Thursday, August 16, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Fujur dan Takwa Menurut Mutakalimun

takFujur adalah perbuatan buruk dan prilaku yang bertentangan dengan syariat. Kebalikan fujur adalah takwa, yaitu kebenaran dan segala tatanan yang disyariatkan Allah. Tentang fujur dan takwa ini, dalam al-Quran, Allah berfirman:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Artinya: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia sifat fujur dan takwa.

 

Lantas bagaimana pandangan mutakallimun terhadap ayat di atas?

Menurut Qadhi Abdul Jabar Muktizilah, dan pendapat yang dinisbatkan kepada Imam Ja’far Shadik dari kalanga Syiah menyatakan bahwa Allah memberikan ilmu dan pemahaman kepada manusia, mengenai hal-hal yang bersifat buruk dan baik. Kemudian Allah memberikan kebebasan mutlak kepada manusia untuk memilih, mana yang baik dan buruk sesuai dengan sifat ikhtiyari (kemampuan memilih) yang telah diberikan Allah kepada manusia. Jika ia memilih perbuatan baik, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, Namun jika ia memilih perbuatan buruk, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka

Menurut kelompok Jabbariyah, bahwa Allah telah memberikan ketakwaan dan keburukan kepada setiap hamba-Nya. Artinya, ada hamba yang sudah diberi ketakwaan dan ada hamba yang sudah diberi sifat fujur. Perilaku hamba sudah ditentukan oleh Allah. Tugas manusia hanya menjalankan apa yang sudah digariskan oleh Allah

Abu Ishak al-Isfiraini dari Ahlu Sunnah bahwa Allah telah menunjukkan kebaikan dan keburukan kepada hamba. Kemudian, dengan sifat ikhtiyariyah yang telah diberikan, kepada manusia, maka manusia mempunyai pilihan. Hanya saja, sifat ikhtiyariyah tersebut, tidak independen. Ia bisa mempengaruhi suatu perbuatan, dengan kehendak Allah. Sederhananya, bahwa manusia mempunyai kehendak (sifat ikhtiyari), hanya saja, manusia tidak dapat berkehendak, kecuali atas kehendak Allah.

 

 

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open