Tuesday, December 12, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Dimanakah Semangat Ilmu Adik-adik IMM?


Hari ini saya baca baris tulisan Kyai Gus Pur, ulama kalam baru Muhammadiyah. Berikut yang beliau tulis:

Gendeng

Kata ini kayaknya benarr sah disematkan padaku.
Khususnya setelah ngaji Epistemologi vs Mukjizat di IMM ITS
Setelah banyak hal saya jalani padahal kata sebagian orang itu tdk mengkin atau harusnya tida saya jalani.
Sebagai contoh saya ke Sragen naik bus, bus biasa lagi bukan Patas.
Berdiri lagi tidak duduk krn mmg tdk dapat tempat duduk.
Tidak mungkin lah itu dijalani orang yg telah beri kuliah di Kuala Lumpur, Paris, Perth, Brisbane, Sydney dan Melbourne.
Tidak mungkin lah aku mendatangi tempat yang sangat sulit untuk berbagi ilmu, pulangnya hanya diiringi salam dan lambaian tangan.

Malam ini terjadi, seorang doktor fisika alumni Jepang
anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PPM
Narasumber utama islamisasi dan integrasi sains-agama di PTAIN Indonesia dan berbagai konferensi internasional
keluar rumah tak peduli gerimis
memandu kajian Epistemologi vs Mukjizat
dan dihadiri lima mahasiswa
ya …hanya lima mahasiswa

Sungguh,
Aku gendeng
Dosen gendeng
Ustadz gendeng
Kyai gendeng
Wong gendeng

Gendeng polll

_—–

Beliau ulama sesungguhnya, ikhlas, tawadhu, sabar dan selalu menyebar ilmu kepada siapapun. Beliau tidak pernah berfikir jabatan, bahkan kehidupan sendiripun tak terpikirkan. Namun beliau bermimpi besar, membangun peradaban islam modern dengan islamisasi ilmu yang langsung fokus pada epistemologi ilmu pengetahuan, bukan sekadar mencocokkan dan menyelaraskan ilmu dengan kitab suci. Bukan sekadar berteori beliau juga menggagas berdirinya pesantren sains yang berada di bawah lingkungan Muhammadiyah dan yayasan beraliran NU.

Ide beliau, mewarisi para ulama kalam terdahulu, yang menjadikan al quran sebagai sumber ilmu pengetahuan dan sebagai pandangan hidup umat manusia. Beliau membuktikan kebenaran Tuhan yang metafisik, melalui alam fisik dengan menggali pada kalam ilahi. Beliau adalah ulama kalam baru Muhammadiyah.

Beliau rela jauh dari Sragen, untuk menebar ilmu kepada adik-adik IMM. Tentu, kita banyak berharap pada IMM. Mereka adalah para mahasiswa yang idealnya punya orientasi keilmuan luarbiasa. Hilanglah ruh kemahasiswaan, jika semangat ilmu telah luntur.

Namun apa daya, meski beliau ulama yang jarang dimiliki bangsa ini, pengajian beliau hanya dihadiri 5 mahasiswa?
Kemanakah ruh keilmuan para mahadiswa itu? Dimanakah semangat mereka menimba ilmu? Dimanakah ide besar membangun peradaban umat itu?

Saya jadi teringat para imam besar yang dimiliki umat ini. Imam bukhari, rela berjalan jauh dari Asia Tengah, menuju suria, Irak, hijaz dan belahan wilayah islam lainnya hanya demi ilmu. Demikian juga dengan imam muslim, imam syafii, imam ahmad bin hambal dan lain sebagainya. Bahkan para imam memilih disiksa atau dioenjara karena mempertahankan ideologi keilmuan. Lihatlah imam ibnu hambal yang dicambuk sang penguasa, atau ibnu Taimiyah yang dipenjara hingga ahir hayatnya. Semua karena memoertahankan ideologi keilmuan.

Ilmu umumnya dicari. Ulama kita berllah lelah untuk ilmu. Sementara itu, ini sang guru besar yang datang untuk menebar ilmu. namun hanya sedikit dan hitungan jari dari siswa Muhammadiyah yang mau menimba ilmu? Ada apa dengan mahasiswa Muhammadiyah? Ada apa dengan IMM?

Kajian keislaman di kalangan IMM nampaknya perlu ditumbuhkembangkan. Mereka bukan politisi, tapi mereka adalah para ideolog negeri yang bercita-cita besar. Jangan salahkan kalangan muda muhammadiyah yang pindah mengaji ke kelompok islam lain, karena dikalangan kita sendiri, kurang mampu memberi tauladan dalam menuntut ilmu.

Semoga yang terjadi sekadar kasus kecil di satu tempat, sementara di tempat lain ghirah keilmuan mahasuswa Muhammadiyah sangat besar. Semoga ini bukan miniatur kondisi IMM yang sesungguhnya. Wallahu A’lam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open