Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Epistemology Keilmuan Islam Klasik Masih Bersifat Eksklusif

fdsagh

 

 

Seri Counter Buku Fikih Kebhinekaan. Artikel ke-28

Dalam buku fikih kebhinekaan halaman 103, Muhammad Azhar menulis sebagai berikut:

 

Keempat, epistemology keilmuan Islam klasik masih bersifat eksklusif dalam studi keislamannya. Dengan kata lain, Islamic studies belum banyak berdialektika dengan sosial sciences sebagaimana yang pernah dipelopori Ibnu Khaldun/dkk; atau natural sciences sebagaimana di dalami oleh Ibnu Sina (Avicenna), dan lainnya, dan humanities seperti kajian filsafat, psikologi dan sejenisnya. Jadi, masih monodisiplin, belum multi disiplin.

 

Sejak awal, umat Islam sanagt terbuka dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Umat Islam tidak pernah melihat, apakah suatu cabang ilmu berasal dari Rahim umat Islam sendiri dari bangsa lain. Ini terbukti dengan penerjemahan buku-buku keislaman yang sudah dimulai sejak masa bani Umayyah, yaitu masa Abdul Muluk bin Marwan (26 H – 86 Hـ / 646 – 705 M). Di masa ini, buku-buku kimia, astronomi dan dan kedokteran mulai diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Bukan hanya dari bahasa Yunani, namun juga dari bahasa Persia, india, Siryani dan lain sebagainya. Di masa itu, terkenal para penerjemah handal dari berbegai bahasa, misal Masir Juwaih (99-101 M- 717-720), adalah penerjhemah dari bahasa siryani. Ia adalah orang Yahudi yang dekat dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau banyak menerjemahkan buku-buku kedokteran dari siryani ke Arab. Abu Yazin Hunain bin Ishaq  (194-260 H/ 873-810 M)  seorang beragama Kristen Sryani. Ia juga pandai berbahasa Yunani. Ia banyak menerjemahkan berbagai buku Siryani dan Yunani ke dalam bahasa Arab, khususnya terkait dengan filsafat dan kedokteran. Di antara buku yang telah diterjemahkan adalah Buku karya Plato terkait dengan filsafat. Di masa al-Makmun, ia mendapat mandate sebagai ketua Baitul Hikmah, sebuah lembaga pusat penerjemahan berbegai buku dari  berbagai basaha dunia.

Abu Hasan Tsabit bin Qarrah, ia pandai Arab, berbahasa Siryani, Yunani dan Ibrani. Ia banyak menerjemahkan buku-buku matematik. Logika, geogrfafi, filsafat dan kedokteran.

 

Masih banyak lagi para penerjemah handal yang turut andil mengalihbahasakan berbagai cabang keilmuan dari bangsa lain ke dalam bahasa Arab. Penerjemahan berbagai macam cabang keilmuan lantas berkembang pesat, khususnya pada masa khalifah bani Abbas.

 

Dari penerjemahan besar-besaran ini, pada akhirnya umat Islam mampu menguasai berbagai cabang keilmuan bahkan dikembangkan sehingga munculul banyak penemuan baru. Umat Islam banyak punya ilmuan sains dan social, Muhammad al-Fazari, Al-Khwarizmi, Ja’far bin Muhammad Abu Ma’shar al-Balkhi, Al-Farghani, Banu Musa, Ja’far Muhammad bin Musa bin Syakir, Ahmad bin Musa bin Syakir, Al-Hasan bin Musa bin Syakir, Al-Majriti, Muhammad bin Jabir al-Harrani al-Battani, Al-Farabi , Abd Al-Rahman Al Sufi, Abu Sa’id Gorgani, Kushyar bin Labban, Abu  Ja’far al-Khazin, Al-Mahani, Al-Marwazi, Al-Nayrizi, Al-Saghani, Al-Farghani, Abu Nasr Mansur, Abū Sahl al-Quhi , Abu-Mahmud al-Khujandi, Abu al-Wafa’ al-Buzjani, Ibnu Yunus, Ibnu al-Haitsam, Abu Rayhan al-Biruni, Ibnu Sina, Abu Ishaq Ibrahim al-Zarqali, Omar Khayyám, Al-Khazini, Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail, Nur Ed-Din Al Betrugi , Ibnu Rusyd, Al-Jazari, Syarafuddin ath-Thusi, Anfari, Mo’ayyeduddin Urdi, Nashiruddin ath-Thusi, Quthbuddin asy-Syirazi, Ibnu asy-Syatir, Syamsuddin al-Samarqandi, Jamshid al-Kashi, , Taqiyuddin Muhammad bin Ma’ruf, Ahmad Nahavandi, Al-Kindi , Al-Majriti, Ibn Miskawayh dan masih banyak lagi.

 

 

Mereka adalah para dokter, fisikawan, pakar geografi, biologi, astronomi, filusuf, pakar optic, dan deretan cabang ilmu lainnya. Dalam ilmu-ilmu social pun, se 1. Muhammad ibn Jarir Abu Jafar Attabari (838-923 M), Abul Hasan Ali ibn Husain Almas’udi, Ibnu Khaldun, Abu Abdullah Muhammad ibn Abdullah Allawati Attanj, Sulaiman Almahiri dan masih banyak lagi.

 

Buku-buku karya mereka hingga saat ini masih terjaga rapi di berbagai perpustakaan dunia. Jadi, jejak peninggalan mereka masih ada dan menjadi bukti outentik mengenai peradaban Islam masa lalu yang tidak hanya terfokus pada ilmu-ilmu agama saja, namun juga berkembang ke cabang ilmu lain termasuk sains dan social.

 

Apakah dengan realita seperti ini, kita masih mengatakan bahwa keilmuan Islam klasik masih bersifat eksklusif dalam studi keislamannya?

 
======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open