Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Dialog Ilmiah Melalui Buku Fikih Kebinekaan

Fikih-Kebhinekaan-2zrlb28y3lmev8hufo2iv4

Counter fikih kebinekaan. Artikel ke-46.

Penutup

 

Buku fikih kebinekaan ditulis oleh 17 pemikir Islam. Mereka adalah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Drs. Lukman Hakim Saifuddin, Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A., Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE, Dr. Hamim Ilyas, Dr. Zakiyuddin Baidhawy, Dr. Muhammad Azhar, Hilman Latief, Ph.D., Dr. Zuly Qodir, Dr. M. Tafsir, Dr. Hendar Riyadi, Dr. Muhammad Sabri AR, Dr. Biyanto, Dr. Yudi Latif, Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, dan Wawan Gunawan Abdul Wahid, Lc., M.A.

 

Tidak semua tulisan dalam buku ini kontraversi. Banyak juga yang bagus seperti apa yang ditulis oleh Dr. Syamsul Anwar, M.A. Oleh karenanya, saya tidak mencounter seluruh pemikiran dalam buku ini. Saya hanya mencounter dari tiga pemikir, yaitu Amin Abdullah, Hamim Ilyas dan Muhammad Azhar. Mereka saya anggap mempunyai kelemahan sangat fatal dan dapat berakibat buruk terhadap bangunan pemikiran Islam secara umum. Selain mereka, masih ada pendapat kontraversi, seperti terkait kepemimpinan non muslim. Hanya saja, terkait hal ini sudah banyak yang memberikan tanggapan. Saya menulis sisi lain yang belum ditanggapi oleh banyak orang.

 

Tiga pemikir yang saya counter, sesungguhnya mempunyai corak pemikiran yang sama. Ketiganya sama-sama gandrung dengan pembacaan teks yang menggunakan pisau analisis hermeneutika. Mereka bertiga mengkaji teks dan turas Islam dengan mengesampingkan metodologi ijtihad yang umum digunakan oleh para  ulama.

 

Mereka juga melakukan serangan terhadap turas Islam secara tajam. Sayangnya, serangan-serangan tersebut, tidak didasari dari hasil penelitian sendiri, namun sekadar mengekor dari hasil analisis para sarjana Barat. Terbukti bahwa Amin Abdullah dan Muhammad Azhar sama sekali tidak menjadikan literature klasik (baca:turas Islam) sebagai rujukan baik primer atau sekunder. Sikap kritik turas tanpa rujukan turas adalah kesalahan penelitian yang sangat fatal.

 

 

Kekacauan penulisan, dialami oleh Amin Abdullah. Di samping terjadi problem masalah literatur, beliau juga mengalami problem metodologi. Beliau mencampuradukkan antara ushul fikih dan hermeneutika, terutama yang aliran dekonstruksi.  Fatalnya lagi, ushul fikih yang dipakai oleh amin Abdullah adalah sekadar justifikasi saja, namun substansinya sesungguhnya bukan ushul fikih. Beliau lebih kuat dengan hermeneutikanya.

 

Benar bahwa beliau banyak menggunakan istilah maqashid syariah, namun substansi maqashid syariah sangat berbeda dengan apa yang ditulis oleh para ulama Islam seperti Syathibi, Iz Ibnu Abdussalam, Ghazali, Imam Haramain dan lainnya. Beliau juga sering merujuk teori maqashid syariah Jaser Audah. Setelah saya rujuk langsung teori maqashid Jaser Audah, ternyata berbeda dengan pemahaman Amin Abdullah.

 

Dalam ilmu maqashidnya, Jaser Audah tetap memperhatikan standar ilmu ushul fikih. Beliau tetap mengacu pada teori-teori ulama terdahulu seperti Syathibi dan lainnya. Dengan standar tersebut, Jaser Audah tidak menabrak teks dan memaknai teks sesuai pemahaman subyektif dengan justifikasi realitas kontemporer yang berbeda. Jaser Audah tetap menjadikan al-Quran sebagai basic keilmuan Islam. Beliau jug amenjadikan turas Islam sebagai pijakan dalam pemikiran keislaman kontemporer. Kita bisa melihat dari rujukan yang digunakan oleh Jaser Audah, umumnya adalah kitab-kitab turas Islam. Jadi, tidak ada dekonstruksi turas, apalagi sampai dekonstruksi teks. Dekonstruksi teks adalah paham yang sangat berbahaya dalam pemikiran Islam kontemporer, karena dapat meluluhlantakkan hukum Islam yang paling fundamental.

 

Hamim Ilyas juga jatuh di kubang yang sama. Beliau tidak mempunya metodologi yang jelas. Kadang merujuk pada teori hermeneutika, kadang ulumul Quran. Akibatnya tulisannya berantakan dan tidak nyambung antara premis dan konklusi. Secara literatur, lebih baik dari Amin Abdullah. Beliau masih menggunakan literatur turas di samping literature kontemporer.

 

Idealnya dalam sebuah penulisan, ada kejelasan landasan metodologi sehingga ada korelasi yang jelas dan terstruktur antara premis dan konklusi. Sementar beliau tumpang tindih. Kesannya justru copas sana sini untuk kemudian menjadi sebuah tulisan yang sulit dipahami.

 

Untuk Muhammad Azhar, beliau banyak menyalahkan turas Islam, namun tidak meneliti langsung turas Islam. Beliau hanya menukil pendapat dari pemikir lain. Rujukan primer yang sejatinya dijadikan pijakan, justru tidak ada sama sekali.

 

Dalam penulisannya, beliau juga tidak jelas menggunakan metodologi apa. Beliau terkesan copy paste dari pemikiran orang sehingga pemikirannya tidak orisinil. Dalam konklusinya pun, sekadar memberikan petunjuk kepada kita untuk membaca buku-buku karya pemikir kontemporer.

 

Mestinya beliau bertanggungjawab terhadap apa yang beliau tulis. Bukti tanggungjawab ilmiahnya adalah ketika melakukan kritik, maka harus berani memberikan solusi, bukan lempar batu sembunyi tangan.

 

 

Melihat pemikiran dari tiga penulis di atas, saya berkesimpulan bahwa ada jiwa latah yang menjangkiti para sarjana Islam kontemporer, khususnya yang berada di tanah air. Kita mudah gumunan dengan pemikiran baru yang datang dari Barat.

 

 

Sesungguhnya turas islam sangat kaya. Kita dapat menemukan butiran mutiara yang sangat berharga dari turas kita. Sayangnya banyak dari pemikir kita yang ogah dan mencari instannya saja. Turas dibiarkan saja, bahkan diserang habis-habisa, supaya orang meninggalkan turas dan menggunakan piranti lain yang belum tentu sesuai dengan karakter teks al-Quran dan sunnah.

 

 

Oleh karenanya, sangat baik jika mahasiswa kita dan para santri dibiasakan untuk terjun langsung mendalami turas islam. Para santri dibekali metodologi ijtihad seperti yang telah diletakkan oleh para ulama. Para santri dibiasakan riset ilmiah dengan membuka tumpukan kitab kuning peninggalan ulama klasik.

 

Jika dari hasil bacaannya secara langsung memunculkan pertanyaan kepada turas, pertanyaan benar-benar muncul dari dirinya dan hasil penelitiannya sendiri secara independen. Ia bisa mempertanggungjawabkan pendapatnya di depan public. Data-data primer dapat dia pegang. Penelitian seperti ini akan dapat membangkitkan gairah intelektual di tanah air.

 

 

Para santri, selain harus menguasai metodologi Islam klasik, tentu juga harus paham dengan pisau analisis pembacaan teks yang datang dari Barat. Dengan demikian, jika ada sesuatu yang baru, ia tidak kaget dan dapat bersikap sebagaimana mestinya. Ia tidak menjadi santri yang gumunan. Turas islam dan pemikiran Islam kontemporer ia kuasai dengan baik.

 

 

Counter buku fikih kebinekaan sekadar sebagai pematik bagi kita semua untuk dapat berdialog pemikiran secara terbuka. Kita tidak menyalahkan atau bahkan mengkafirkan pendapat yang berbeda dengan satu dua kata, atau dengan menyebar meme dan spanduk yang justru kontra produktif. Pemikiran hendaknya dibalas dengan pemikiran juga, layaknya Ghazali mencounter Ibnu Sina, atau Ibnu Rusyd mencounter pemikiran Ghazali, atau Ibnu Taimiyah mencounter pemikiran Ghazali. Jika pemikiran dibalas dengan pemikiran, nisyaka akan meningkatkan keilmuan umat Islam. Dialog pemikiran dabat dibangun secara lebih bersahabat. Wallahu a’lam

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open