungguhnya Arab tidak akan tunduk kecuali dipimpin dari golongan suku Quraisy ini”. Artinya, kepemimpinan ideal bagi bangsa Arab waktu itu adalah dari golongan suku Qurasi. Hal ini logis mengikat dominasi suku Quraisy di antara suku-suku Arab sangat kental. Jika bukan dari suku Quraisy, sangat dimugkinkan terjadi ketidakstabilan politik.

 

Abu Bakar sendiri merupakah salah satu dari anggota Lembaga Permusyawaratan. Ini artinya, ketika beliau melakukan orasi politik, beliau mempunyai kapasitas politik yang cukup disegani. Beliau adalah sahabat senior, dari kalangan Qurais dan anggota Lembaga Permusyawaratan.

 

Setelah Abu Bakar berorasi politik, dua anggota lembaga permusyawaratan lainnya, yaitu Umar bin Khathab dan Abu Ubaidah maju ke depan dan melakukan baiat (sumpah jabatan) kepada Abu Bakar. Setelah itu sumpah jabatan diikuti oleh para sahabat lainnya.

 

 

Menjelang ahir hayat Abu Bakar, beliau bermusyawarah dengan Anggota Lembaga Permusyawaratan untuk menentukan pemimpin umat seteah beliau. Abu Bakar lalu menunjuk Umar bin Khathab yang disetujui oleh seluruh anggota Permusyawaratan. Artinya, penunjukan Umar oleh Abu Bakar tersebut bukan merupakan keputusan sepihak. Namun ia dimulai dengan musyawarah oleh seluruh anggota Lembaga Permusyawaratan.

 

Tatkala Umar terbunuh, anggota Lembaga Permusyawaratan yang mulanya terdiri dari 12 anggota, saat itu  tinggal 7 anggota saja, yaitu Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqash, dan Said bin Zaid. Tujuh anggota permusyawaratan tadi yang dijadikan sarana untuk menentukan kepemimpinan umat setelah beliau. Hanya keponakannya, Said bin Zubair dikeluarkan dari anggota dan diganti dengan anaknya Abdullah bin Umar dengan syarat bahwa Abdullah hanya punya hak suara, namun tidak punya hak untuk dipilih. Tujuannya untuk menghindari tudingan adanya nepotisme kekuasaan. Lembaga ini secara lantas menunjuk Utsman sebagai khalifah.

 

Pada akhir masa Utsman, terjadi demonstrasi besar-besaran dari berbagai wilayah Islam. Para demonstran itu menuntut agar Utsman mengundurkan diri dari kekhalifahan umat. Namun permintaan demonstran itu tidak dipenuhi oleh Utsam. Pada akhirnya, terjadilah pembunuhan Utsman oleh para demonstran.

 

Setelah Utsman terbunuh, para demonstran yang menduduki Madinah bersegera ingin membaiat Ali bin Abi Thalib. Meski banyak dukungan mengalir untuk menjadikan Ali sebagai khalifah, namun tidak serta merta Ali menerima kehendak mereka itu. Bagi Ali, yang berhak menunjuk khalifah itu bukan sekelompok orang. Wewenang penunjukan khalifah terletak pada Lembaga Permusyawaratan.

 

Anggota Permusyawaratan sendiri sudah semakin berkurang. Banyak dari mereka yang sudah meninggal dunia. Anggota Lembaga yang masih hidup adalah Thalhah, Zubair dan Ali bin Abi Thalib. Setelah Ali dibaiat, Zubair dan Thalah meninggal dunia. Artinya, anggota lembaga permusyawaratan telah habis. Ali Bin Abi Thalib adalah orang terakhir dari anggota Lembaga Permusyawaratan ini.

 

Dari pemaparan di atas, nampak sekali bahwasanya para khalifah yang empat merupakan anggota dari Lembaga Permusyawaratan. Memang ada semacam “kesepakatan” umat bahwasanya yang berhak menjadi khalifah adalah salah satu dari Anggota Permusyawaratan tadi. Jadi, mereka yang ada di luar anggota lembaga, tidak mempunyai wewenang untuk dipilih.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open