Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ghazali Mengislamkan Filsafat?

imam-al-ghazali-ilustrasi-_120904143406-704

 

Dalam sebuah diskusi, disampaiikan oleh ust Abu Ali Haidar bahwa al-Attas mempunyai pendapat sebagai berikut:

  1. Filsafat telah diislamkan oleh Ghazali setelah al Kindi sampai orang-orang sebelum Imam Ghazali meyunanikan filsafat Islam.
  2. Penjajahan telah mensekularkan Islam sejak jatuhnya Cordova.
  3. Kembali kepada Ghazali dan Islam akan kembali pendidikan ummat Islam.

 

Hanya saya berbeda dengan Alattas. Menurut saya bahwa filsafat Ghazali berangkat dari kalam yang berpijak pada nas. Tentu ini berbeda dengan filsafat al-Kindi dan Ibnu Sina yang berangkat dari logika dan bersandar pada pemikiran filsafat Yunani.

 

Jadi secara epistem antara al-Kindi dan Ibnu Sina di satu sisi dan Ghazali di sisi yang lain, terdapat perbedaaan. Dari perbedaan episteme ini, berimplikasi kepada perbedaan dalam stuktur pemikiran secara lebih luas. bahkan Ghazali sangat keras dalam menyikapi mereka, terutama Ibnu Sina. Ini terlihat jelas dari buku karya Ghazali seperti al-Munqidz Minadhalal. Puncaknya adalah serangan Ghazali terhadap Ibnu Sina seperti yang tertulis dalam kitab Tahafut al-Falasifah. Imam Ghazali membidahkan 17 pendapat para filsuf dan mengkafirkan tiga pendapat lainnya.

 

Dalam dialog tajamnya dengan para filsuf, Ghazali selalu berpijak pada pemikiran kalam Asyari. Bisa dikatakan bahwa Ghazali adalah pejuang sejati dalam membela kalam Asyari. Perndapat Ghazali terkait dengan persoalan ketuhanan, relasi antara alam dengan Tuhan, gerakan alam raya dan lain sebagainya, selalu berpijak pada kalam Asy’ari.

 

Ilmu mantik  yang umum digunakan para filsuf, oleh Imam al-Ghazali sekadar menjadi sarana penguat argument Asy’ari. Seperti ulama kalam lainnya, Ghazali menggunakan mantik yang telah dimodif dan tidak lagi membaur dengan paham filsafat Yunani yang dianggap bertentangan dengan akidah Islam.  Lebih jauh lagi, oleh Imam Ghazali, terminology dalam ilmu mantik mulai disusupi dengan terminology ilmu ushul. Sayangnya, usaha Ghazali untuk merombak beberapa terminology mantik ini tidak disambut oleh para pakar mantik atau ulama kalam.

 

Tentu ini berbeda dengan Ibnu Sina yang masih menggunakan mantik Aresto secara orisinil. Berbagai pandangan filsafat Aresto yang terdapat dalam ilmu mantik, masih diterima oleh Ibnu Sina dengan baik. Contoh sederhanya terkait dengan istilah al-Jauhar (atom). Bagi ibnu Sina, semua wujud dapat disebut sebagai atom baik yang sifatnya fisik (nampak/katsif) atau metafisik (tidak Nampak/latif).  Dari sini, Ibnu Sina menganggap bahwa Tuhan dapat disebut dengan al-jauhar.

 

Berbeda dengan al-Gazali yang berpendapat bahwa al-Jauhar (atom) hanya dapat dinisbatkan kepada makhluk saja atau wujud selain Tuhan. Sementara untuk Tuhan, karena ia bukan benda, maka ia tidak dapat disebut sebagai al-jauhar (atom).

 

Apa yang disampaikan oleh Imam Ghazali, sesungguhnya tidak berbeda dengan apa yang disampaikan oleh ulama kalam sebelum Ghazali. Pandangan terkait alam raya yang mahluk, melihat hubungan alam raya dengan Tuhan sebagai pencipta dengan Tuhan, alam raya muncul dari ketiadaan, seluruh benda dalam alam raya terdiri dari atom, namun Tuhan bukanlah atom dan lain sebagainya, juga diungkapkan oleh Imam Haramain, Imam Baqilani, Ibnu Furaq dan lain sebagainya. Mereka-mereka adalah para ulama kalam madzhab Asyari sebelum Ghazali.

 

Bukan hanya ulama kalam Asyari, pendapat tadi juga diamini oleh para ulama kalam dari kelompok lain. Qadhi Abdul Jabbar dan muridnya Husain Al-Basri adalah dua ulama kalam yang senada dengan apa yang disampaikan oleh para ulama kalam Asyari. Padahal dua ulama besar ini beraliran Muktazilah.

 

Sesungguhnya antar sesame ulama kalam, secara prinsip mempunyai banyak kesamaan pandangan. Mereka sama-sama mencounter paham filsafat dan non muslim. Persamaan ini muncul karena mereka bergerak dari episteme yang sama, yaitu berangkat dari nas. Merkea juga sama-0sama menggunakan logika Aresto, sekdar sebagai alat bantu dalam berdebat dan berargumen. Perbedaan antar kelompok kalam, sesungguhnya adalah perbedaan yang sifatnya sangat particular (jus’iy).

 

Maka ilmu kalam dengan berbagai alirannya sesungguhnya saling terkait. Menghidupkan pemikiran kalam, dengan mengkaji kalam Ghazali, sama artinya kembali kepada kalam Asyari. Dengan kata lain bahwa ketika kita ingin mendalami pemikiran imam Ghazali, maka idealnya kita membaca dan menelaah alur pemikiran kalam Asyari secara umum. Ghazali dengan kalam Asyari adalah satu-kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

 

Dengan menelaah pemikiran Asyari, kita akan melihat berbagai perkembangan dan model penulisan. Kalam Asyari mutaakhirin, khususnya pasca Ghazali menjadi sangat filsafat. Bahasan kalam hamper tidak dapat diisahkan dengan bahasa filsafat secara umum. Tentu dengan perbedaan mendasar karena perbedaan epistem tadi.

 

===============

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open