Friday, July 28, 2017
Artikel Terbaru
 border=

Dosen Keilmuan Islam Harus Punya Proyek Pemikiran Komperhensif

fdsaghh

 

Beberapa hari ini, di WAG Himpunan Ilmuan Muhammadiyah mendiskusikan mengenai sarana untuk meningkatkan mutu SDM dari perguruan tinggi Muhammadiyah. Salah satu caranya dengan memberikan dorongan kepada para dosen untuk menuliskan kajian riset ilmiah di jurnal internasional terscopus. Tentu akan sangat bergengsi dan diakui dunia, jika banyak dosen Muhammadiyah yang meneliti dan bisa tembus jurna terscopus. Secara tidak langsung, bisa dijadikan sebagai ukuran mengenai kualitas SDM Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).

 

Hanya saja perlu digarisbawahi bahwa terdapat perbedaan karakteristik antara ilmu humaniora dengan sains, khususnya terkait kajian keislaman (Islamic studies). Ilmu-ilmu eksakta, dapat dibuat rumusan pendek dengan menampilkan pokok pikiran saja. Jadi, seperti yang sering diungkapkan Kyai Guspur, dalam kajian eksakta yang sangat luas, dapat diringkas dengan memaparkaan ide dasar, kemudian disertakan rumusan-rumusan matematik saja. kajian yajg sesungguhnya bisa berjilid-jilid buku, dapat diringkas menjadi tulisan pendek yang bahkan hanya satu halaman saja.

 

Namun jika kita beranjak kepada kajian keislaman, karakteristiknya sangat berbeda. Sangat sulit untuk dapat meringkas detail-detail kajian keislaman menjadi beberapa halaman saja. Kadang detail-detail konsep harus disampaikan secara gamblang. Hal ini, karena kajian keislaman bukanlah kajian model matematik yang bisa dibuat rumus matematik. Kajian keislaman banyak mengandung terminology. Terkadang terminology yang sama, namun karena cabang ilmu yang berbeda, maka makna yang terkandung did alamnya menjadi berbeda. Di sinilah pentingnya mengenal betul terminology dan dicabang ilmu apa terminology itu digunakan.

 

Tidak heran jika kemudian kita melihat para ulama Islam sering menulis buku hingga berjilid-jilid. Imam Suyuthi konon menulis buku sampai enam ratus judul. Imam Nawawi menulis puluhan judul. Setiap judul buku ditulis sampai belasan jilid. Imam Ghazali menulis puluhan buku, demikian juga ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Qadhi Abdul Jabbar, imam Amidi dan sederet ulama besar lainnya.

 

Umumnya, para ulama besar itu, mempunyai rumusan pemikiran komperhensif untuk kemudian mereka membangun sebuah proyek pemikiran. Rumusan komperhensif inilah yang dijadikan sebagai pijakan dalam berbagai pemikiran mereka. Lihat saja misalnya imam Syafii. Beliau menulis satu jilid buku Arrisalah. Buku ini sangat terkenal dan dianggap sebagai buku ushul fikih pertama. Karena ia berupa rumusan pemikiran, maka di dalamnya kebanyakan berupa teori-teori saja. Kita baru dapat melihat praktek dari kitab Arrisalah, manakala kita membuka buku-buku imam syafii lainnya, seperti al-umm.

 

Imam Suyuti menulis dua jilid buku al-Itqan fi Ulumil Quran. Buku ini merupakan rumusan pemikiran beliau untuk meuliskan tafsir al-Quran dan sistem berinteraksi dengan al-Quran. Dalam tataran aplikasi, dapat dilihat dari kitab tafsir jalalain karya beliau. Tafsir Jalalain menjadi buku yang sangat ternama, khususnya di pesantren-pesantren salaf.

 

Ibnu Khaldun menulis buku Mukaddimah sebagai rumusan teoritis terkait ilmu-ilmu sosial. Buku ini bahkan dianggap sebagai buku sosiologi pertama dalam sejarah umat manusia. Di dalamnya terdapat teori-teori sosiologi hasil dari pengamatan beliau dalam melihat fenomena kehidupan masyarakat. Dalam tataran aplikasi, beliau menuliskan buku Tarikh Ibnu Khaldun hingga belasan jilid.

 

 

Ibnu Taimiyah menulis buku Dar’ul Mantiq dan Arraddu Alal Mantiqiyyin. Dua buku ini merupakan counter beliau terhadap ilmu logika Aristetolian. Beliau menulis secara rinci mengenai kelemahan logika Aresto, kemudian memberikan solusi alternatif yang dianggap lebih bermanfaat bagi umat manusia. secara praktis, teori-teori beliau ini dapat dilihat dari buku beliau, Dar’u Ta’arrudi al-Aqli wa Annaqli yang ditulis hingga 11 jilid besar.  Buku ini sangat terkenal karena mencounter filsafat Ibnu Sina dan Ghazali.

 

Bukan hanya ulama klasik, ulama kontemporer pun sama. Hasan Hanafi misalnya, beliau menulis buku Atturas wa Attajdid sebagai rumusan teoritis terhadap pandangan beliau dalam melihat turas Islam dan cara berinteraksi dengan turas. Secara aplikasi, beliau menulis buku lain seperti Minannaqli ilal Ibda’, Minannas ilal waqi, dan lain sebagainya. Buku-buku tersebut selalu mengacu dari rumusan yang telah beliau letakkan sebelumnya dalam kitab atturas wa attajdid.

 

Al-Jabiri misalnya, menulis bnuku Atturas Wal Hadatsah. Buku ini merupakan rumusan metodologis mengenai sistematika berinteraksi dengan turas Islam. Secara aplikasi, kita dapat melihat dari buku-buku beliau yang lain, seperti proyek kritik pemikiran arab yang beliau tulis hingga empat jilid, yaitu Takwinul Aqli Al-Arabiy, Bunyatul Aqli al-Arabi, Al-Aqlu al-Arabi Assiyasi, al-Aqlu al-Akhlaqi al-Arabi.

 

Hanya saja, tidak semua ulama menuliskan rumusan teoritis terkait pemikirannya. Namun demikian dari bacaan buku-bukunya, nampak sekali mengenai rumusan dari dasar pemikiran beliau. Ini bisa dilihat dari Abi Hanifah. Beliau adalah faqih ushuli yang sangat ternama. Dalam sejarah, beliau tidak pernah menuliskan buku ushul fikih Hanafi. Baru kemudian para murid-muridnya, menuliskan buku ushul fikih Hanafi dengan melakukan kajian induktif dari karya-karya beliau ini. Dari sinilah berkembang ushul fikih Hanafi itu.

 

Dr. Yusuf Qaradhawi misalnya, beliau tidak menuliskan buku spesifik tentang ushul fikih. Namun jika dibaca dari karya-karya beliau, di mukadimah buku atau di dalam tulisan-tulisannya, selalu beliau cantumkan mengenai kaedah sesuai dengan perspektif beliau.  Beliau punya proyek Fiqhul Muyassar sehingga fikih beliau terkesan mencari mudahnya dan kadang oleh sebagian orang dianggap talfiq.
Ringkasnya, terdapat perbedaan mendasar antara sains dan humaniora. Sains bisa diringkas dengan mencantumkan ide pokok dan rumus-rumus matematik saja sehingga tulisan bisa disingkat jadi beberapa paragraf. Meski demikian, ia sudah dapat dipahami oleh pembaca dan dapat diaplikasikan dalam tataran praktis.

 

Tentu ini berbeda dengan ilmu humaniora, khususnya ilmu keislaman. Jika diringkas, justru tidak dapat dipahami dengan baik. Oleh karenanya di dalam turas Islam dikenal dengan syarah dan hawasyi, yaitu upaya ulama untuk memerangkan karya ulama lain yang berupa matan atau nadzam. Itu pun hamper tidak ada karya ulama yang ringkasannya hanya beberapa paragraph saja.

 

Karena perbedaan karakteristik ini, maka berinteraksi dengan saintis dan ulama harus dibedakan. Para saintis bolehlah ditargetkan untuk menulis kajian ilmiah di jurnal yang sudah terscopus. Target ini menjadi salah satu pemicu untuk meningkatkan SDM para dosen. Kajian keislaman, harus dilatih untuk mampu merumuskan pemikiran secara komperhensif, untuk kemudian dipraktekkan dalam buku-buku lainnya. Bukan bearti kita menuntut mereka untuk menguasai semua bidang keilmuan, cukup sesuai dengan spesialisasinya, namun dengan rumusan yang jelas. Ada rumusan teoritis, ada pula bangunan dari pemikiran itu. Ia adalah proyek pmikiran secara komperhensif.

 

Untuk menguji terkait konsistensi antara teori dengan praktek, dapat dilihat dari rumusan pemikiran dengan hasil pemikiran yang telah ia tuangkan. Resikonya memang ia akan menulis banyak buku keislaman, dan bukan sekadar riset di jurnal terscopus.  Jadi bagi para dosen keislaman, menulis di jurnal  terscopus bukan lagi menjadi target, namun target utamanya adalah membuat proyek pemikirina komperhensif yang terdiri dari rumusan pemikiran dan aplikasi dari rumusan tadi. Dari sini, SDM dari para “calon ulama” dapat ditingkatkan. Wallahu a’lam

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>