Thursday, September 20, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Fikih Kebinekaan Memang Harus Digugat

Pada bulan Agustus 2015, Maarif Institute menerbitkan buku “Fikih Kebinekaan”. Buku ini merupakan kumpulan tulisan para intelektual Muhammadiyah. Mereka adalah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Drs. Lukman Hakim Saifuddin, Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A., Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE., Dr. Hamim Ilyas, Dr. Zakiyuddin Baidhawy, Dr. Muhammad Azhar, Hilman Latief, Ph.D., Dr. Zuly Qodir, Dr. M. Tafsir, Dr. Hendar Riyadi, Dr. Muhammad Sabri AR., Dr. Biyanto, Dr. Yudi Latif, Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, dan Wawan Gunawan Abdul Wahid, Lc., M.A.

Tema yang dibahas terbagi menjadi empat bahasan besar, yaitu landasan filosofis fikih, fikih kenegaraan dan kewarganegaraan, fikih masyarakat dan kemanusiaan, dan fikih kepemimpinan dalam masyarakat majemuk.

Adapun tujuan penulisan buku, seperti yang tertulis pada pendahuluan buku adalah sebagai berikut, “Ketika “fikih” disandingkan dengan “kebinekaan”, yang kemudian menjadi judul buku ini, maka maknanya adalah pandangan tentang keanekaragaman atau rumusan sikap kaum muslim dalam menghadapi keberbedaan. Tentu saja, tujuan dari fikih kebinekaan bukanlah untuk membuat keseragaman; tidak pula membuat kesamaan pandangan dari pemahaman kaum muslim yang berbeda-beda. Semangat dari Fikih Kebinekaan lebih ditekankan kepada semangat persatuan dan persaudaraan, serta semangat untuk menjunjung prinsip keadilan dan kemanusiaan yang
didasarkan pada ajaran Islam yang tertuang dalam al-Quran, hadis, serta hasil ijtihad”.

Dari judulnya, saya penasaran. Apalagi judul yang disematkan adalah tentang fikih. Bayangan saya, jika bicara fikih tidak akan lepas dari metodologi ijtihad dan menjadikan al-Quran dan sunnah nabi sebagai pijakan dalam menggali berbagai kesimpulan hukum fikih.

Banyak informasi berharga dalam buku ini. Dari sekian tulisan, ada beberapa kritikan terhadap kajian keislaman dan turas Islam, terutama yang ditulis oleh Amin Abdullah, Hamim Ilyas, dan Muhammad Azhar. Namun menurut pandangan kami, tidak sesuai dengan fakta seperti dalam realitas sejarah dan turas Islam.

Di tambah lagi dengan pisau analisis Barat (baca: hermeneutika-dekonstruksi) untuk mengkaji teks al-Quran, sehingga menimbulkan kerancuan dan pandangan kontraproduktif. Penggunaan hermeneutika dalam kajian al-Quran seperti yang tercantum dalam buku tersebut, menghasilkan pemikiran yang bertolak belakang dengan ijtihad baku para ulama klasik. Fatalnya adalah pandangan relativitas kebenaran dan menganggap hasil ijtihad para ulama secara keseluruhan merupakan hasil interpretasi manusia yang mungkin benar dan mungkin salah. Relativitas kebenaran tanpa melihat pada standar ijtihad ulama ushul, dapat berakibat sangat fatal karena akan mendekonstruksi pemikiran Islam secara keseluruhan, termasuk keyakinan mendasar bagi umat Islam terkait dengan konsep tauhid dan ibadah mahdah.

Saya memandang bahwa pemikiran seperti ini, jika dibiarkan akan berbahaya. Ijtihad sekadar menjadi justifikasi untuk meruntuhkan ajaran Islam. Ruang-waktu dan konteks sejarah teks menjadi “Tuhan baru” yang dapat dijadikan sebagai alasan mendasar untuk mengubah hukum syariat dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Pembaca teks dianggap mempunyai otoritas mutlak untuk memaknai kandungan teks.

Dari sini kami merasa punya tanggung jawab untuk untuk meluruskan pandangan di atas. Kami membongkar langsung turas Islam dari sumbernya untuk disampaikan secara obyektif sebagai bukti empiris untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka tuding mengenai turas Islam, tidak sepenuhnya benar. Kami juga menyampaikan persoalan mendasar yang sudah menjadi kesepakatan ulama (ijmak) terkait pemahaman teks. Dari sini kita dapat mengetahui, mana hasil ijtihad yang boleh diinterpretasi ulang dan mana yang tidak diperbolehkan serta alasan mendasar terkait standar tadi.

Dalam mengcounter buku fikih kebinekaan, kami sampaikan tulisan atau paragraf yang terdapat dalam buku tersebut yang kami anggap tidak sesuai, kemudian kami counter sesuai dengan pengetahuan pendek kami. Modelnya seperti manhaj jadal yang umum digunakan oleh para ulama klasik, namun dalam format yang berbeda. Model counter seperti ini kami pelajari dari para ulama besar seperti Ghazali, Ibnu Rusyd, Zamahsyari, Imam Amidi, Ibnu Taimiyah, dan lain sebagainya.

Kami menggunakan pijakan ushul fikih dan kalam Asy’ari untuk menganalisa pendapat para penulis. dalam buku ini akan Anda temukan banyak kaedah ushul atau kaedah fikih. Sementara untuk kalam Asy’ari, kami gunakan dalam memandang al-Quran sebagai kalamullah yang azal, sebagai counter atas anggapan tentang al-Quran yang dianggap sebagai produk budaya.

Sesungguhnya masih ada pendapat lain di luar tiga tokoh intelektual yang pendapatnya kontraproduktif. Hanya saja, kami mencukupkan diri pada tiga pemikir tersebut karena banyak terkait dengan fundamental ajaran Islam.

Melihat berbagai ungkapan dalam buku Fikih Kebinekaan, memang menjadi tanggungjawab moral untuk menggugatnya. Kandungan dari tiga pemikir tadi, layak untuk dikaji ulang sehingga menjadi penyeimbang bagi pembaca. Alhamdulilalah buku Menggugat Fikih Kebinekaan telah terbit. Bagi yang terminat silahkan hubungi Bapak Halim dg no telp/wa: 0818266026

==================================

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open