Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Epistemologi Lama Ketinggalan Zaman?

sekuler-attarturk

Seri Counter Fikih Kebhinekaan. Artikel ke 33.

Di halaman 107, beliau mengatakan:

Urgensi epistemology Islam kontemporer ini terletak pada pentingnya upaya untuk mengkonktekstualisasi interpretasi keislaman sehingga tidak tertinggal jauh dengan perubahan social yang terus terjadi.

 

Ia juga berkata:

“Bila ditarik ke wilayah filsafat keilmuan Islam menjadi, “Buatlah epistemology Islam yang baru, karena yang lama sudah tidak sesuai dengan zaman kini dan mendatang

 

 

Mari kita lihat:

Sebelumnya pernah kami sampaikan bahwa peradaban Islam bertumpu dari teks. Sebelum Islam datang, Arab (baca: Mekkah Madinah) bukan wilayah yang diperhitungkan dalam percaturan politik global. Peradaban Arab jauh tertinggal dengan peradaban lain di zamannya seperti Romawi dan Persia.

 

Setelah Rasulullah diutus dengan membawa kitab suci al-Quran, terdapat perubahan yang luar biasa. Terdapat revolusi besar-besaran di dunia Arab dari semua aspek kehidupan. Perubahan itu, bermula dari perubahan dalam memandangn Tuhan dan ciptaan-Nya.

 

Dengan kemampuan yang dimiliki, umat Islam mengalami loncatan. Hanya dalam jangka waktu 23 tahun, yaitu sejak Muhammad diutus menjadi nabi hingga beliau wafat, kekuasaan Islam sudah sangat luas. Sebagian besar Jazerah Arab sudah masuk dalam pangkuan umat Islam. Wilayah-wilayah yang dulu menjadi kekuasaan Romawi, pelan-pelan tunduk kepada negara Islam. Tidak lama kemudian, yaitu pada masa Umar bin Khatab, Kekaisaran Persia yang sangat tersohor dan bertahan ratusan tahun, pada ahirnya dapat digulung.

 

Umat Islam tidak hanya maju dalam sistem politik dan pemerintahan, tidak hanya luas wilayah kekuasaannya, namun dibarengi dengan kemajuan keilmuan yang luar biasa. Peradaban Islam menjadi poros peradaban dunia. Berbagai tegnologi modern di zamannya ditemukan oleh para ulama Islam.

 

 

Beberapa abadad terakhir, dunia Islam mengalami kemunduran, baik dari sisi keilmuan maupun kekuatan politik. Bahkan kekhalifahan Islam yang menjadi simbul persatuan umat, telah dibubarkan. Umat Islam tercabik-cabik menjadi lebih dari 50 negara.

 

 

Banyak upaya para ilmuan muslim yang mencari sebab kemunduran umat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa umat mundur karena tidak mengikuti strategi yang dilakukan oleh Barat. Jika ingin maju, maka apapun yang dilakukan Barat harus diikuti juga. Inilah model modernisasi Thaha Husain dan diresmikan dalam tataran konstitusi negara di Turki oleh Mustafa Kamal Atartuk.

 

 

Barat maju, setelah melepaskan doktrin gereja dari politik dan kehidupan sehari-hari. Barat dapat mencapai peradaban mdern yang bercirikan rasionalistik dan positifisktik, setelah melakukan sekularisasi dalam segala aspek kehidupan. Agama mejadi domain Gereja, sementara ilmu pengetahuan menjadi domain para saintis.

 

 

Pengalaman Barat inilah yang mengilhami Thaha Husain dan Mustafa Kamal untuk bangkit dari keterpurukan. Mereka mempromosikan kehidupan model Barat. Mustafa Kamal sendiri mendirikan negara Turki modern dengan merubah Turki dari sistem Khilafah menjadi negara sekuler. Bukan hanya negara, budaya Turki dibaratkan. Tulisan yang dulu menggunakan huruf Arab, lantas diganti dengan latin. Busana sehari-hari meniru perkembangan busana Barat. Tata kehidupan masyarakat dibaratkan hingga jilbab saja diharamkan.

 

Secara konsep, Mustafa kamal didukung oleh Ali Aburrazik yang menuliskan buku al-islam wa ushulul Hukmi. Buku itu ditulis tahun 1926, yaitu dua tahun setelah pembubaran khalifah Utsmaniyah. Dalam buku itu, Ali Abdurrazik menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara negara dengan agama. Beliau penopang model negara sekulernya Mustafa Kamal.

 

 

Langkah Mustafa Kamal dengan negara sekulernya yang berkiblat ke Barat ini ternyata diikuti oleh banyak negara Islam. Pada akhirnya, negara-negara Islam banyak menjadi negara sekuler. Agama disingkirkan dari negara. Agama sekadar ibadah prifat yang terkait interaksi antara individu dengan Tuhan. Agama dicampakkan dari kehidupan bermasyarakat.

 

 

Setelah Turki dan dunia Islam sukses melakukan proses sekularisasi model Barat, apakah kemudian negara-negara Islam bangkit dan maju? Apakah negara-negara Islam setara dengan Barat? Peradaban Islam berkembang seperti Barat?

 

 

Kenyataannya tidak. Pengalaman puluhan tahun Turki, hanya menghasilkan kegagalan. Turki justru bangkit, dikala dipimpin oleh para politisi berhaluan Islam dan pelan-pelan melepaskan diridari cengkeraman negara sekuler.

 

 

Bagaimana dengan nasib negara Islam yang lain? Ternyata sama. Tidak ada yang sejajar dengan negara Barat. Padahal mereka telah banyak menghapus nilai-nilai keislaman diganti dengan tata nilai layaknya orang Barat. Budaya yang berkembang adalah budaya Barat, bukan budaya yang berasal dari warisan nenek moyang kita yang muslim.

 

Kenyataannya, yang terjadi malah sebaliknya. Secara ekonomi dan politik, umat Islam semakin tidak independen. Umat Islam mengalami ketergantungan luar biasa dengan Barat. Bisa dikatakan bahwa dunia Islam dalam cengkeraman imperalis Barat dalam bentuknya yang berbeda. Umat Islam Islam terjajah secara politik, ekonomi dan budaya. Di beberapa wilayah, umat Islam bahkan terjajah secara militer. Lihat saja misalnya di Irak dan Afganistan. Militer AS masih berkeliaran di sana.

 

 

Padahal umat Islam telah meninggalkan teks. Umat telah beralih dari epistemologi yang berbasik al-Quran kepada epistemologi Barat yang materialis dan positifistik. Namun mengapa kemajuan peradaban juga tidak dapat diraih? Lantas epistemologi yang bagaimana yang dimaksudkan dengan Muhammad Azhar dengan pernyataannya:

 

“Bila ditarik ke wilayah filsafat keilmuan Islam menjadi, “Buatlah epistemology Islam yang baru, karena yang lama sudah tidak sesuai dengan zaman kini dan mendatang”.

 

Sesungguhnya umat Islam mundur bukan karena epistemologi para ulama yang dianggap oleh Muhammad Azhar telah klasik dan ketinggalan zaman itu. Kemundura umat lebih karena ketidakmampuan umat Islam menerapkan spirit dan kandungan al-Quran. Umat jauh dari al-Quran, maka umat mengalami kemunduran. Umat dekat dengan al-Quran, maka umat mengalami kemajuan.

 

Pengembangan ilmu pengetahuan dengan melakukan penelitian ilmiah adalah spirit al-Quran. Banyak sekali ayat al-Quran dan hadis nabi yang menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu. Bahkan ayat pertama yang turunpun, adalah ayat tentang ilmu.

“Bacalah dengan atas nama Tuhanmu”

 

Tuntutlah ilmu, namun jangan lupa dengan Tuhanmu.  Karena Tuhan yang memberikan ilmu pengetahuan kepada umat manusia. Jangan menjadi manusia sekuler yang memisahakan ilmu dengan Tuhan. Jangan menjadi manusia positifisktik yang hanya percaya dengan penelitian ilmiah yang sifatnya emiris. Jangan menjadi manusia materialis yang hanya percaya dengan sesuatu yang bersifat materi, sementara yang non materi dan kasat mata, dinafikan dan dikeluarkan dari obyek ilmu pengetahuan.

 

 

Dengan model iqra seperti ini, ulama Islam mengalami kemajuan luar biasa. Peradaban Islam maju dan tetap menjungjung tinggi nilai ketuhanan. Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Abu Ali Annadawi dan masih banyak ulama besar lainnya yang berpendapat bahwa kemunduran umat, bukan karena agamanya. Bukan juga karena para ilmuan muslim menjadikan al-Quran sebagai basic epistemology. Kemunduran umat lebih didominasi sikap umat yang jauh dari spirit nilai-nilai al-Quran.

 

 

Jika menjadikan al-Quran sebagai basic epistemology dianggap klasik dan ketinggalan zaman, tentu peradaban Islam tidak akan pernah ada. Namun kenyataannya tidak. Umat Islam mampu memegang peradaban dunia selama ratusan tahun. Bahkan para ilmuan Barat, banyak yang berguru kepada para ilmuan Islam. Contohnya adalah al-Idrisi yang menjadi Guru Besar di Saqaliyah, yang waktu itu dibawah kepemimpinan Kristen.

 

 

Kesimpulannya, untuk mengejar ketertinggalan, tidak perlu kita meninggalkan al-Quran dengan beralih kepada episteme model Barat, karena telah terbukti mengalami kegagalan. Kembalilah ke pangkuan Islam, niscaya peradaban Islam yang pernah jaya ratusan tahun, akan dapat kembali diraih umat islam. Wallahu a’lam

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

4 × two =

*